<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kumpulan Sastra Nusantara &#187; Kumpulan Pantun</title>
	<atom:link href="http://www.bangfad.com/sastra/category/kumpulan-pantun/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.bangfad.com</link>
	<description>None</description>
	<lastBuildDate>Sat, 28 Aug 2010 07:05:50 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Mentari Kecil</title>
		<link>http://www.bangfad.com/sastra/mentari-kecil.html</link>
		<comments>http://www.bangfad.com/sastra/mentari-kecil.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 27 Jan 2010 22:37:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Alunan Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Alunan Sajak]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Islami]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Kumpulan Pantun]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi Doa]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi Harapan]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi Malam]]></category>
		<category><![CDATA[puisi alam]]></category>
		<category><![CDATA[puisi insan]]></category>
		<category><![CDATA[puisi kebahagiaan]]></category>
		<category><![CDATA[puisi matahari]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bangfad.com/?p=1266</guid>
		<description><![CDATA[aku bukanlah benalu,&#8230; yang hanya bisa tumbuh dan hidup dari kehidupan &#8220;tumbuhan&#8221; lain mengganggu dan merugikan &#8220;tumbuhan&#8221; itu bukan pula ku layaknya hama yang hanya bisa merusak &#8220;tumbuhan&#8221; orang lain yang dapat dihancurkan kapan saja ketika sang pemilik &#8220;tumbuhan&#8221; menemui titik kebencian bukan pula q layaknya pungguk yang merindukan rembulan berharap dapat q rasakan keindahan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>aku bukanlah benalu,&#8230;<br />
yang hanya bisa tumbuh dan hidup<br />
dari kehidupan &#8220;tumbuhan&#8221; lain<br />
mengganggu dan merugikan &#8220;tumbuhan&#8221; itu</p>
<p>bukan pula ku layaknya hama<br />
yang hanya bisa merusak &#8220;tumbuhan&#8221; orang lain<br />
yang dapat dihancurkan kapan saja<br />
ketika sang pemilik &#8220;tumbuhan&#8221; menemui titik kebencian</p>
<p>bukan pula q layaknya pungguk yang merindukan rembulan<br />
berharap dapat q rasakan<br />
keindahan akan sinarnya,&#8230;<br />
disaat musim penghujan</p>
<p>tp q ingin menjadi mentari kecil<br />
senantiasa pancarkan sinaran<br />
berikan kehidupan pada setiap insan<br />
senyuman senantiasa aku lemparkan<br />
pertanda bahagia dengan kehidupan &#8220;tumbuhan&#8221; itu<br />
juga kebahagiaan setiap insan&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bangfad.com/sastra/mentari-kecil.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Buat Kamu</title>
		<link>http://www.bangfad.com/sastra/buat-kamu.html</link>
		<comments>http://www.bangfad.com/sastra/buat-kamu.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Jul 2009 02:59:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>penyair cinta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Alunan Sajak]]></category>
		<category><![CDATA[Pantun Melayu]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi Hajjar Gibran]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi Kenangan]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi Semangat]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi Ulang Tahun]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Sajak Syair]]></category>
		<category><![CDATA[cinta dan keinginan]]></category>
		<category><![CDATA[cinta puisi]]></category>
		<category><![CDATA[harapan dan keinginan]]></category>
		<category><![CDATA[puisi asa]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[puisi harapan]]></category>
