Blood on The Uniform (part 2 a)
Cinta, saat cinta memberikan suatu penerangan yang hangat, awan gelap menutupi cahaya cinta dan menghacurkannya dengan petir, cinta yang dicari selama ini oleh sang pria akhirnya hancur menjadi abu. tangisan kesedihan, kepedihan teralirkan melalui derasnya hujan darah dari awan yang membasahi tanah jiwaku ini.
begitulah rasa sakit hati yang begitu merobek perasaan ini. kematian seorang wanita yang aku sayangi dan kupercayai mendampingi hidupku selama ini harus pergi mejauh dariku ke dunia lain dengan peluru di dadanya yang menyimpan semua perasaan cinta ku padanya, dan rasaku telah mati untuk menyadarinya.
berawal mula dari sebuah pertemuan di kelas yang sama, seorang wanita lugu, baik, berparas cantik sanggup meluluhkan hatiku yang keras ini. dialah Lilyana Maria Griswold .
Asal muasal di cuaca hujan yang deras, udara dingin masuk ke seluruh lorong sekolah sehingga tembok dan lantai kedinginan. tak ada satu pun di sekolah itu yang berjalan untuk menemani aku di kesunyian hati ini. Saat Itu aku sedang duduk di ruang perpustakaan sambil membaca buku dan memandangi hujan lewat jendela, tetapi datanglah cahaya yang menghangatkan hati dan menyapaku dengan ramah.
” hai Vincent, kenalkan aku lilyana, senang bertemu denganmu” sambil tersenyum dan memberikan tangan kepadaku.
“dari mana kau tahu namaku?”, sungguh bagai bidadari ajaib bisa mengenalku.
“kita sebenarnya sekelas, kau mungkin tak menyadari itu bukan?”
perbincangan hangat menemaniku sepanjang hujan deras di ruang perpustakaan yang sepi dan hanya aku dan dia saja. hangat hati ini melihatnya , rambutnya yang hitam dan lurus, mata yang indah, tubuh yang nan elok, paras wajah yang cantik ceria, dan cantiknya dalam hatinya seakan meleburkanku dengan cinta yang panas. sungguh aku cinta pada pandangan pertama pada lilyana.
ketika hujan reda dan matahari datang menyinari dunia ini.
“vincent, hujan sudah reda, aku harus pulang. sampai jumpa besok ya” sambil membawa tasnya dan berjalan ke pintu perpustakaan.
aku terdiam sejenak kemudian aku berdiri dan mengejarnya sambil memanggilnya tapi kakiku tersandung dan terjatuh menimpa lilyana ke lantai. sunyi senyap dan tak ada suara dan angin melewati kupingku, aku memandang wajahnya yang cantik dan seakan hati ingin mencium bibirnya lembut, tak kuasa aku ingin menciumnya tapi jari tangannya menahanku melakukannya. aku tersadar bahwa itu tak layak, aku berdiri dan memberikan tanganku untuk membantu dia berdiri.
“Kau ada waktu luang di hari lusa ?. aku mau mengajakmu menonton film” aku bertanya dengan wajah yang malu.
“kenapa tidak , aku senang menonton film” sambil tersenyum padaku.” aku pulang dulu ya, sampai jumpa besok ”
senangnya hati ini karena dia menerima tawaranku dan aku kembali masuk dan duduk di kursi melanjutkan membacaku.
hari siang akhirnya berubah menjadi sore, aku melamun memikirkan dia sambil tersenyum sendirian. tapi aku melihat dari jendela beberapa orang mencurigakan melihat saya dari belakang sekolah. ternyata mereka membawa senjata dan bermaksud membunuhku, aku melompat dari kursiku dan peluru peluru memecahkan banyak jendela sekolah, tembakan Tommy gun itu tak henti merusak sekolah. aku segera lari turun dan keluar ke depan gerbang sekolah.
“sial !!, apa yang ingin dilakukan para pembunuh itu padaku!!!!??” sambil berlari gelisah.
kemudian mobil hitam datang dan ternyata di George Brookeman bersama anak buahnya.” Vincent, ambil senjatanya”
aku membuka bagasi belakang mobil dan melihat 5 backpacker shotgun dan ratusan peluru . aku memasangnya amunisi itu dan mengarah pada para pembunuh itu, pertempuran terjadi dan George dan aku berhasil membunuh mereka, yang tersisa hanya seseorang yang tak bisa berlari karena tertembak kakinya.
“jangan bunuh saya, jangan bunuh saya, aku mohon …” kata pembunuh itu sambil ketakutan …
“siapa yang menyuruhmu untuk membunuhku” ucapku sambil menempelkan lubang shotgun padanya.
“aku tak tahu, aku tak tahu!!!, mohooon ampuni aku” sambil sujud dan menangis
kutendang tubuhnya dan DOOR!!! aku menembak bahunya. “kau tak tak memberi jawaban, aku takan memberi kehidupan padamu” dengan wajah tanpa ekpresi.
“baik.. baik!!!, dia adalah Don Paul, Ketua Mafia Palu Merah. mohon jangan bunuh aku, aku mohhooon..aku mohonn” ucap pembunuh itu dengan lemas.
“Chiacchierone!!! ” ucapku dengan keras dan perlahan memasukan shotgun ini ke dalam mulutnya. pembunuh itu menangis dan menjerit, pelatuk shotgun kutekan dan memecahkan kepalanya dan membasahi taman sekolah dengan merahnya darah seorang pembunuh bayaran.
aku pun meninggalkannya dan masuk ke mobil, aku pulang ke rumah dan ayahku menyambutku di rumah, aku memeluknya dengan erat.
“bagai mana sekolahku nak?” tanya ayahku sambil memeluku
“aku telah membunuh 5 orang pembunuh di sekolah” sambil menampilkan wajah penyesalan
ayah menatapku dan membelai wajahku “nak, terkadang tidak semua itu suci dan apabila dia harus mati, itu sudah menjadi takdirnya”,” sekarang masuk lah ke kamar, mandi dan ayah menunggumu disini untuk makan malam”
kata bijaksana ayah menenangkan hatiku setelah aku melepaskan berpuluh puluh peluru pada orang yang berniat jahat padaku. akhirnya aku bisa tertidur tenang….
bersambung…
Incoming Search
kumpulan puisi taman sekolah,puisi andai kau tau perasaanku,Puisi taman sekolah,WWW puisi matematika bangsaku comCategories: Cerita Bersambung, Cerita Dewasa, Cerita Remaja







No Comment to “Blood on The Uniform (part 2 a)”