Blada Kapelaku
Judul: Balada Kapelaku
(bintang paling terang dalam susunan bintang auriga)
Karya: Mega Diza
Seperti Kemala, di kemit pekat
Rampas waktu sejenak,
Untuk melinangkan air mata.. .
Apakah harus menanti hujan ?
Agar bumi basah tuk sejenak saja.
Siasati kemauan rasa, rasa sakral yang tabu.
Lampion kecil terhempas ke pantai
Telacak pasir pantai, ombak menyapa perih.
“mengapa kau kejar sesuatu yang tak mungkin kau dapatkan?”
Lantunan harmoniku cukup mjenjawab smua teki2 alam.
Historisitas cinta dulu, hilang tanpa bukti
Intimasi karisma kusut masai
Keramat kasih maras sudah
Nostalgia itu amat pesam
Rasaku ramu jadi satu.
Daku dini tuk ditanya.
Galaunya jiwaku, rajah menatap kapela timur..
Resapan ombak, merenjis tubuhku
Phien menyapa menggelemparkan arus pikiran
Lumba-lumba kecil merumpi sahaja
Inovasi itu jujur, hysteria suara hati
Musang timur yang punya jawaban malam
Gadis munsyi telan raut malam
Senandungkan 1000 oktaf bait puisi
Menghibur auriga kapela separuh cinta
Di depan ombak, phin menyanyi untukku
Cendayamku hidup, auraku sejuk
Ambiguitas rasa bergetar cepat
Sayup suara harmonica penuh hatif
Phine lemparkan ikatan bunga
Ilustrasikan indraloka khayalan
Honji kecil di mahkota indah….
“Yung Pyong yiu min wo sae”
Pecahlah honji ke kaumnya.
Tubuhku kebab, mencakar angin, menitikkan air maya
Harmonika itu….?
Gagak hitam isyaratkan dunia lain.
Dunia Tuhan penuh koagregasi pamor kehidupan
Berembang harmonica bulan.
Malam janji dia untuk menangis usailah sudah.
Jalan roh dia tersuar senyum pedih…
If you enjoyed this post, please consider to leave a comment or subscribe to the feed and get future articles delivered to your feed reader.
Comments
wih….
bahasany itu lho yg bikin greget..
thanks sob sangat bagus sekali puisi kamu
^_^
mampir balik yah

thanx for idea