		<category><![CDATA[puisi keinginan]]></category>
		<category><![CDATA[puisi mendung]]></category>
		<category><![CDATA[puisi rindu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bangfad.com/?p=795</guid>
		<description><![CDATA[Judul: Buat Kamu Oleh: Tito kagen itu selalu tumbuh menjalari seluruh tubuh, bagai air yang selalu mengalir hanya ia yang mengerti… Lalu, biarkanlah angin menyapu pasir membawanya terbang bertemu awan bersimpuh, menanti kening langit tak berkerut lagi,, Lalu ia kehilangan cahaya surya, berganti kelabu beku, sampai kau menangis… berteriak dan menghasilkan petir.. dan.. ketika tangis [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: right;">Judul: <strong>Buat Kamu</strong><br />
Oleh:<strong> Tito</strong></p>
<p>kagen  itu selalu tumbuh menjalari seluruh tubuh,<br />
bagai air yang selalu mengalir<br />
hanya ia yang mengerti…<br />
Lalu,</p>
<p>biarkanlah angin menyapu pasir<br />
membawanya terbang bertemu awan<br />
bersimpuh, menanti kening langit tak berkerut lagi,,<br />
Lalu ia kehilangan cahaya surya,<br />
berganti kelabu beku,<br />
sampai kau menangis…<br />
berteriak dan menghasilkan petir..<br />
dan..</p>
<p>ketika tangis terasa tak berarti,<br />
ia datang menghadiahkan mu.,<br />
sebuah pelangi…</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bangfad.com/sastra/buat-kamu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Saat Kucintai Seorang Politikus Di Negeri Anonimus</title>
		<link>http://www.bangfad.com/sastra/saat-kucintai-seorang-politikus-di-negeri-anonimus.html</link>
		<comments>http://www.bangfad.com/sastra/saat-kucintai-seorang-politikus-di-negeri-anonimus.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Apr 2009 01:33:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>penyair cinta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Kumpulan Pantun]]></category>
		<category><![CDATA[Pantun Melayu]]></category>
		<category><![CDATA[Sajak Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Sajak Melayu]]></category>
		<category><![CDATA[Sajak Syair]]></category>
		<category><![CDATA[sajak cinta]]></category>
		<category><![CDATA[sajak misteri]]></category>
		<category><![CDATA[sajak politikus]]></category>
		<category><![CDATA[sajak puitis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bangfad.com/?p=540</guid>
		<description><![CDATA[Saat kucintai seorang politikus Terlenaku oleh rayuan propagandanya setengah mampus Ego dan jaim-ku terbakar hangus Sedikit ada rasa sukaku langsung dia bungkus Saat kuputuskan mengikat cinta dengan politikus Privacy-ku terhapus Nomor handpone-ku disadap terus Hadiah perkawinan dan kunjungan kerja kami diendus-endus Rasa santai dan hidup bersahaja segera diberangus Saat terdengar ada wanita lain dalam kehidupan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #008000;">Saat kucintai seorang politikus<br />
Terlenaku oleh rayuan propagandanya setengah mampus<br />
Ego dan jaim-ku terbakar hangus<br />
Sedikit ada rasa sukaku langsung dia bungkus</span></p>
<blockquote><p><span style="color: #ff0000;">Saat kuputuskan mengikat cinta dengan politikus<br />
Privacy-ku terhapus<br />
Nomor handpone-ku disadap terus<br />
Hadiah perkawinan dan kunjungan kerja kami diendus-endus<br />
Rasa santai dan hidup bersahaja segera diberangus</span></p></blockquote>
<p><span style="color: #ff00ff;">Saat terdengar ada wanita lain dalam kehidupan politikus<br />
Pasrah nelangsa hatiku digerus<br />
Mendengar selalu ada wanita saat ijin proyek ditebus<br />
Membayangkan malam ketika dirinya selingkuh maknyus<br />
Geram dan marah tapi tetap harus terlihat tersenyum tulus</span></p>
