Akhir Sebuah Penantian (bagian 2)

Posted on

Pagi hari aku terbangun oleh kicauan burung. Tubuhku masih terasa penat, setelah seharian kemarin menempuh perjalanan jauh dengan makhluk paling menyebalkan di dunia. Aku menempati sebuah kamar yang terletak tak jauh dari markas, sebutan untuk kantor. Aku tak tahu berapa luas keseluruhan tempat ini. Soalnya, kemarin aku belum sempat keliling.

Yang kutahu, di kompleks ini ada sebuah bangunan utama yang dipergunakan sebagai kantor dan ruang pertemuan. Di sayap kiri dan kanan ada bangunan tambahan yang berbentuk paviliun-paviliun. Ada yang dipergunakan sebagai tempat praktik dokter, ruang operasi, ruang pemulihan untuk memulihkan kondisi binatang-binatang yang sakit, dan kamar untuk karyawan pengelola tempat ini. Salah satunya adalah kamar yang kini kutempati. Aku beruntung, karena kamar yang kutempati terletak paling ujung, berbatasan langsung dengan pegunungan di latar belakang sana dan alam bebas.

Mas Rangga sedang duduk mengopi di ruang kerjanya, saat aku menemuinya. Aku sudah mandi dan menikmati sarapan yang kuambil sendiri di dapur. Di sini tak mengenal jam kerja. Setiap jam adalah bekerja. Karena, sewaktu-waktu ada saja binatang yang sakit dan membutuhkan pertolongan anak buah Mas Rangga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

 

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.