Judul: Untukmu
Oleh: meilisa
# kutulis semua ini dalam resah
# merenungi kebodohanku
# tak pernah terfikir kan seperti ini
# kau yg selalu mendengar keluh ku
# kau yg selalu menemani tawa ku
#
# selalu bisa menuntun ku saat ku terseok dlm gundah
# rasaku tlah bersemi untukmu
# asa ku tlah terpaut padamu …
# selama ni hanya ku simpan semua..
# ku takut ….
# kau kan pergi bila tau ..
# tak lagi dapat ku lihat tawa konyolmu..
# ternyata .. aku salah…
# hanya sesal yng dapat ku kecap..
# tak kusangka ..
# kau pergi begitu cepat
# tinggalkan harap untukku…
# rasa ini hanya menjadi memori..
# kenapa tuhan mengambilmu dari ku…
# mengambil tawaku ..
# mengambil semangatku….
#
# hanya dapat ku pandang deburan ombak tuk mengenangmu….
# sahabat terbaikku…..
# semangat dan tawaku……
# rasa ini masih tersimpan untukmu….
# ku berharap .. kau melihatku …. dari tempat terindah mu…….
Tags: puisi renungan, puisi resah, puisi tawa, puisi keluh, puisi resah, puisi takut, puisi prasangka, puisi sahabat, puisi semangat, puisi rasa
Incoming Search
puisi merenung,
puisi konyol,
puisi-puisi tentang alam,
Puisi semangat untuk sahabat,
puisi-puisi alam,
puisi prasangka,
puisi puisi tentang alam,
puisi semangat teman,
Puisi tentang merenung,
puisi puisi alam,
puisi untuk merenung,
puisi untuk pernikahan sahabat,
puisi pendek buat sahabat,
puisi merenung singkat,
puisi semangat,
puisi takut khawatir,
puisi takut terluka,
puisi tawa,
puisi tentang harapan alam,
puisi ucapan pernikahan untuk sahabat
Categories: Puisi Cinta, Puisi Harapan, Puisi Kenangan, Puisi Malam, Puisi Penantian, Puisi Sahabat, Puisi Sedih, Puisi Umum
Judul: BINTANG
Oleh: vicky
Kau yang selalu di hatiku
Yang selalu di jiwaku
Yang menjadi bagian indah di hidupku
Kau yang menjadi bidadari
Walaupun kau tak sempurna
Cinta suci yang ku berikan untukmu
Mungkin tak akan terganti
Bayangmu di hidupku…
Karena ku ingin slalu ada di pelukmu
Ku ingin kau menjadi BINTANG…
Menerangi di setiap malam-malamku
Menjadi indah karena hadirmu..
di hidupku…
Tags: Puisi bintang, puisi juwa, puisi hati, puisi bidadari, puisi bayangan, puisi hidup, puisi indah, puisi hadirmu
Incoming Search
puisi bintang malam,
puisi datangnya bidadari,
menanti hadirmu kasih,
puisi bayangan,
puisi hidupku sepi tanpamu,
puisi untuk mencurahkan isi hati,
Syair Cinta Kucoba Menerangi Dirimu,
syair untuk bidadari
Categories: Puisi Cinta, Puisi Harapan, Puisi Kenangan, Puisi Malam, Puisi Penantian, Puisi Sahabat, Puisi Sedih, Puisi Semangat
Setelah Sembilan tahun Muhammad diangkat sebagai Rasulullah, beliau masih menjalankan dakwah di kalangan kaumnya sendiri disekitar kota Makkah untuk memperbaiki pola hidup mereka. Tetapi hanya sebagian kecil saja orang yang bersedia memeluk agama Islam atau bersimpati kepadanya, selebihnya selalu berusaha dengan segala daya upaya untuk mengganggu dan menghalangi beliau dan pengikut-pengikutnya. Di antara mereka yang bersimpati dengan perjuangan Nabi adalah Abu Thalib, paman beliau sendiri, namun sayangnya ia tidak pernah memeluk agama Islam sampai akhir hayatnya.
Pada tahun kesepuluh setelah kenabian Abu Thalib wafat. Dengan wafatnya Abu Thalib ini, pihak kafir Quraisy merasa semakin leluasa mengganggu dan menentang Nabi saw.
Tha’if merupakan kota terbesar kedua dikawasan Hijaz. Di sana terdapat Bani Tsaqif, suatu kabilah yang cukup kuat dan besar jumlah penduduknya. Rasulullah saw pun berangkat ke Tha’if dengan harapan dapat membujuk Bani Tsaqif untuk menerima Islam, dengan demikian beliau akan mendapatkan tempat berlindung bagi pemeluk-pemeluk Islam dari gangguan kafir Quraisy. Beliau pun berharap dapat menjadikan Tha’if sebagai pusat kegiatan dakwah. Setibanya disana, Rasulullah saw mengunjungi tiga tokoh Bani Tsaqif secara terpisah untuk menyampaikan risalah Islam. Namun yang terjadi, mereka bukan saja menolak ajaran Islam, bahkan mendengar pembicaraan Nabi saw pun mereka tidak mau. Rasulullah saw diperlakukan secara kasar dan biadab. Sikap kasar mereka itu sungguh bertentangan dengan kebiasaan bangsa Arab yang selalu menghormati tamunya. Dengan terus terang mereka mengatakan bahwa mereka tidak senang Rasulullah saw dan pengikutnya tinggal di kota mereka. Semula Rasulullah membayangkan akan mendapat perlakuan yang sopan diiringi tutur kata yang lemah lembut, tetapi ternyata beliau diejek dengan kata-kata kasar.