<blockquote><p><span style="color: #0000ff;">Saat merenung ketika terpenjara sang politikus<br />
Akibat terbongkar sebuah kasus<br />
Haruskah kusesali keputusan hatiku dulu yang halus<br />
Berteman, terayu, jatuh hati pada sang politikus yang membius<br />
Ataukah belajar memilih di kehidupan terkemudian yang lurus<br />
Untuk siap terbang saat politikus karirnya berhembus<br />
Dan siap tenggelam saat beliau terseret kasus</span></p></blockquote>
<p>Ya,<br />
Telah kucintai seorang politikus<br />
Walau hanya sebentar namun gejolaknya serasa direbus</p>
<p style="text-align: right;"><span style="color: #800000;">From: &#8220;<strong>Posma</strong>&#8221;<br />
Friday, April 17, 2009 10:40 PM</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bangfad.com/sastra/saat-kucintai-seorang-politikus-di-negeri-anonimus.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pantun Melayu Lama</title>
		<link>http://www.bangfad.com/sastra/pantun-melayu-lama.html</link>
		<comments>http://www.bangfad.com/sastra/pantun-melayu-lama.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Dec 2008 04:19:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>penyair cinta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pantun Melayu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bangfad.com/?p=368</guid>
		<description><![CDATA[Sutan Muda dari Lampung, Memikul cangkul dengan bajak, Singgah minum di lepau nasi; Sudah serkah tempat bergantung, Telah patah tempat berpijak, Budi yang baik tetap di hati Banyak orang di Bukit Cina, Daun nanas serak-serakan, Burung tempua di pohon saga; Zaman sekarang ringgit berguna, Emas perak jadi taruhan, Budi baik terpinggir juga. Padi bukit padi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sutan Muda dari Lampung,<br />
Memikul cangkul dengan bajak,<br />
Singgah minum di lepau nasi;<br />
Sudah serkah tempat bergantung,<br />
Telah patah tempat berpijak,<br />
Budi yang baik tetap di hati</p>
<p style="padding-left: 60px;">Banyak orang di Bukit Cina,<br />
Daun nanas serak-serakan,<br />
Burung tempua di pohon saga;<br />
Zaman sekarang ringgit berguna,<br />
Emas perak jadi taruhan,<br />
Budi baik terpinggir juga.</p>
<p><span id="more-368"></span></p>
<p>Padi bukit padi huma,<br />
Taruh mari di dalam peti,<br />
Dibawa orang ke Tanjung Jati;<br />
Budimu tuan saya terima,<br />
Sudah terlekat di dalam hati,<br />
Terpahat kukuh hingga ke mati.</p>
<p style="padding-left: 60px;">Buah lada lebat di pangkal,<br />
Gugur daun dengan buahnya,<br />
Dibawa dagang pergi seberang;<br />
Sungguh ringgit penuh sekapal,<br />
Budi tiada apa gunanya,<br />
Nama pun tidak disebut orang.</p>
<p>Dari Johor ke Majapahit,<br />
Singgah berlabuh di Pulau Bangka,<br />
Ambil muatan gula dan rempah;<br />
Jika masyhur budi yang baik,<br />
Jangan pula mengada-ngada,<br />
Orang keliling jadi menyampah.</p>
<p style="text-align: right;">(Sumber: <em>Hamidah Adam, Batu Pahat, Johor, 2001</em>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bangfad.com/sastra/pantun-melayu-lama.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pantun2 Indonesia Raya</title>
		<link>http://www.bangfad.com/sastra/pantun-pantunan-indonesia-raya.html</link>
		<comments>http://www.bangfad.com/sastra/pantun-pantunan-indonesia-raya.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Dec 2008 05:39:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>penyair cinta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Emha Ainun Nadjib]]></category>
		<category><![CDATA[Kumpulan Pantun]]></category>
		<category><![CDATA[Ainun Nadjib]]></category>
		<category><![CDATA[Emha]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bangfad.com/?p=171</guid>
		<description><![CDATA[inilah pantun-pantun tanpa sampiran Karena yang terburuk sudah sangat telanjang Inilah pantun-pantun hanya sampiran Karena setiap isi tidak boleh diungkapkan Inilah syair pantun-pantunan Untuk pelipur lara koran-koran yang ngumpet di balik kegelapan Untuk para cendekiawan yang arif dan bungkam Untuk kaum seniman yang sibuk main akrobat aliran-aliran Pantun-pantunan untuk mengakali diri sendiri Untuk mentertawakan dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>inilah pantun-pantun tanpa sampiran<br />
Karena yang terburuk sudah sangat telanjang<br />
Inilah pantun-pantun hanya sampiran<br />
Karena setiap isi tidak boleh diungkapkan</p>
<p>Inilah syair pantun-pantunan<br />
Untuk pelipur lara koran-koran yang ngumpet di balik kegelapan<br />
Untuk para cendekiawan yang arif dan bungkam<br />
Untuk kaum seniman yang sibuk main akrobat aliran-aliran</p>
<p><span id="more-171"></span></p>
<p>Pantun-pantunan untuk mengakali diri sendiri<br />
Untuk mentertawakan dan memaafkan semakin kecilnya nyali<br />
Di negeri yang sedikit-sedikit dicurigai<br />
Di negeri yang sedikit-sedikit ditunggangi</p>
<p>Pantun-pantunan Aceh, Asmat, dan Madura juga<br />
Yang tergabung dalam kesatuan nusantara<br />
Meskipun para perampok akhirnya ketahuan semua<br />
Emangnya Lu bisa apa</p>
<p>Tiga setengah abad darah<br />
Tiga setengah abad airmata<br />
Kepada Londo mancanegara boleh kita luapkan amarah<br />
Tapi kepada Londo domestik hati kita sangat pemurah</p>
<p>Ayam hutan terbang ke angkasa raya<br />
Ayam kampung mematuki apa saja sekenanya<br />
Dengan pembangunan kita jamin kebebasan berbicara<br />
Dengan syarat mulut jangan sampai terbuka</p>
<p>Kalau sungai tak mengalir lagi airnya<br />
Itu sungai malas namanya<br />
Kalau keadilan telah terlaksana<br />
Tanah air kita bagi sekeluarga</p>
<p>Keluarga kecil keluarga bahagia<br />
Dua anak cukup, lelaki perempuan sama saja<br />
Lima kali lima berapa jumlahnya<br />
Bergantung mayoritas saham untuk siapa</p>
<p>Sungai-sungai masuk ke muara<br />
Menyatu dengan gelombang samudera<br />
Saya pernah lihat ada negeri yang tak terkirakan indahnya<br />
Terutama karena sangat banyak jenis malingnya</p>
<p>Di hutan belantara lantunkan tembang<br />
Di padang perdu perdengarkan seruling<br />
Silahkan pakai asas keterbukaan<br />
Asalkan tidak takut ditempiling</p>
<p>Unggas bernyanyi menyatakan cinta<br />
Kuda lari kakinya terantuk<br />
Ada saat dewan rakyat dua tugasnya<br />
Pertama bilang ya, kedua mengantuk</p>
<p>Trembesi ya trembesi<br />
Tangan jangan terlalu banyak durinya<br />
Korupsi ya korupsi<br />
Tapi jangan segitu dong jumlahnya</p>
<p>Polusi ya polusi<br />
Tapi dimusnahkan dong limbahnya<br />
Kolusi ya kolusi<br />
Tapi dihukum doong tukang katabelecenya</p>
<p>Sungai ya sungai<br />
Tapi jangan dicemari airnya<br />
Monopoli ya monopoli<br />
Tapi ya jangan monopoli</p>
<p>Kemerdekaan membuat kita bersatu<br />
Pembangunan melebur segala kubu<br />
Tanahku adalah tanahku<br />
Tanahmu adalah tanahku</p>
<p>Kata burung garuda: kalau sudah bersatu<br />
Jangan bertengkar karena suku dan agama<br />
Kata orang Madura: kalau pemilu<br />
Sepau bapak jangan mampir-mampir di hidung saya</p>
<p>Inilah pantun-pantunan tigabelas ribu kepulauan<br />
Demi buang angin agar tak sakit perut ini<br />
Sesekali kita mencoba jujur kepada kebenaran<br />
Agar tak cepat berlalu kemesraan ini</p>
<p><em>1994</em></p>
<p><em>Ainun Nadjib, Emha. 1994 (Cet. Ke-1). Abacadabra Kita Ngumpet&#8230;. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya bekerjasama dengan Komunitas Pak Kanjeng. Hal. 16—19.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bangfad.com/sastra/pantun-pantunan-indonesia-raya.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
