<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kumpulan Sastra Nusantara &#187; Cerita Sahabat</title>
	<atom:link href="http://www.bangfad.com/sastra/category/cerita-sahabat/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.bangfad.com</link>
	<description>None</description>
	<lastBuildDate>Sat, 28 Aug 2010 07:05:50 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Mentari Kecil</title>
		<link>http://www.bangfad.com/sastra/mentari-kecil.html</link>
		<comments>http://www.bangfad.com/sastra/mentari-kecil.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Jan 2010 22:37:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Alunan Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Alunan Sajak]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Islami]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Kumpulan Pantun]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi Doa]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi Harapan]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi Malam]]></category>
		<category><![CDATA[puisi alam]]></category>
		<category><![CDATA[puisi insan]]></category>
		<category><![CDATA[puisi kebahagiaan]]></category>
		<category><![CDATA[puisi matahari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bangfad.com/?p=1266</guid>
		<description><![CDATA[aku bukanlah benalu,&#8230; yang hanya bisa tumbuh dan hidup dari kehidupan &#8220;tumbuhan&#8221; lain mengganggu dan merugikan &#8220;tumbuhan&#8221; itu bukan pula ku layaknya hama yang hanya bisa merusak &#8220;tumbuhan&#8221; orang lain yang dapat dihancurkan kapan saja ketika sang pemilik &#8220;tumbuhan&#8221; menemui titik kebencian bukan pula q layaknya pungguk yang merindukan rembulan berharap dapat q rasakan keindahan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>aku bukanlah benalu,&#8230;<br />
yang hanya bisa tumbuh dan hidup<br />
dari kehidupan &#8220;tumbuhan&#8221; lain<br />
mengganggu dan merugikan &#8220;tumbuhan&#8221; itu</p>
<p>bukan pula ku layaknya hama<br />
yang hanya bisa merusak &#8220;tumbuhan&#8221; orang lain<br />
yang dapat dihancurkan kapan saja<br />
ketika sang pemilik &#8220;tumbuhan&#8221; menemui titik kebencian</p>
<p>bukan pula q layaknya pungguk yang merindukan rembulan<br />
berharap dapat q rasakan<br />
keindahan akan sinarnya,&#8230;<br />
disaat musim penghujan</p>
<p>tp q ingin menjadi mentari kecil<br />
senantiasa pancarkan sinaran<br />
berikan kehidupan pada setiap insan<br />
senyuman senantiasa aku lemparkan<br />
pertanda bahagia dengan kehidupan &#8220;tumbuhan&#8221; itu<br />
juga kebahagiaan setiap insan&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bangfad.com/sastra/mentari-kecil.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>hiduplah dengan mataku</title>
		<link>http://www.bangfad.com/sastra/hiduplah-dengan-mataku.html</link>
		<comments>http://www.bangfad.com/sastra/hiduplah-dengan-mataku.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Jan 2010 02:04:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>penyair cinta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Bersambung]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Sebuah Cerita]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[kumpulan cerita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bangfad.com/?p=1258</guid>
		<description><![CDATA[Judul: hiduplah dengan mataku Oleh: &#8220;adhi&#8221; “Aku ingin banget lihat indahnya dunia ini, dan melihat wajah seorang malaikat yang selalu menemani aku di !” Ucap syanta dengan penuh harapan “malikat…..?” Tanya adhi bingung, “ia malaikat, kamu itu seperti seorang malikat dhi, yang selalu menemani dan menjaga ku” “kamu bisa aja syanta….” “dhi, kenapa sih kamu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: right;">Judul: <strong>hiduplah dengan mataku</strong><br />
Oleh: <strong>&#8220;adhi&#8221; </strong></p>
<p>“Aku ingin banget lihat indahnya dunia ini, dan melihat wajah seorang malaikat yang selalu menemani aku di !”<br />
Ucap syanta dengan penuh harapan<br />
“malikat…..?”<br />
Tanya adhi bingung,<br />
“ia malaikat, kamu itu seperti seorang malikat dhi, yang selalu menemani dan menjaga ku”<br />
“kamu bisa aja syanta….”<br />
“dhi, kenapa sih kamu mau menemani aku ?”<br />
“karna aku sayang banget sama kamu dan aku ga mau terjadi apa-apa sama kamu”<br />
Ucap adhi tulus sambil memegang telapak tangan kiri syanta,<br />
“Sayang,,,,! Kamu sayang sama aku, bukannya kamu hanya kasihan dengan seorang gadis buta seperti aku ?”<br />
“kenapa kamu bicara seperti itu, jadi kamu meragukan perasaan ku ?”<br />
“bukanya aku meragukan dhi, mana ada sih seseorang yang ingin punya kekasih tunanetra, itu hanya dapat membuat ………..”<br />
Belum selesai bicara syanta memutuskan kata-katanya<br />
“membuat apa ?”<br />
Syanta hanya terdiam sejenak,<br />
“aku menyayangi kamu dengan tulus syanta, bukan karna aku kasihan dengan kamu, jadi buanglah keraguan kamu itu. Aku ingin menjadi kekasih yang selalu menjaga dan menemani kamu syanta”<br />
“maafin aku dhi aku ga bisa menjadi kekasih kamu, kamu lebih pantas dengan wanita normal bukan seperti aku”<br />
“kenapa kamu bicara seperti itu syanta ? aku ingin kamu bicara jujur bagaimana perasaan kamu selama ini sama aku ?”<br />
“sudahlah dhi, ga ada sedikitpun perasaan aku untuk kamu, aku selama ini hanya mengganggap kamu sebagai teman !”<br />
“kamu bohong syanta, kamu bohong………..!!!”<br />
Teriak adhi dengan sedih dan ia segera berlari pergi dari hadapan syanta dengan membawa kehancuran di hatinya, syanta hanya terdiam dan merenung atas semua apa yang telah dikatakannya pada adhi. Dalam hatinya syanta berkata “maafin aku dhi, aku telah membohongi perasaan aku sebenarnya aku sayang sama kamu tapi aku tidak ingin menyusahkan kamu semoga kamu mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku”<br />
Ternyata syanta juga memendam perasaan dengan adhi, terpaksa ia mengorbankan cintanya hanya karna ketidak sempurnaan dirinya, namun apa yang di lakukannya itu justru membuat dua hati menjadi hancur.</p>
<p>***<br />
<span id="more-1258"></span>Dalam gelapnya malam yang di terangi sinar bulan dan bertabur bintang terlihat adhi yang sedang duduk di teras depan rumah bibinya, melihat adhi sendirian  vhie segera menghampirinya.<br />
“Hei…. Sendirian aja mas, boleh gak gue nemenin ?”<br />
“nemenin tidur !!”<br />
Canda adhi,<br />
“sialan lo….!! Nemenin duduklah”<br />
“duduk tingal duduk pake basa basi segala lo”<br />
Tanpa komentar lagi vhie lekas duduk di samping adhi.<br />
“Eh… gimana tuh kabarnya syanta ?”<br />
Tanya vhie yang seakan meledek adhi,<br />
“ga tau !!!”<br />
Ucap adhi singkat_<br />
“bukannya lo buntutnya dia ?, dimana ada dia pasti di situ ada lo!!”<br />
“Auah…….. ngapain si bicarain dia”<br />
“kelihatannya lo lagi kesel banget nih sama dia”<br />
“Iya gue kesel sama dia !!!!”<br />
“santai ajalah bicaranya, mang lo kesel kenapa ?”<br />
“mau tau aja lo !”<br />
“yeh di tanyanya………”<br />
“vhie, tau ga lo syanta tuh pengen banget bisa melihat”<br />
“yeh semua orang buta juga pengen bisa melihat, asal lo tau ya dhi keluarganya tuh dari dulu udah berusaha untuk mencari pendonor untuk syanta, tapi mana ada orang yang mau mendonorkan matanya rugi banget, sekalinya ada orang yang udah meninggal tapi ga cocok”<br />
“pasti ada seseorang yang mau memberikan matanya buat syanta’<br />
“Siapa orangnya…..?”<br />
“gue…..!!!”<br />
“bercanda lo….?”<br />
“serius, gue pengen syanta bisa melihat dari lahir sampai sekarang yang dia lihat henyalah kegelapan”<br />
Mendengar kata-kata adhi, vhie hanya tersenyum tipis….<br />
“lo tuh harus berfikir panjang dhi, jangan seenaknya aja ngambil keputusan seperti itu, secara lo itu seorang penulis kalau saja lo ga bisa melihat gimana lo mau kerja dan lo ga akan bisa kemana-mana tanpa ada seseorang yang menemani lo dhi”<br />
Ucap vhie yang meyakinkan keputusaannya adhi,<br />
“gue ga peduli vhi, gue sayang sama dia dan gue akan ngelakuin apa saja untuknya, lagi pula gue udah puas melihat dunia dan kehidupan ini, sekarang saatnya dia merasakan kebahagiaan yang belum pernah dia rasakan”<br />
“Lo udah bener-bener kena virus cinta dhi, asal lo tau cinta yang seperti ini hanya memberi penderitaan buat lo&#8230;.”<br />
Adhi tetap kekeh dengan keputusaanya dan tak mempedulikan saran spupunya itu.</p>
<p>***<br />
Setelah berfikir matang-matang adhi memutuskan untuk mendonorkan kedua bola matanya untuk syanta, keesokan paginya ia bergegas pergi kerumah sakit untuk berkonsultasi pada dokter mata, setelah melakukan pembicaran dan persetujuan dengan dokter dan keluarga syanta akhirnya mereka sepakat untuk adhi mendonorkan matanya dengan syarat syanta tidak boleh mengetahui hal ini.<br />
Setelah mendapat kabar dari orang tuanya akan ada seseorang yang akan mendonorkan matanya untuk syanta, syanta merasa bahagia sekali atas kabar itu ternyata apa yang di impikannya terwujud, tanpa ragu ia menelpon adhi<br />
Adhi     : Halooo<br />
Syanta    : Adhi….<br />
Adhi    : iya syanta, ada apa ?<br />
Syanta    : kamu tau gak, aku tuh hari ini bahagia banget,<br />
Adhi    : bahagia kenapa,,,,?<br />
Syanta    : ada seseorang yang mendonorkan matanya untuk aku,<br />
Adhi     : Lalu ?<br />
Syanta    : jika aku bisa melihat orang yang pertama aku lihat adalah kamu,    lalu pendonor itu, keluargaku, dan semuanya.<br />
Adhi    : Hhee….<br />
Syanta : ko, kamu malah tertawa sih,,?<br />
Adhi     : yah aku bahagia aja, karna sebentar lagi aku akan mempunyai pacar yang dapat melihat.<br />
Syanta : aku maksud kamu,,,,?<br />
Adhi    : Iya………<br />
Syanta     : Ih…. Pd banget kamu, oh iya aku mau nanti sore kita ketempat biasa, aku mau menghirup udara sejuk itu yang terakhir, dan untuk selanjutnya aku akan melihatnya tempat itu untuk yang pertama kalinya.<br />
Adhi     : Iya-iya nanti sore aku akan jemput kamu.<br />
Syanta     : Yaudah aku tunggu nanti sore, makasih adhiii…….</p>
<p>Setelah melakukan pembicaraan dengan syanta melalui telpon adhi meneruskan pembicaraanya dengan dokter dan orang tua syanta.<br />
“Jadi kapan operasinya akan di lakukan dok ?”<br />
Tanya adhi pada dokter itu,<br />
“sebelum oprasi di lakukan sebaiknya anda di periksa terlebih dahulu, apakah kornea mata anda cocok dengan kornea mata syanta”<br />
“Kalau begitu bisa kita mulai pemeriksaannya sekarang”<br />
Sambung dokter itu,<br />
“yasudah dok….”<br />
Jawab adhi menyetujuinya, sesaat adhi dan beberapa dokter mata memasuki ruang pemariksaan, adhi di periksa mulai dari golongan darah sampai kesehatannya apakah cocok untuk menjadi pendonor. Setelah melalui proses pemeriksaan yang menghabiskan waktu sekitar satu jam akhirnya dokter memutuskan adhi cocok untuk mendonorkan matanya, proses operasi akan di lakukan esok hari tingal menunggu kesiapan mental adhi dan syanta saja untuk melakukan operasi.</p>
<p>***<br />
Setelah aktivitas yang melelahkan itu adhi tak lupa dengan janjinya pada syanta seraya akan menemuinya di puncak pinggir perkebunan teh. Ia berjalan seorang diri menuju tepi puncak itu sesampainya terlihat syanta yang sedang duduk sendiri menunggu kedatangan adhi.<br />
“syanta dengan siapa kamu kemari ?”<br />
Tanya adhi yang terheran melihat syanta sudah berada di situ seorang diri,<br />
“Bibi yang mengantarkan aku kesini, dan sekarang ia sudah kembali”<br />
“Oh….”<br />
Tanpa bicara panjang lebar ia segera duduk disamping kanan syanta,<br />
“dhi, aku sudah gak sabar nih ingin melihat !!”<br />
Adhi hanya tersenyum mendengar harapan syanta,<br />
“sungguh baik sekali orang yang mendonorkan matanya itu, padahal kata ibu pendonor itu masih hidup dhi”<br />
“Kamu harus bersyukur syanta karna masih ada orang yang seperti itu”<br />
“oh iya dhi, apakah masih ada sedikit saja rasa sayang kamu untuk aku ?”<br />
“maksud kamu syanta ?”<br />
Adhi kaget mendengar ucapan syanta yang tidak pernah selama ini ia terucap dari bibirnya.<br />
“maksud ku, apa kamu masih menyimpan perasaan sama aku ?”<br />
“perasaan aku ke kamu, ga secepat itu hilang, jadi aku masih menyimpan harapan sama kamu, kenapa kamu bertanya seperti itu syanta ?”<br />
Tanya adhi terheran,<br />
“karna sebenarnya aku juga memendam perasaan dhi sama kamu, hanya karna ketidak sempurnaan ku, aku merasa tidak pantas mendampingimu”<br />
“kamu bodoh syanta, cinta itu buta, cinta itu menerima apa adanya jadi aku ga peduli apapun yang terjadi sama kamu, dengan tulus aku menerima kekurangan kamu.”<br />
“aku ga mau dhi kalau kamu harus menderita hanya karena mempunyai kekasih yang tidak sempurna”<br />
Adhi hanya terdiam,<br />
“dhi kalau nanti aku dapat melihat, aku mau mencintai kamu dengan tulus”<br />
“Sungguh apa yang kamu katakan itu syanta ?”<br />
“Iya, dhi karna selama ini orang yang dapat memberikan aku kenyamanan hanya kamu”<br />
Adhi sangat bahagia mendengar ucapan syanta yang secara tiba-tiba,<br />
“dhi, pasti tempat ini indah sekali aku tidak sabar ingin melihatnya”<br />
“benar syanta, tempat ini begitu indah”<br />
Mereka sejenak terdiam adhi mulai mendekap erat tubuh syanta dengan kasih sayang yang begitu dalam<br />
***<br />
Keesokan paginya adhi terbangun dari tidurnya yang lelap, hari ini adalah hari terakhir ia melihat dunia, ia mulai mencuci wajahnya dan pergi keluar halaman rumah memandang alam yang begitu asri dan udara yang sangat sejuk ia berfikir mungkin syanta akan bahagia jika ia dapat melihat ini semua, tanpa fikir panjang ia segera mempersiapkan diri untuk melaksanakan pencangkokan mata untuk syanta, sesaat ia ingin pergi didepan teras ia bertemu dengan vhie (sepupu adhi)<br />
”kamu ingin kemana dhi ?”<br />
Tanya vhie curiga,<br />
”hari ini aku dan syanta akan melakukan pencangkokan mata”<br />
Jawab adhi ragu<br />
”apa kamu yakin dengan semua itu dhi, apa kamu sudah berfikir matang-<br />
matang, ini bukan perkara sepele dhi kalau kamu tidak yakin sebaiknya jangan dari pada nanti kamu akan menyesal”<br />
ucap vhie yang seakan tidak ingin adhi melakukan ini semua,<br />
”aku yakin vhie, aku sudah memikirkan semuanya sudah cukup puas aku melihat pahit dan manisnya kehidupan ini, namun sedikitpun syanta tidak pernah melihat indahnya dunia ini, jadi aku akan memberikan kebahagiaan untuknya biarlah semua ini terjadi aku ikhlas memberikan kedua mata ku ini”<br />
Mendengar penjelasan adhi vhie tidak dapat berbuat apa-apa ia hanya terdiam dengan matanya berkaca-kaca, begitu besarnya rasa sayang adhi terhadap syanta,<br />
”vhie aku berangkat dulu ya ?”<br />
Pamit adhi padanya, adhi mulai pergi dari hadapan vhie dan ia lekas pergi kerumah sakit sendiri dengan menggunakan sepeda motornya. Sesampainya dirumah sakit terlihat syanta dan keluarganya sedang menunggu kedatangan adhi, namun syanta masih tidak mengetahui bahwa seseorang yang mendonorkan matanya adalah adhi. Adhi lekas menemui dokter sepesialis mata yang akan menanganinya.<br />
”Bagaimana dok, apa operasinya sudah dapat dilakukan ?”<br />
Tanya adhi pada salah satu dokter itu,<br />
”kalau anda sudah siap operasinya akan segera dilaksanakan”<br />
Jawab doter itu seakan meyakinkan adhi,<br />
”saya sudah siap dok,,,,!”<br />
Balas adhi singkat. Adhi sudah siap syanta pun begitu mereka segera masuk keruang operasi untuk melakukan transfusi mata, operasi itu memakan waktu yang cukup lama dengan dibantu beberapa spesialis dokter mata operasi itu berjalan dengan lancar namun adhi dan syanta belum sadarkan diri, seluruh keluarga syanta hawatir dengan keadaan adhi dan syanta apakah mereka akan baik-baik saja, waktu terus mengalir bagaikan air gelap pun sudah menyelimuti langit seluruh keluarga telah lelah menanti kesadaran adhi dan syanta mereka meninggalkan rumah sakit dan kembali kerumah masing-masing.<br />
Malam semakin laut disisi lain vhie tidak henti-hentinya memikirkan keadaan adhi ia berfikir mengapa adhi begitu mau mendonorkan matanya hanya untuk seorang wanita yang sangat dicintainya.<br />
Senja mulai tiba perlahan adhi mulai sadar dari biusan obat yang membuatnya tak sadarkan diri, ia merasakan kegelapan disekelilingnya ia mulai menyadari dirinya sudah tak dapat melihat lagi namun ia tidak merasa sedih dengan keadaannya, ia terdiam sejenak berfikir bagaimana keadaan syanta, mengapa disaat keadaannya yang begitu buruk ia masih bisa memikirkan orang lain. Sesaat salah seorang perawat datang keruang itu untuk memeriksa adhi, suster itu mendekat ke tubuh adhi dan memberikan suntikan yang ditancapkan dipergelangan tangan kanan adhi.<br />
”suster,,,,,”<br />
Sapa adhi,<br />
”ada apa mas ?”<br />
Jawabnya singkat<br />
”kapan saya bisa keluar dari rumah sakit ini sus ?”<br />
”kalau keadaan mas sudah membaik mungkin mas sudah dapat keluar”<br />
”lalu bagaimana dengan keadaan syanta sus ?”<br />
”hingga saat ini syanta masih belum sadarkan diri, mungkin dosis obat bius untuk syanta cukup banyak, tapi anda tidak usah hawatir ia baik-baik saja”<br />
Mendengar kata-kata suster itu adhi merasa begitu tenang.<br />
***<br />
Andhing</p>
<p>Saat-saat yang sudah dinantikan akan tiba tak lama lagi perban yang menutupi mata syanta akan dilepas ia sudah tak sabar lagi ingin melihat semuanya, namun adhi begitu hawatir apa reaksi syanta jika melihat keadaanya, saat dokter mulai melepas perban yang menutupi mata syanta adhi tak menampakan dirinya dihadapan syanta. Perlahan syanta membuka kedua matanya terlihat dihadapanya beberapa dokter dan keluarganya ia begitu bahagia melihat ini semua ia bersyukur kepada tuhan dan memeluk kedua orang tuanya ia bertanya-tanya siapa seseorang yang telah baik mendonorkan matanya namun seluruh anggota keluarga termasuk dokter dan temannya masih merahasiakan identitas orang itu dari syanta, syanta pun bertanya dimana adhi kenapa ia tidak ada ditempat ini, vhie pun yang kebetulan berada disana menunjukan keberadaan adhi sekarang vhie mengajak syanta ketempat biasa dimana adhi dan syanta saling bertemu, setelah mealui jalan yang begitu melelahkan akhirnya mereka sampai ditempat itu, terlihat adhi yang sedang duduk terpaku disaung atas puncak perkebunan teh begitu bahagianya syanta melihat semua ini, ini adalah pertama kalinya ia melihat adhi dan tempat yang begitu indah yang sangat didambakannya selama ini, syanta mulai mendekat kearah adhi, menyadari kedatangan syanta adhi mulai terbangun dari tempat duduknya dan menyapa syanta, tanpa disadari bahwa adhi buta syanta lekas memeluk erat-erat tubuh adhi.<br />
”benarkah kamu adhi ?”<br />
Tanya syanta terheran<br />
”iya syanta, inilah aku. Aku bahagia kamu bisa melihat aku”<br />
Syanta hanya tersenyum tipis, mereka pun mulai duduk bersebelahan ketika syanta menulis sesuatu disecarik kertas yang bertuliskan I Love You dan adhi disuruh membacanya begitu panik adhi dengan apa yang dilakukan syanta dan ia tidak dapat membacanya, syanta bertanya tanya mengapa adhi hanya terdiam syanta mulai curiga ia melambaikan tangannya kedepan wajah adhi namun adhi masih tetap diam tanpa reflek apapun, akhirnya syanta mulai menyadari dengan keadaan adhi ia begitu kaget ternyata selama ini orang yang selalu menemaninya dan menjaganya ternyata tidak dapat melihat,<br />
”adhi teryata kamu buta&#8230;.. ga mungkin ini ga mungkin dhi.”<br />
”beginilah aku syanta, apa dengan keadaan aku seperti ini kamu masih tetap dengan janji mu syanta”<br />
”maafin aku dhi, aku ga bisa nepatin janji ku selama ini aku berharap seseorang yang akan mendampingiku sempurna bisa menjaga ku seutuhnya, dengan keadaan mu seperi ini sepertinya aku ga bisa”<br />
syanta masih belum bisa menerima kenyataan ini tanpa sepatah katapun ia berlari meninggalkan adhi, menyadari kepergian syanta adhi hanta terdian menahan air mata yang mengalir dipipinya, ternyata begitulah cintanya syanta tidak tulus. Vhie yang masih tetap berdiri menunggu adhi dan syanta tidak percaya begitu teganya syanta melakukan semua ini, dengan rasa kasihan vhie mendekat kearah adhi dan berkata<br />
”sudahlah dhi, ini semua takdir inilah jalan cinta yang kamu tempuh kamu sadarkan bagaimana syanta saat kamu terpuruk olehnya ia meninggalkanmu sendiri, kadang cinta tidak semanis yang kita bayangkan”<br />
Adhi masih tetap terdiam menahan perihnya sakit dihati&#8230;&#8230;.<br />
Selang waktu berganti syanta tak sedikitpun menemui adhi, katika syanta sedang duduk sendiri memandang keindahan suasana puncak dimana ia dulu menghirup udara sejuk dari tempat itu ia menemui sebuah buku diery dibalik tikar saung, dibukanya diery itu dan di bacanya ternyata diery itu milik adhi. Di lembar pertama tertulis<br />
8 Agustus 2009<br />
Diery aku kangen banget sama syanta, tapi aku ga mungkin menemuinya karna sekarang sudah larut malam&#8230;. diery aku mau menelponnya tapi aku ga punya handphond dan syanta selalu menyuru aku mengucapkan kata-kata good nite untuknya jadi sekarang aku harus  ke wartel menelpon syanta yah walaupun jaraknya cukup jauh aku rela.</p>
<p>10 Agustus 2009<br />
Diery hari ini syanta menghinaku karna jaket yang aku pakai beli dengan harga yang sangat murah, aku sakit banget aku akuin aku bukan orang kaya aku tidak sebanding dengannya aku hanya seorang penulis yang selalu bermimpi yang tak pernah mempunyai penghasilan lebih,<br />
12 Agustus 2009<br />
Diery malam ini malam minggu syanta memintaku datang kerumahnya untuk menemaninya jarak rumahnya begitu jauh dan aku ga punya kendaraan. Ingin pinjam motor teman dipakai semua jadi aku terpaksa pakai sepeda tetangga ku walaupun sangat lelah aku mengayuh pedal sepeda itu hingga setelah pulang dari rumahnya kaki ku terasa begitu sakit.</p>
<p>13 Agustus 2009<br />
Diery tanggal 17 nanti syanta ulang tahun aku ingin memberikan kado untunya tapi uangku tidak cukup, tadi eNdah menawarkanku meminjamkan uangnya kepada ku untuk beli kado tapi aku tidak mau menerimanya, aku tidak ingin memberikan hadiah untuk orang yang aku sayang dengan bantuan orang lain dan akhirnya ia menawariku untuk mengetikan tugas kampusnya dengan bayaran yang tidak begitu besar tapi cukup untuk membeli sebuah hadiah untuk syanta.</p>
<p>14 Agustus 2009<br />
Diery syanta ingin sekali dapat melihat, sejak lahir hingga dewasa ia hanya dapat melihat kegelapan aku ingin sekali syanta bahagia, kebahagiaannya adalah dapat melihat dunia dan kehidupan ini keluarganya sudah berusaha mencari pendonor mata untuk syanta namun belum juga mendapatkannya, diery setelah ku fikirkan aku akan mendonorkan mataku untuk syanta, diery tadi juga aku mengungkapkan isi hatiku dengannya namun ia menolaku ia ingin menjadi kekasihku jika ia bisa melihat, dan aku memutuskan mendonrkan mataku untuknya agar cintaku dapat terbalaskan.</p>
<p>15 Agustus 2009<br />
Diery hari ini aku dan syanta akan melakukan operasi pencangkokan mata, aku berharap operasi ini berjalan lancar dan syanta dapat menemukan kebahagiaannya&#8230;</p>
<p>Setelah enam hari terakhir ady menulis diery untuk hari ketujuh ia tidak dapat menulis diery lagi karna ia sudah tak dapat melihat, namun ia tak henti menulis diery ia menyuruh vhie menulisnya dengan di dikte&#8230;<br />
Inilah diery terakhirnya</p>
<p>16 Agustus 2009<br />
Diery hari ini syanta sudah dapat melihat, tadi siang ia menemui ku diperkebunan teh ditepi puncak, kata-katanya begitu menyakitkan ia dulu pernah berjanji jika dapat melihat ia akan membalas cintaku namun setelah ia mengetahui bahwa aku tidak dapat melihat ia pergi begitu saja meninggalkan ku dalam keterpurukan, teryata cinta dan janji manisnya hanyalah kepalsuan aku kecewa banget diery.</p>
<p>Setelah membaca diery yang di tulis adhi dalam satu minggu akhirya syanta menyadari kebodohannya, ia duduk terpaku merenung dan berkata dalam hatinya<br />
”apa yang telah aku lakukan, adhi yang begitu tulus mencintaiku dengan bodohnya aku mengecewakannya aku yang selalu memberikan mines 10 karena ia tidak punya handphon namun plus 100 karena ia selalu mengucapkan good night dengan pergi ke wartel yang sangat jauh dan larut malam hanya untuk ku, mines 10 karena jaketnya murah dan plus 100 karena jaket yang sering ku hina itu pernah melindungi ku dari derasnya hujan walaupun ia sendiri merasa kedinginan, mines 10 karena aku yang sering memarahinya karena sering datang telat saat malam minggu namun plus 100 karna ia rela datang untuk menemani kesendiriannku walaupun dengan menggunakan sepeda hingga kakinya sering pegal dan terluka, teryata selama ini aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi mines 10 karna hadiah yang ia berikan hanya sebuah buku diery yang telah ditulisnya dan murahan ini namun plus 100 karna ia membeli buku ini dengan jerih payahnya dan buku ini yang telah membuka mata hati ku.</p>
<p>Setelah ia merenung ia menyesali perbuatannya dan ia lekas menemui adhi di rumahnya namun saat ia sampai di depan rumahnya terlihan bendera kuning memenuhi rumahnya ia terkaget dan bertanya siapa yang meninggal ternyata yang meninggal adalah adhi karna sebuah kecelakaan. Syanta melihat tuduh yang tergulai kaku dengan diselimuti kain kafan putih dan hanya terlihat wajah adhi yang berparas kesedihan, melihat itu air mata syanta mulai berkaca-kaca.<br />
Di tengah keheningan itu tiba-tiba vhie datang menghampiri syanta dan memberikat secarik kertas dengan bertuliskan.<br />
”Syanta semoga kamu bahagia dengan semua ini, aku tau kamu ingin memppunyai kekasih yang sempurna namun kau tak pernah menyadari kesempurnaan bukanlah segalanya dengan tulus aku menyayangi mu walau kau seperti dahulu yang tak sempurna, semoga kamu dapat menemukan kebahagiaan mu dengan melihat dunia yang indah ini semoga mata ku itu  dapat menemanimu hingga akhir hayat mau”<br />
Ternyata syanta menyadari selama ini adhi tidak buta ia sempurna namun ia rela mengorbankan matanya hanya demi kesempurnaan orang yang di sayanginya.<br />
Syanta tidak dapat apa-apa lagi hanya penyesalan dan tangisan yang ia dapat cinta sejatinya tak akan pernah kembali sampai kapanpun.</p>
<p>?    Terimalah apa adanya seseorang yang kita sayangi,<br />
?    Cinta sejati hanya datang sekali (cinta sejati syanta hanya ada di mata adhi),<br />
?    Cintailah cinta ketika cinta itu ada disisimu,<br />
?    Ikuti kata hati jika tidak ingin menyesal.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bangfad.com/sastra/hiduplah-dengan-mataku.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dakwah Rasulullah SAW Ke Thaif</title>
		<link>http://www.bangfad.com/sastra/dakwah-rasulullah-saw-ke-thaif.html</link>
		<comments>http://www.bangfad.com/sastra/dakwah-rasulullah-saw-ke-thaif.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Dec 2009 02:51:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>penyair cinta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Islami]]></category>
		<category><![CDATA[cerita nabi muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[cerita rasullullah]]></category>
		<category><![CDATA[dakwah rasulullah]]></category>
		<category><![CDATA[hikayat sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[kisah muhammad.saw]]></category>
		<category><![CDATA[kisah nabi]]></category>
		<category><![CDATA[kisah nabi muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah sahabat nabi]]></category>
		<category><![CDATA[para sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[perjalanan nabi]]></category>
		<category><![CDATA[rasull]]></category>
		<category><![CDATA[rasulullah ke thaif]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat nabi]]></category>
		<category><![CDATA[suri tauladan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bangfad.com/?p=1220</guid>
		<description><![CDATA[Setelah Sembilan tahun Muhammad diangkat sebagai Rasulullah, beliau masih menjalankan dakwah di kalangan kaumnya sendiri disekitar kota Makkah untuk memperbaiki pola hidup mereka. Tetapi hanya sebagian kecil saja orang yang bersedia memeluk agama Islam atau bersimpati kepadanya, selebihnya selalu berusaha dengan segala daya upaya untuk mengganggu dan menghalangi beliau dan pengikut-pengikutnya. Di antara mereka yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Setelah Sembilan tahun Muhammad diangkat sebagai Rasulullah, beliau masih menjalankan dakwah di kalangan kaumnya sendiri disekitar kota Makkah untuk memperbaiki pola hidup mereka. Tetapi hanya sebagian kecil saja orang yang bersedia memeluk agama Islam atau bersimpati kepadanya, selebihnya selalu berusaha dengan segala daya upaya untuk mengganggu dan menghalangi beliau dan pengikut-pengikutnya. Di antara mereka yang bersimpati dengan perjuangan Nabi adalah Abu Thalib, paman beliau sendiri, namun sayangnya ia tidak pernah memeluk agama Islam sampai akhir hayatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada tahun kesepuluh setelah kenabian Abu Thalib wafat. Dengan wafatnya Abu Thalib ini, pihak kafir Quraisy merasa semakin leluasa mengganggu dan menentang Nabi saw.</p>
<p style="text-align: justify;">Tha’if merupakan kota terbesar kedua dikawasan Hijaz. Di sana terdapat Bani Tsaqif, suatu kabilah yang cukup kuat dan besar jumlah penduduknya. Rasulullah saw pun berangkat ke Tha’if dengan harapan dapat membujuk Bani Tsaqif untuk menerima Islam, dengan demikian beliau akan mendapatkan tempat berlindung bagi pemeluk-pemeluk Islam dari gangguan kafir Quraisy. Beliau pun berharap dapat menjadikan Tha’if sebagai pusat kegiatan dakwah. Setibanya disana, Rasulullah saw mengunjungi tiga tokoh Bani Tsaqif secara terpisah untuk menyampaikan risalah Islam. Namun yang terjadi, mereka bukan saja menolak ajaran Islam, bahkan mendengar pembicaraan Nabi saw pun mereka tidak mau. Rasulullah saw diperlakukan secara kasar dan biadab. Sikap kasar mereka itu sungguh bertentangan dengan kebiasaan bangsa Arab yang selalu menghormati tamunya. Dengan terus terang mereka mengatakan bahwa mereka tidak senang Rasulullah saw dan pengikutnya tinggal di kota mereka. Semula Rasulullah membayangkan akan mendapat perlakuan yang sopan diiringi tutur kata yang lemah lembut, tetapi ternyata beliau diejek dengan kata-kata kasar.</p>
<p style="text-align: justify;">Salah seorang diantara mereka berkata sambil mengejek, “Benarkah Allah telah mengangkatmu menjadi pesuruh-Nya?”. Yang lain berkata sambil tertawa, “Tidak dapatkah Allah memilih manusia selain kamu untuk menjadi pesuruh-Nya?”.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-1220"></span>Ada juga yang berkata, “Jika engkau benar-benar seorang Nabi, aku tidak ingin berbicara denganmu, karena perbuatan demikian itu akan mendatangkan bencana bagiku. Sebaiknya, jika kamu seorang pendusta, tidak ada gunanya aku berbicara denganmu”.</p>
<p style="text-align: justify;">Menghadapi perlakuan ketiga tokoh Bani Tsaqif yang demikian besar itu, Rasulullah saw yang memiliki sifat bersungguh-sungguh dan teguh pendirian, tidak menyebabkannya mudah putus asa dan kecewa. Setelah meninggalkan tokoh-tokoh Bani Tsaqif yang tidak dapat diharapkan itu, Rasulullah mencoba mendatangi rakyat biasa, kali ini pun beliau mengalami kegagalan. Mereka mengusir Rasulullah dari Tha’if dengan berkata. “Keluarlah kamu dari kampong ini! Dan pergilah kemana saja kamu suka!”.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika Rasulullah menyadari bahwa usahanya tidak berhasil, beliau memutuskan untuk meninggalkan Tha’if. Tetapi penduduk Tha’if tidak membiarkan beliau keluar dengan aman, mereka terus mengganggunya dengan melempari batu dan kata-kata penuh ejekan. Lemparan batu yang mengenai Nabi saw, demikian hebat, sehingga tubuh beliau berlumuran darah. Dalam perjalanan pulang, Rasulullah saw menjumpai suatu tempat yang dirasa aman dari gangguan orang-orang jahat tersebut, kemudia beliau berdoa :</p>
<p style="text-align: justify;">“Wahai Tuhanku, kepada Engkaulah aku adukan kelemahan tenagaku dan kekurangan daya upayaku pada pandangan manusia. Wahai Tuhan Yang Maha Rahim, Engkaulah Tuhannya orang-orang yang lemah dan Engkaulah tuhanku. Kepada siapa Engkau menyerahkan diriku? Kepada musuh yang akan menerkam aku atau kepada keluarga yang Engkau tidak marah kepadaku. Sedangkan afiat-Mu lebih luas bagiku. Aku berlindung dengan cahaya muka-Mu yang mulia yang menyinari langit dan menerangi segala yang gelap dan atas-Nyalah teratur segala urusan dunia dan akhirat. Dari Engkau menimpakan atas diriku kemarahan-Mu atau dari Engkau turun atasku azab-Mu. Kepada Engkaulah aku adukan halku sehingga Engkau ridha. Tidak ada daya dan upaya melainkan dengan Engkau”.</p>
<p style="text-align: justify;">Demikian sedihnya doa yang dipanjatkan kepada Allah oleh Nabi saw, sehingga Allah mengutus malaikat Jibril a.s. untuk menemuinya. Setibanya dihadapan Nabi, Jibril a.s. memberi salam seraya berkata, “Allah mengetahui apa yang telah terjadi padamu dan orang-orang ini. Allah telah memerintahkan malaikat di gunung-gunung untuk menaati perintahmu”. Sambil berkata demikian Jibril memperlihatkan para malaikat itu kepada Rasulullah saw.</p>
<p style="text-align: justify;">Kata malaikat itu, “Wahai Rasulullah, kami siap untuk menjalankan perintah tuan. Jika engkau mau, kami sanggup menjadikan gunung disekitar kota itu berbenturan, sehingga penduduk yang ada di kedua belah gunung ini akan mati tertindih. Atau apa saja hukuman yang engkau inginkan, kami siap melaksanakannya”.</p>
<p style="text-align: justify;">Mendengar tawaran malaikat itu, Rasulullah saw, dengan sifat kasih sayangnya berkata, “Walaupun mereka menolak ajaran Islam, saya berharap dengan kehendak Allah, keturunan mereka pada suatu saat nanti akan menyembah Allah dan beribadah kepada-Nya”.</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;"><em>Hikmah dari kisah diatas :</em><br />
Perhatikanlah teladan mulia yang dicontohkan oleh Nabi saw. Kita semua mengaku sebagai pengikutnya, tetapi dalam kehidupan sehari-hari jika keinginan kita ditolak atau tidak disetujui, dengan cepat kita merasa tersinggung dan memaki-maki, bahkan kadang-kadang mempunyai keinginan untuk membalas dendam. Padahal, sebagai pengikutnya kita hendaknya mencontoh beliau. Setelah menerima penghinaan dari penduduk Tha’if, beliau hanya berdo’a dan tidak memarahi mereka, tidak mengutuk mereka, dan tidak mengambil tindakan balasa dendam walupun diberi kesempatan untuk itu.</p></blockquote>
<p><em>Sumber: Fadhail A’mal (ditulis ulang oleh www.antoe.web.id)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bangfad.com/sastra/dakwah-rasulullah-saw-ke-thaif.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hijrahnya Kaum Muslimin Ke HABASYAH</title>
		<link>http://www.bangfad.com/sastra/hijrahnya-kaum-muslimin-ke-habasyah.html</link>
		<comments>http://www.bangfad.com/sastra/hijrahnya-kaum-muslimin-ke-habasyah.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Dec 2009 14:33:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>penyair cinta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Islami]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[cerita nabi muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[hikayat sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[kisah muhammad.saw]]></category>
		<category><![CDATA[kisah nabi]]></category>
		<category><![CDATA[kisah nabi muhammad]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah sahabat nabi]]></category>
		<category><![CDATA[para sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[rasull]]></category>
		<category><![CDATA[suri tauladan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bangfad.com/?p=1214</guid>
		<description><![CDATA[HIJRAHNYA KAUM MUSLIMIN KE HABASYAH Permusuhan dengan kaum kafir menyebabkan penderitaan dan kesu-sahan kaum Muslimin semakin bertambah. Akhirnya Rasulullah saw. meng-izinkan mereka meninggalkan Makkah. Banyak para sahabat yang hijrah ke negeri Habasyah, walaupun pada saat itu Habasyah dipimpin oleh seorang raja Nasrani pada waktu itu dia belum memeluk Islam yang terkenal karena kasih sayang dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>HIJRAHNYA KAUM MUSLIMIN KE HABASYAH</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Permusuhan dengan kaum kafir menyebabkan penderitaan dan kesu-sahan kaum Muslimin semakin bertambah. Akhirnya Rasulullah saw. meng-izinkan mereka meninggalkan Makkah. Banyak para sahabat yang hijrah ke negeri Habasyah, walaupun pada saat itu Habasyah dipimpin oleh seorang raja Nasrani pada waktu itu dia belum memeluk Islam  yang terkenal karena kasih sayang dan keadilannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada bulan Rajab tahun ke-5 sejak Rasulullah saw. menjalankan dakwah, rombongan pertama telah diberangkatkan ke Habasyah. Rombongan itu berjumlah kurang lebih 12 orang lelaki dan 5 orang wanita. Orang-orang kafir Quraisy pun segera mengejar untuk menghalangi kaum muslimin, namun mereka tiba di pelabuhan setelah kapal kaum muslimin bertolak.</p>
<p style="text-align: justify;">Setibanya di Habasyah, rombongan kaum muslimin mendengar kabar burung bahwa seluruh orang Quraisy telah memeluk Islam dan Islam telah mendapat kemenangan. Mendengar berita itu, mereka sangat gembira. Mereka pun memutus-kan untuk kembali ke tanah air mereka. Tetapi ketika hampir tiba di Makkah mereka mendapati bahwa berita itu hanya tipuan belaka. Karena ternyata gangguan dan permusuhan terhadap orang-orang Islam tidak berkurang sedikit pun. Dengan terpaksa mereka segera berlayar kembali ke Habasyah, sedangkan sebagian dari mereka terus memasuki kota Makkah dengan perlindungan orang yang berpengaruh. Peristiwa ini dikenal dengan nama hijrah ke Habasyah yang pertama.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-1214"></span>Tidak lama setelah kejadian itu, satu rombongan sahabat yang lebih besar jumlahnya, yaitu sekitar 83 orang lelaki dan 18 orang wanita telah berhijrah ke Habasyah. Kepergian para sahabat yang kedua ini dikenal dengan sebuatan ‘Hijrah ke Habasyah yang Kedua’. Dalam rombongan hijrah yang kedua ini termasuk di antaranya sejumlah sahabat Nabi yang pernah ikut pada hijrah yang pertama.</p>
<p style="text-align: justify;">Kepergian orang-orang Islam ke Habasyah menimbulkan kemarahan kaum kafirin Quraisy. Mereka mengirim satu rombongan khusus ke Habasyah dengan membawa bermacam-macam hadiah untuk membujuk raja Najasyi dan orang-orang penting di istananya serta pendeta-pendeta Nasrani. Setibanya di Habasyah, mereka segera menemui pembesar-pembesar istana dan para pendeta Nasrani. Dengan menyuap para pembesar istana dan para pendeta itu, mereka berhasil menemui raja. Mereka bersujud di hadapan raja sambil meletakan beraneka macam hadiah* di hadapannya, lalu mereka berkata, ‘Tuanku, sebagian dari warga kami telah meninggalkan agama nenek moyang kami dan telah memeluk agama baru yang bertentangan dengan agama’kami dan agama tuan. Mereka telah datang untuk menetap di sini. Pembesar-pembesar Makkah, orang tua dan kaum kerabat mereka telah mengutus kami untuk membawa mereka kembali. Kami memohon agar tuan bersedia menyerahkan mereka kepada kami.”</p>
<p style="text-align: justify;">Raja Habasyah menjawab, “Kami tidak dapat menyerahkan orang yang telah meminta perlindungan kepada kami tanpa memeriksanya terlebih dahulu. Biarlah mereka dibawa ke hadapan kami supaya kami dapat menelaah perkataan-perkataan mereka. Jika tuduhan kalian benar, kami akan menyerahkan mereka kepada kalian.” Kemudian raja Najasyi menyuruh pegawainya untuk membawa kaum muslimin ke hadapannya. Kaum muslimin merasa khawatir, karena tidak tahu apa yang harus diperbuat, tetapi Allah menolong mereka dan memberikan semangat kepada mereka. Sesampainya di hadapan raja, mereka menyampaikan salam kepada raja. Seorang aparat raja berkata, “Kalian tidak mempunyai sopan santun karena tidak bersujud kepada raja!”</p>
<p style="text-align: justify;">“Nabi kami telah melarang kami agar tidak bersujud kepada selain Allah” jawab mereka. Lalu sang raja meminta mereka untuk menceritakan perihal yang sebenarnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Salah seorang sahabat, yaitu Ja’far r.a. bangun lalu berkata, “Wahai tuan raja! Dahulu kami ini manusia jahil. Kami tidak mengenal Allah dan Rasul-Nya, kami menyembah batu-batu dan memakan bangkai serta menger-jakan berbagai jenis kejahatan yang keji. Kami pun memutuskan hubungan silaturahmi. Yang kuat di antara kami akan menindas yang lemah. Dalam keadaan seperti itu, akhirnya datanglah seorang Nabi yang membawa pemba-haruan dalam kehidupan kami. Keturunannya yang mulia, kejujurannya, dan kehidupannya suci bersih sudah kami kenal dan telah tersebar luas. Beliau mengajak kami supaya menyembah Allah dan meninggalkan perbuatan-perbuatan syirik. Beliau memerintahkan kami agar melakukan yang ma’ruf dan meninggalkan yang mungkar. Beliau mengajarkan kepada kami supaya berkata benar, menunaikan amanah, menghormati kaum kerabat dan berbuat baik terhadap tetangga. Dari beliau kami belajar shalat, puasa, zakat dan berkelakuan baik. Beliau melarang perbuatan zina, berdusta, memakan harta anak yatim secara zhalim, dan memfitnah. Kami diajar supaya menjauhi perbuatan jahat, pertumpahan darah, dan sebagainya. Beliau juga meng­ajarkan kami al Quran, kitabullah yang mengagumkan. Oleh karena itu kami percaya kepada beliau, kami mengikuti jejak langkahnya, dan menerima ajaran yang dibawanya. Karena hal itulah kami diganggu dan disiksa dengan harapan kami kembali kepada agama semula. Karena kekejaman mereka telah melampuai batas perikemanusiaan, maka dengan izin beliau kami datang ke negeri ini untuk memohon perlindungan tuan.”</p>
<p style="text-align: justify;">Raja Najasyi berkata, “Perdengarkanlah sedikit al Quran yang telah engkau pelajari dari Nabi itu.” Kemudian Ja’far r.a. membaca ayat permulaan surat Maryam. Ayat-ayat yang dibacanya sangat mengharukan hati pendengarnya, sehingga pipi-pipi mereka basah oleh air mata.</p>
<p style="text-align: justify;">“Demi Allah!” kata raja Najasyi. “kalimat-kalimat yang dibaca tadi sama dengan kalimat-kalimat yang telah diturunkan kepada Nabi Musa a.s. dan merupakan nur dari sumber cahaya yang sama.” Raja memandang per-wakilan kaum Quraisy lalu mengatakan bahwa ia tidak akan menyerahkan para pengungsi itu kepada mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Sungguhpun orang-orang Quraisy merasa malu dan hampa, namun mereka tidak mau mengaku kalah. Mereka bermusyawarah, kemudian salah seorang dari mereka berkata, “Aku akan mengatakan sesuatu yang tentu dapat menimbulkan kemarahan baginda raja terhadap mereka.”</p>
<p style="text-align: justify;">Usulan ini tidak disetujui oleh beberapa orang Quraisy. Sebagian mereka berpendapat bahwa dengan diterimanya usulan tersebut, berarti kaum muslimin terancam bahaya. Sedangkan mereka tidak menginginkan hal itu terjadi, karena sekalipun telah memeluk Islam, orang-orang itu adalah tetap darah daging dan kerabat mereka. Tetapi orang yang mengajukan usul itu tidak mau membatalkannya. <span style="color: #ffffff;">Copyright © fadlie.web.id</span></p>
<p style="text-align: justify;">Keesokan harinya perwakilan Quraisy ini menghasut raja Habasyah dengan mengatakan bahwa orang-orang Islam ini tidak percaya Nabi Isa itu anak Allah. Sekali lagi orang-orang Islam itu dibawa menghadap raja. Mereka gemetar karena ketakutan. Ketika ditanya mengenai Nabi Isa a.s., dengan tegas mereka menjawab, “Kami percaya kepada firman-firman Allah menge­nai Isa a.s. yang diturunkan kepada Nabi kami, bahwa dia hanyalah seorang hamba dan pesuruh Allah. Kami juga percaya dengan firman-firman Allah yang telah disampaikan kepada Maryam.”<span style="color: #ffffff;">Copyright © fadlie.web.id</span></p>
<p style="text-align: justify;">Raja Najasyi berkata, “Demikian itulah pengakuan Isa tentang dirinya, tidak ada perbedaan sedikit pun.” Para pendeta yang mendengar perkataan raja bersungut-sungut mem-bantah pernyataan itu, tetapi raja tidak menghiraukan mereka. Raja berkata kepada para utusan Quraisy, “Katakan apa keinginan kalian?” Sambil berkata demikian, raja pun mengembalikan hadiah-hadiah yang telah diberikan oleh para utusan Quraisy itu. Kemudian raja mengalihkan perhatiannya kepada orang-orang Islam dan berkata, “Tinggallah kalian di sini dengan aman, orang-orang yang menganiaya kalian akan menerima hukuman yang berat.”</p>
<p style="text-align: justify;">Rombongan para utusan kafir Quraisy pun pulang dengan perasaan kecewa dan malu. Kegagalan perwakilan Quraisy dan kemenangan orang-orang Islam ini menyebabkan kaum musyrikin bertambah berang, apalagi setelah mendengar Umar memeluk Islam. Mereka terus memikirkan bagai-mana caranya menghancurkan kaum muslimin. Akibat kemarahan yang meluap ini maka para pemuka Quraisy mengadakan musyawarah yang tujuan utamanya adalah merencanakan pembunuhan Rasulullah saw. <span style="color: #ffffff;">Copyright © fadlie.web.id</span></p>
<p style="text-align: justify;">Namun membunuh Muhammad itu bukanlah pekerjaan yang mudah. Bani Hasyim yang satu keturunan dengan Muhammad saw. yang jumlahnya cukup banyak dan sangat kuat pengaruhnya, sungguhpun banyak yang belum memeluk Islam, namun sudah pasti mereka tidak akan berdiam diri kalau salah seorang dari kalangan mereka dibunuh. <span style="color: #ffffff;">Copyright © fadlie.web.id</span></p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya dalam musyawarah para pemuka Quraisy itu diputuskan untuk memboikot Bani Hasyim dan Bani Muthalib. Isi keputusan itu menya-takan bahwa orang-orang Quraisy tidak boleh bergaul dengan Bani Hasyim atau pun sebaliknya. Tidak boleh mengadakan jual beli dan berbicara dengan mereka, bahkan tidak boleh berkunjung ke rumah-rumah mereka. Kepu­tusan ini terus berlaku selama Bani Hasyim tidak menyerahkan Muhammad saw. untuk dibunuh. Keputusan tersebut tidak hanya berupa kata-kata, bahkan mereka membuat maklumat tertulis pada tanggal satu Muharram tahun ketujuh kenabian. Maklumat yang ditandatangani oleh tiap pemuka Quraisy itu digantung di dinding Ka’bah supaya semua orang dapat menge-tahui dan mematuhinya.  <span style="color: #ffffff;">Copyright © fadlie.web.id</span></p>
<p style="text-align: justify;">Pemboikotan itu berjalan selama tiga tahun dan selama itu Muhammad beserta Bani Hasyim dan Bani Muthalib terkurung di sebuah lembah di kota Makkah . Mereka tidak dibenarkan keluar dari lembah itu dan tidak diper-bolehkan jual beli dengan kaum Quraisy bahkan dengan pedagang asing sekalipun. Mereka yang melanggar, dihukum dengan hukuman yang kejam. Pemboikotan ini sudah tentu mengakibatkan Bani Hasyim dan yang lainnya menderita kesusahan dan kelaparan. Karena mereka tidak bisa keluar dari lembah itu untuk mendapatkan keperluan mereka dari orang-orang Quraisy, pedagang lain pun tidak berani datang ke tempat mereka. Sebagian kaum wanita yang sedang menyusui, air susunya kering, sehingga tidak dapat menyusui bayinya dan anak-anak mereka menangis menjerit-jerit kelaparan. Untung saja ada sedikit makanan yang diselundupkan oleh para lelaki kaum Quraisy yang telah menikah dengan wanita-wanita Bani Hasyim. Sungguh­pun penderitaan mereka tidak terbayangkan beratnya, namun Nabi Muhammad saw. dan para sahabatnya tetap teguh dalam keimanan mereka, bahkan dalam keadaan demikian, mereka sempat pula menyampaikan risalah Ilahi kepada manusia yang senasib dengan mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Akhirnya setelah tiga tahun berlalu, atas kehendak dan kemurahan Allah Swt, maklumat yang digantung di dinding Kabah itu pun hancur dimakan rayap, dan pemboikotan yang dilakukan terhadap Bani Hasyim dan keluarganya itu dengan sendirinya tidak berlaku lagi.</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;"><strong>Hikmah dari kisah di atas:</strong><br />
Demikianlah secara ringkas gambaran penderitaan yang dialami Nabi dan para sahabatnya. Kita yang mengaku sebagai pengikut-pengikut beliau, patutlah bertanya kepada diri sendiri mengenai usaha yang telah kita lakukan untuk menegakkan syi’ar Islam. Adakah pengorbanan yang telah kita berikan dl, jalan Allah? Kita menginginkan kemajuan dunia dan kenikmatan akhirat tetapi lupa dengan semua ini, bahwa hal ini tidak mungkin diperoleh tanpa pengorbanan di jalan Allah. Saya mengkhawatirkan kalian, hai orang-orang Badwi, kalian tidak akan sampai ke Ka’bah, karena jalan yang kalian tempuh menuju ke Turkist</p></blockquote>
<p style="text-align: center;">Tags: <em>Kisah sahabat nabi, cerita nabi muhammad, kisah muhammad.saw, cerita islam, suri tauladan, hikayat sahabat, para sahabat, rasull, kisah nabi, kisah nabi muhammad.</em></p>
<p style="text-align: left;"><em>Sumber: Fadhail A&#8217;mal (ditulis ulang oleh www.antoe.web.id)<br />
</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bangfad.com/sastra/hijrahnya-kaum-muslimin-ke-habasyah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
