Meriah Cap Go Meh di Singkawang Kalimantan Barat dengan Tatung Wanita

SINGKAWANG-Festival Cap Go Meh 2562 di Singkawang berlangsung spektakuler, kemarin (17/2). Kota amoy itu dipenuhi lautan manusia. Pembukaannya dilakukan Gubernur Kalbar Cornelis, dihadiri juga para muspida setempat. Sebanyak 723 Tatung beraksi mengitari jalanan, sembahyang di Vihara hingga memberkati barang-barang lelang di altar. Pelelangan barang yang sudah diberkati Tatung hingga malam hari, menandai akhirnya festival CGM di kota seribu vihara. Hingga pukul sembilan malam kemarin, pelelangan masih berlangsung di altar yang dibangun oleh panitia Festival CGM, di persimpangan Kepol Machmud-Niaga atau sekitar berdirinya tugu naga.

Sejumlah masyarakat masih melihat secara langsung prosesi pelelangan sejumlah barang tersebut. Aparat kepolisian tampak berjaga-jaga guna mengamankan jalannya lelang yang tiap tahun dilaksanakan. Menurut salah satu pembeli, barang yang sudah diberkahi oleh para tatung memiliki khasiat. “Semua orang percaya, ada memperoleh keberuntungan jika membeli barang yang sudah diberkahi oleh para tatung ini,” kata pembeli yang mengaku bernama Ason. Menurut salah satu panitia pelaksana, lelang sejumlah barang ini diprediksi hingga sebelas malam. Saat ini, kata Bong Cin Nen yang juga Sekretaris Panitia Festival CGM 2011, penawaran tertinggi berupa liontin CGM seharga lima puluh sembilan juta sembilan ratus sembilan puluh sembilan rupiah.

Panitia, kata Bong Cin Nen, tidak akan menargetkan berapa besar pendapatan. Jika dana pendapatan besar dari lelang ini, maka panitia akan memberikan sumbangan kepada sejumlah stakeholder yang mendukung suksesnya pelaksanaan CGM kali ini. “Lelang ini nantinya akan menutupi operasional pelaksanaan CGM,” kata dia. Sedangkan lelang yang dilakukan oleh Majelis Tao Indonesia Resort Singkawang, hanya berlangsung hingga pukul enam sore. Ketua MTI Resort Singkawang, Chai Ket Khiong memastikan tahun ini pendapatan dari lelang menurun. Sebab, jalan menuju ke altar ditutup oleh oknum penegak hukum. “Kita ada bukti sehingga tatung tidak bisa memberkahi semua barang yang berada di altar,” kata Akiong kecewa.

Menurut dia, hanya sepertiga dari barang yang tersedia terjual. Barang yang dilelang termahal hanya Rp10 juta yakni lampu pekong untuk melaksanakan ritual. “Pembelinya berasal dari Bodok, Sanggau,” kata Akiong, dihubungi, kemarin. Ketua Tri Dharma, Bong Wui Khong mengakui, mereka tidak menargetkan dalam pelaksanaan lelang. Barang-barang yang dilelang pun hanya sedikit dan pukul empat sore sudah selesai. “Kita hanya menyediakan barang untuk umat saja. Kita tak mengejar target dari lelang itu sendiri. Kita mengedepankan ritual, bukan keuntungan dari pelelangan itu sendiri,” kata Wui Khong. Pendapatan dari lelang, diakui mantan calon wakil wali kota ini, hanya untuk menutupi operasional saja. “Inikan rutinitas ritual. Tak boleh mengambil keuntungan,” kata dia. Dia juga berterima kasih kepada seluruh masyarakat Singkawang yang mengedepankan teloransi beragama. “Kesuksesan ini bukan hanya kita, tapi seluruh masyarakat Singkawang. Mereka memberikan andil terhadap kesuksesan,” kata BWK, biasa namanya disingkat.

Sementara itu, CGM ini memberikan nilai tambah bagi pedagang kecil. Sejumlah pedagang makanan mengaku memperoleh keuntungan. “Karena ramai, tentu jualannya kita cepat habis,” kata salah satu pedagang nasi di Jalan Budi Oetomo, kemarin. Pedagang kacang rebus saja mengaku dua kali memasak kacang. Hasilnya, semuanya ludes. “Cukup lumayan. Ini yang kedua. Pagi tadi banyak saja jual dan habis,” kata pedagang yang sering mangkal di Taman Burung Singkawang ini.

“Alhamdulillah sejak, dimulainya persiapan CGM hasil penjualan makanan jadi meningkat 50 persen lebih banyak dari hari-hari biasanya, dan memang kebanyakan yang beli adalah para tamu-tamu asing atau bukan warga Singkawang,” ujar Rina salah satu penjual makanan jadi di sekitar Jalan Ponegoro. Tidak hanya Rina, Amir yang merupakan penjual es buah yang tak jauh dari arena stand juga mengaku, jika hari-hari biasanya ia hanya mampu mendapat penghasilan bersih sekitar Rp60 hingga Rp85 ribu perhari. Namun menjelang ajang perayaan CGM ia mengaku bisa meraup penghasilan dua kali lipat bahkan lebih. “Pembelinya beragam, mulai dari masyarakat setempat hingga wisatawan,” jelasnya. Sejumlah wisatawan mancanegara juga terlihat membeli pernak pernik. Bagi jasa perhotelan, berkah CGM juga dirasakan. Semua hotel penuh. Hal ini selalu terjadi setiap tahun pada event CGM yang terbesar di Indonesia. (selengkapnya baca halaman 17)

Sumber: Appost

author
Bangfad - Bukan Blogger Profesional, hanya mencoba berbagi pengalaman dan cerita. Belajar, Belajar dan Belajar untuk menjadi seorang penulis profesional dengan hobi Menulis, Ngoprek dan Mancing.
No Response
  1. author

    aliong7 years ago

    yhryre

    Reply
  2. author

    alionghaung7 years ago

    gdgfeg

    Reply

Leave a reply "Meriah Cap Go Meh di Singkawang Kalimantan Barat dengan Tatung Wanita"