Salah seorang diantara mereka berkata sambil mengejek, “Benarkah Allah telah mengangkatmu menjadi pesuruh-Nya?”. Yang lain berkata sambil tertawa, “Tidak dapatkah Allah memilih manusia selain kamu untuk menjadi pesuruh-Nya?”.
Incoming Search
puisi penghinaan,
dakwah Rasulullah di thaif,
puisi tentang rasulullah saw,
puisi rasulullah saw,
puisi tauladan,
puisi untuk rasulullah saw,
kata kata dusta,
kata-kata dusta,
puisi sahabat nabi,
puisi para sahabat nabi,
puisi tentang perjuangan nabi,
puisi tentang penghinaan,
puisi dakwah nabi,
Kumpulan sastra dan dakwah,
puisi perjalanan rasulullah,
puisi tauladan nabi,
puisi perjalanan nabi,
puisi perjuangan nabi,
geguritan jawi tema cinta tanah air,
puisi perjuangan rasulullah
Categories: Cerita Sahabat
HIJRAHNYA KAUM MUSLIMIN KE HABASYAH
Permusuhan dengan kaum kafir menyebabkan penderitaan dan kesu-sahan kaum Muslimin semakin bertambah. Akhirnya Rasulullah saw. meng-izinkan mereka meninggalkan Makkah. Banyak para sahabat yang hijrah ke negeri Habasyah, walaupun pada saat itu Habasyah dipimpin oleh seorang raja Nasrani pada waktu itu dia belum memeluk Islam yang terkenal karena kasih sayang dan keadilannya.
Pada bulan Rajab tahun ke-5 sejak Rasulullah saw. menjalankan dakwah, rombongan pertama telah diberangkatkan ke Habasyah. Rombongan itu berjumlah kurang lebih 12 orang lelaki dan 5 orang wanita. Orang-orang kafir Quraisy pun segera mengejar untuk menghalangi kaum muslimin, namun mereka tiba di pelabuhan setelah kapal kaum muslimin bertolak.
Setibanya di Habasyah, rombongan kaum muslimin mendengar kabar burung bahwa seluruh orang Quraisy telah memeluk Islam dan Islam telah mendapat kemenangan. Mendengar berita itu, mereka sangat gembira. Mereka pun memutus-kan untuk kembali ke tanah air mereka. Tetapi ketika hampir tiba di Makkah mereka mendapati bahwa berita itu hanya tipuan belaka. Karena ternyata gangguan dan permusuhan terhadap orang-orang Islam tidak berkurang sedikit pun. Dengan terpaksa mereka segera berlayar kembali ke Habasyah, sedangkan sebagian dari mereka terus memasuki kota Makkah dengan perlindungan orang yang berpengaruh. Peristiwa ini dikenal dengan nama hijrah ke Habasyah yang pertama.
Incoming Search
hijrah ke habasyah,
habasyah,
kalau tak untung,
CERITA ANAK ISLAMI,
cerita pendek anak islami,
hijrah ke habsyi,
sejarah hijrah ke habsyi,
hijrah ke habsyi yang pertama,
hijrah nabi muhammad ke habasyah,
hijrah nabi ke habasyah,
cerita pendek islami anak,
puisi puisi islamiyah tahun baru islam,
Hijrah ke Habasyah yang Kedua,
kota habasyah,
hijrah habasyah,
rasulullah hijrah ke habasyah,
sahabat nabi yang ikut hijrah,
cerita kalau tak untung,
puisi hijrah nabi,
hijrah ke habsyah
Categories: Cerita Islami, Cerita Sahabat
Judul: Rindu Kebebasan
Oleh: Abigailroodee
Aku rindu pada kebebasan,
Rinduku terpatri padanya…
Laksana sang anak rindu akan ibunya.
Tatkala bisikan dedaunan dan angin,
Mengumandangkan adagium kebebasan,
Aku rindu dan semakin rindu padanya.
Karena,
Aku tlahpun melihat, dan mencari tahu…
Tentang penindasan, penjajahan, dan pembodohan,
Oleh…penguasa negeri ini!
Categories: Alunan Puisi, Puisi Cinta, Puisi Harapan, Puisi Kenangan, Puisi Malam, Puisi Penantian, Puisi Sahabat, Puisi Semangat, Puisi Umum