Bidadari Malam | Sastra Nusantara

Bidadari Malam

Post: 17 January 2009 Oleh: (4) Comment

Merepih kesunyian dalam sepi malam
Mencari dalam kesendirian
Ketika malam tak lagi tentangmu
Dan pijar lentera meredup di tepian

Sungai hati bermuara di cakrawala jiwa
Buih-buih ombak bawa dirimu menjauh
Jauh, akankah kembali?
Datang, bisakah mengisi?
Jiwa-jiwa yang kosong
Ditingkahi hati yang hampa

Bidadari Malam
Renjana menghantar raga
Di ujung senja menebar asa

Mendekaplah
Rasakan setiap helai nafas
Nafas yang ada karnamu
Nafas yang ada hanya untukmu

Sepotong rendezvous kembali
Terlintas bayang senyum
Terdengar kepak sayap
Sekeping jiwa ku susun dalam hati
Membentuk wajah sang pencipta mimpi
Alunan swara yang datang dari langit
Mencari damai di swargaloka

Wahai titisan malaikat surga
Yang menemani tidur panjang
Yang mengelus mimpi dengan keindahan
Menjelmalah!
Mengejawantah dalam indah rupa Bidadari
Titipkan damai di atas bintang

Membelai tubuhku dengan tangan-tangan cinta
Selimuti raga dengan lembaran kehidupan
Tersenyum dalam dinginnya malam
Buai Sang Pujangga dan antarkan ia tidur tenang
Beri mimpi terindah tentang dirimu

Selamat tidur Bidadari
Pejamkan mata dan kita bersua di bunga tidur

Bidadari, ketika pagi tiba
Ketika embun menetes di ujung daun
Ketika matari muncul di ufuk timur
dan cahaya membias
Ku pinta, jangan pergi
Tetap disini, dipelukanku.

Incoming search terms:

  • kamut malam
  • puisi bidadari malam
  • contoh syair selamat pagi
  • puisi tentang bidadari malam
  • puisi tema belajar pagi
  • puisi selamat tidur bidadari
  • minggu malam panjang
  • malam minggu yg sunyi
  • kata-kata untuk kesunyian malam
  • kamut malam yang sunyi

Categories: Love Poems, Puisi Cinta


 

If You Like This Post, Share it With Your Friends & Peers

Digg
stumbleupon
Delicious
facebook
twitter
reddit
rss feed bookmar
   

4 Comments to “Bidadari Malam”

  1. Avan Pedro says:

    aku adalah seorang wartawan yg pernah belajar di LPDS, Jakarta. Aku kadang suka menulis puisi, namun kadang aku ragu atau lebih tepatnya malu untuk mempublikasikan puisi-puisiku di media. Nama asliku adalah Avan Pedro dan email yg aku gunakan adalah nama kakekku. Disini aku ingin menulis sebuah puisi ttg keadaan Timor leste sesungguhnya terutama pada saat ini dibawah kepemimpinan Xanana yg para menterinya kaumk koruptor. Mata elang adlh judul puisiku. Mohon dinilai!!!

    Aku Adalah Mata Elang

    Kata orang ini negeri kaya
    dipagari cendana
    dialiri minyak
    dan diteduhkan kopi

    tapi,…ke mana pergi dana cendana
    minyak,……siapa yang enak dan nyenyak
    banyak kopi
    tapi pribumi tetap saja koki di restoran-restoran alien

    Negeri ini penuh dengan lintah darat
    mulut mereka tiada pernah penuh
    sebelum terisi dengan tanah
    hukum tak lebih dari sebilah pisau
    tajam ke bawah tumpul ke atas

    tapi aku adalah mata elang
    yang kan menandai punggungmu dari atas langit biru
    wahai lintah darat

    puisinya bagus, nanti akan saya terbitkan, terima kasih

  2. Avan Pedro says:

    Dan berikut sebuah pantun dari saya “Avan” Pedro from Timor Leste. tolong dinilai ala kadarnya sebagai orang Timor Leste yg tentunya tdk fasih BINAR

    Burung pipit di atas loteng
    merajut sarang dari ilalang
    dasar kita berhati brankas
    menyulap istana dari keringat sesama

  3. Avan Pedro says:

    Puisi ini ku dedikasikan untuk seorang penyair Timor Leste yg dibunuh pada awal infasi rezim ORBA. Ia dibunuh di dermaga Dili pada suatu pagi tgl 07 Desember 1975 ketika militar Indonesia menginfasi TL dalam sebuah operasi militar dibawah komando L.B Moerdeani “Operasi Seroja”. Lagu kebangsaan TL yg berjudul PATRIA adalah hasilo karya dia (Francisco “Borja” da Costa). itulah nama sang penyair yg telah tiada. Inilah pemujaanku utknya.

    BORJA

    Pada mata penamu
    terucap tangis penat derita
    lepaskan busur dalam sajak-sajak berbisa

    jinakan lawan sadarkan kawan
    secarik kertas lenyap terbakar
    raga lebur menyatu tanah

    namun abadi dalam tangis mengenang
    saat tersadar dalam memaknai
    semua kata-kata tertuang

  4. Avan Pedro says:

    please give your comment interms of our poem. Because im not the Indonesia Citizen but im try to do somthing better like you.

Leave your comment here: