<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Kumpulan Sastra Nusantara &#187; Cerita Cinta</title>
	<atom:link href="http://www.bangfad.com/sastra/category/sebuah-cerita/cerita-cinta/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.bangfad.com</link>
	<description>None</description>
	<lastBuildDate>Sat, 28 Aug 2010 07:05:50 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Dua Potongan Kecil &#8211; kepingan pertama</title>
		<link>http://www.bangfad.com/sastra/dua-potongan-kecil-kepingan-pertama.html</link>
		<comments>http://www.bangfad.com/sastra/dua-potongan-kecil-kepingan-pertama.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 May 2010 09:59:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Alunan Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Bersambung]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[Sebuah Cerita]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[Thriller]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bangfad.com/?p=1298</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah cerita fiksi yang bermula di Roma, Italia...

Seorang 'sniper' yang berprofesi sebagai pembunuh bayaran (Roque) terjebak dalam sebuah kasus. Hidupnya mulai tak tenang dan selalu berpacu dalam pelarian. Ia berpindah-pindah tempat dari Madrid, Roma, sampai ke Veniche. Sementara itu, pembunuhan berantai yang misteriu...s terjadi di Paris....

Beberapa waktu kemudian, Roque 'mendapatkan' pekerjaan kembali. Seorang mafia Italia membayarnya untuk sebuah misi pembunuhan terhadap seorang utusan kelompok sindikat perdagangan opium dari Kuba. Ketika tiba saat pelaksanaan, terjadi sesuatu kejanggalan hingga akhirnya Roque gagal.
inilah kegagalan pertama Roque yang sekaligus mengantarkannya pada masalah besar. Pertaruhan hidup dan matinya dimulai disini.

Saat Roque berjuang menghadapi maut, ia mendapati sebuah benda kuno dari peradaban Jepang ditahun 1810. Benda yang menyerupai lencana tersebut berisi artikel tentang sebuah legenda yang berasal dari zaman itu. Sebuah legenda yang secara mengejutkan telah mengatur hidup Roque, ternyata isinya adalah ketetapan takdir yang harus ia jalani.

Lalu, siapakah jati diri sebenarnya dari seorang Roque?
Apakah sebenarnya masalah yang di hadapi Roque?
Apa penyebab kegagalannya?
Apa keterkaitan ia dan orang-orang di sekelilingnya terhadap legenda tersebut?

temukan jawabannya pada sebuah kisah yang cerdas, seru, dan menarik dalam sebuah novel "Dua Potongan Kecil" karya Andri Nugraha.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: right;"><em><strong>Copyright By: Andri Nugraha<br />
noedley_andreij@yahoo.com</p>
<p>http://kotakcerita-andri.blogspot.com</p>
<p>http://noedleylab.wordpress.com</strong></em></p>
<p style="text-align: justify;">Legenda Sang Penguasa menciptakan Dunia dengan serangkaian kejadian… Ia menunjuk Alam sebagai bentuknya…Kemudian…Atas kehendak-Nya, Takdir memanggil dan menebarkan manusia laksana potongan-potongan kecil untuk melengkapi rangkaian tersebut Mereka membawa berbagai keanekaragaman untuk tetap saling melengkapi Lalu Sang Waktu diputar dan mulai menghitung mundur… Berabad-abad lamanya di hari yang lain… Sang Penguasa menciptakan kembali sepasang potongan kecil, Untuk kembali melengkapi rangkaian Dunia Mereka sama, namun memiliki keanekaragaman berbeda Kedua potongan kecil itu serupa, tetapi terlahir dari rahim yang berlainan Mereka adalah satu jiwa yang terpisah ke dalam dua raga</p>
<p style="text-align: justify;">Manusia yang akan menentukan kemana arah rangkaian itu akan berjalan, Dan manusia juga-lah yang akan membentuk wajah dunia nanti… Karenanya… Takdir mengutus kedua potongan tersebut turun ke dunia, Hingga pada suatu saat mereka akan di pertemukan.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika waktu itu telah tiba… Mereka sendirilah yang akan menentukan siapa yang akan menjadi bagian dari rangkaian tersebut. Karena hanya ada satu tempat yang akan diisi oleh salah satu dari keduanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Satu dari keduanya akan terpanggil pulang, Dan yang satu lagi… Dialah yang akan mengisi tempat itu, Melengkapi rangkaian tersebut, Agar dunia tetap berputar… Dan berjalan sampai pada waktu yang telah ditentukan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong><span id="more-1298"></span>Kepingan Pertama</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Roma, Italia_ 3 Februari 2008, 10.00 am</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Hari Minggu pertama di bulan Februari. Musim dingin tak lama lagi akan berakhir di Italia. Roma, salah satu tempat paling bersejarah di dunia. Tepat di ibu kota Italia inilah dinasti kerajaan Romawi pernah berjaya dan mencengkeramkan cakarnya selama beberapa dekade. Kota dengan peradaban tua terbesar ini sangat terkenal di seluruh penjuru. Tak sedikit seniman-seniman besar dan tokoh-tokoh penting terlahir dari kota ini. Sebut saja <em>Leonardo Da Vinci</em>, semua karya-karya besarnya dikenal mendunia. Selain itu, Roma juga mempunyai banyak tempat-tempat penting yang selalu menyedot perhatian publik. Diantaranya; beberapa monument dan tempat bersejarah seperti <em>Vatican</em>, <em>Colloseum</em>, <em>Castello Sant Rome</em>, <em>Pantheon</em>, dan lain-lain. Musium-musium besar seperti <em>Capitoline Museum in Rome</em>, <em>Museo Nazionale Romano</em>, dan sebagainya. Ada juga <em>converence</em> atau <em>event centers</em> seperti <em>Stadio Olimpico Rome</em> dan <em>Flaminio Stadium</em>. Dan masih banyak lagi seperti <em>shopping centers</em>, universitas, <em>attractions</em>, serta tempat-tempat penting lainnya. Semua itu menghiasi Roma seakan melengkapi keindahan kota tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Dering nada ponsel yang setengah memekak-kan telinga membangunkan Roque yang saat itu masih terlelap dalam tidurnya.  Dengan masih berpakaian lengkap, ia terlihat sangat berantakan di atas tempat tidur. Dan memang selalu seperti itu. <em>Jeans </em>dan <em>t-shirt</em> yang membalut tubuhnya, ditambah sepatu kulit yang sepertinya enggan untuk ia lepas. Penampilan Roque saat itu sama berantakan seperti kamarnya. Selain kotor dan pengap, ruangan di apartement tua lantai 21 itu kelihatan tak tertata rapih. Banyak barang-barang yang terletak tidak pada tempatnya. Barisan sarang laba-laba terlihat di beberapa sudut atas kamar. Ditambah dengan cat tembok yang kusam, semua itu seakan ikut melengkapi pesta <em>Halloween</em> di kamar Roque. Dan lebih parahnya lagi, di salah satu sudut kamar, terlihat tempat sampah kecil yang sudah sangat penuh. Sampah-sampah itu akhirnya berserakan di sekitar tempatnya karena sudah tak bisa menampung lagi. Mungkin Roque bukanlah seorang penata ruang yang baik. Tapi bisa dipastikan, siapapun yang menyaksikan pemandangan itu, orang itu akan berkata, “Oh my God!” Lalu setelah shocking terapi tersebut akan muncul sebuah pertanyaan, “sebenarnya apa saja yang dilakukan orang ini setiap harinya?”</p>
<p style="text-align: justify;">Roque beranjak terperanjat dari tidurnya. Mengusap mata, lalu menengok ke arah jendela di sebelah kanan tempat tidur. Ternyata hari sudah siang. Matahari sudah bersinar terik. Diambilnya sebotol <em>Teaquila</em> yang baru semalam ia beli. Roque membuka jendela dan sejenak menghela nafas panjang. Udara di luar terasa lebih segar tentunya. Dari jendela kamar ini Roque biasa menikmati pemandangan luar.  Ada beberapa keistimewaan dari apartement tua lantai 21 yang sudah dua tahun ia tinggali ini. Selain harga sewa yang murah tentunya, keindahan kota Roma tereksplorasi dengan jelas dari sisi ini. Kesibukan lalu lintas kota Roma, sungai <em>Tevere</em> yang membentang indah, beberapa bangunan bersejarah dan gedung pencakar langit bisa dinikmati dari jendela kamar Roque. Bila semua itu dipadukan dengan mentari pagi khas Italia, secangkir <em>cappuccino</em> dan sepotong <em>pizza</em>, siapapun akan terkesan menikmatinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Roque membuka pesan yang baru saja masuk di ponselnya. Sebuah pesan tanpa identitas si pengirim, <em>“Leonardo Da Vinci Airport, Baccardi and Corona cigar on the table corner of food court, 02.30 pm”</em></p>
<p style="text-align: justify;">***</p>
<p style="text-align: justify;"><!--more--></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Leonardo Da Vinci Airport, Roma, Italia – 02.15 pm</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pesawat baru saja <em>landing</em> beberapa saat lalu. Seperti biasa, setiap harinya bandara udara <em>Leonardo Da Vinci</em> selalu sibuk dengan aktifitas penerbangan. Hampir seluruh jalur penerbangan dari dan menuju Italia di dominasi oleh bandara udara no.1 di kota Roma ini. Hiruk-pikuk para eks penumpang masih terlihat di <em>hall</em> bandara. Sementara itu seorang pria paruh baya dengan mengenakan <em>tuxedo</em> terlihat diantara kerumunan tengah berjalan memisahkan diri kemudian berhenti tepat di depan ruang tunggu penumpang. Pria Amerika ini beberapa kali menoleh pada <em>rolex</em> di lengan kanan-nya kemudian berulang kali menengok-nengok ke sekeliling. Tampaknya ia sedang menunggu seseorang. Tentu saja orang yang ia kenal yang telah membuat janji dan akan menemuinya. Tak berselang lama, orang yang ia tunggu datang. Seorang pria Italia berbadan tegap, sedikit lebih muda darinya, dan sama-sama mengenakan <em>tuxedo</em> juga. Setelah berjabat tangan dan sedikit tegur sapa, mereka berdua langsung berjalan menuju <em>food court</em> di lantai dasar bandara.</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka telah duduk di tempat yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Orang Amerika tersebut menuangkan <em>Baccardi</em> yang telah tersaji di atas meja, kemudian memulai pembicaraan</p>
<p style="text-align: justify;">“Baiklah Filippo, siapa eksekutor yang kau percaya kali ini?”</p>
<p style="text-align: justify;">“Santai saja Bill, kali ini kau bisa pegang janjiku” Filippo menjawab sambil menyalakan rokoknya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Terlalu banyak orang-orang yang tidak bisa kuperacaya, terlalu banyak orang-orang yang tidak <em>professional</em>”</p>
<p style="text-align: justify;">“Tapi yang ini adalah pengecualian”</p>
<p style="text-align: justify;">“Ingat Filippo, dua orangmu yang terdahulu telah gagal dan mengecewakanku”</p>
<p style="text-align: justify;">“Ya, karena itu aku tak ingin mengulangi kesalahanku untuk yang ketiga kalinya”</p>
<p style="text-align: justify;">“Kalau begitu siapa orang yang kau maksud?” Bill mulai penasaran, tapi kali ini ia tak mau kecewa lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">“Black Jaguar…” Filippo menuangkan kembali Baccardi ke dalam gelasnya dan gelas Bill, pertanda ia akan mulai serius bercerita. Ia terlihat sangat bersemangat kali ini. “Seorang pria berdarah Mexico. Tubuh atletis, kulit sawo matang, tampan, kumis tipis dan sedikit brewok di pipi. Usia sekitar 27 tahun-an, masih muda dan berambisi. Selain itu ia juga dikenal mempunyai intelegensi tinggi”</p>
<p style="text-align: justify;">“Kelihatannya kau sangat mengetahui orang ini” Bill mulai terkesan dengan orang yang Filippo ceritakan.</p>
<p style="text-align: justify;">“Jujur saja untuk yang satu ini aku sangat tertarik mencari info sebanyak-banyaknya. Menurut berita yang kudengar ia tak pernah tercatat di kesatuan manapun. Tetapi reputasinya sangat hebat. Satu peluru, satu tembakan, dan satu nyawa!”</p>
<p style="text-align: justify;">“Apa maksudmu?” Bill semakin penasaran</p>
<p style="text-align: justify;">“Kabarnya… ia tak pernah gagal dalam menjalankan aksinya”</p>
<p style="text-align: justify;">Belum selesai pembicaraan mereka, orang yang sejak tadi mereka bicarakan sudah berdiri dihadapan mereka berdua. Roque, mengenakan jeans, <em>sweater</em> dan topi hitam. Penampilannya membuat ia terkesan tak serius didepan Bill dan Filippo.</p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Leonardo Da Vinci Airport, Baccardi and Corona cigar on the table corner of food court, 02.30 pm</em>” Roque berkata sambil melihat arloji di lengan kanannya.</p>
<p style="text-align: justify;">“<em>Welcome Black Jaguar!</em>&#8230; kau datang tepat waktu. <em>The professional one!</em>” Filippo menyapa Roque. Bill pun ikut beranjak dari tempat duduknya, menyambut Roque dengan antusias</p>
<p style="text-align: justify;">“Panggil saja aku Roque. Aku tak suka dengan julukan itu! Lagipula aku masih tak habis pikir siapa orang yang pertama kali memberiku julukan itu!” Roque berkata tanpa menatap lawan bicaranya</p>
<p style="text-align: justify;">“Silahkan Roque” Filippo mempersilahkan Roque duduk. “Sebelumnya perkenalkan, saya Filippo, orang yang mengirim pesan tersebut. Dan ini Bill, partner bisnis saya. ia baru saja tiba dari Washington”</p>
<p style="text-align: justify;">“Langsung saja” Roque berkata dengan angkuh dan masih tak menatap mereka berdua</p>
<p style="text-align: justify;">“Masalah hutang-piutang”, Bill meneguk minuman yang ia pegang, kemudian melanjutkan berbicara, “Aku terlilit hutang dengan salah satu partner bisnisku di Amerika. Namanya George, ia adalah salah satu pengusaha terkaya di Amerika, bahkan Eropa dan dunia. Perusahaannya tersebar dimana-mana, dan sekarang ia sedang membentangkan sayap-sayap bisnisnya di kawasan Asia-Afrika”</p>
<p style="text-align: justify;">“Lalu?” Roque bertanya kepada Bill, menyalakan <em>Marlboro</em> dan menuangkan <em>Baccardi</em> ke dalam gelasnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Masa pelunasan hutangku sudah berakhir sebulan yang lalu dan sampai saat ini aku belum bisa membayarnya”</p>
<p style="text-align: justify;">“Itu karena kau tak berniat melunasinya” Roque berkata dengan wajah dingin dan sinis.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hahahaha… <em>instinc</em>-mu luar biasa!”</p>
<p style="text-align: justify;">Sebenarnya Bill tersinggung dengan sindiran Roque, tapi ia hanya bisa terkagum dengan orang yang ia hadapi kali ini.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kalau aku membayar hutangku pada George, itu sama artinya dengan memberikan daging segar pada seekor singa serakah yang sedang kelaparan. Nanti jika sudah merasa lapar lagi, ia pasti akan melahap mangsa-mangsa berikutnya”, Bill melanjutkan perkataannya</p>
<p style="text-align: justify;">Filippo akhirnya mulai angkat biacara, “Bill dan George memiliki saham dibeberapa perusahaan yang sama. Kalau saja George bisa disingkirkan, maka seluruh saham tersebut akan menjadi milik Bill. Tidak hanya hutangnya yang lunas, kekayaan Bill pun akan bertambah”</p>
<p style="text-align: justify;">“Kalian berdua sama serakahnya” lagi-lagi Roque berbicara dengan sinis, “Kalau begitu berapa mahal harga yang akan kau bayar untuk sebutir timah panasku?”</p>
<p style="text-align: justify;">“Dua ribu lima ratus dolar, setengah dimuka, sisanya akan masuk rekeningmu setelah berita keberhasilanmu termuat di <em>headline Times</em>. Bagaimana?” Bill mengajukan penawaran</p>
<p style="text-align: justify;">“Baiklah, mana deskripsinya? Aku tak punya banyak waktu untuk melatih singa-singa sirkus disini”</p>
<p style="text-align: justify;">Sejenak Bill dan Filippo saling bertatapan. Mereka berdua terlihat agak kesal dengan sikap angkuh Roque sejak tadi. Tapi biar bagaimanapun, mereka sangat membutuhkan jasa Roque saat itu</p>
<p style="text-align: justify;">“Foto, data dan semua yang kau butuhkan ada di dalam amplop ini” Filippo membuka tas dan menyerahkan sebuah amplop berwarna cokelat kepada Roque</p>
<p style="text-align: justify;">“Aku ingin kau menyelesaikannya dengan baik” Bill berpesan pada Roque</p>
<p style="text-align: justify;">“Aku tak pernah gagal mendaratkan peluruku dimanapun tempat yang kuinginkan” setelah itu Roque berlalu begitu saja meninggalkan mereka berdua tanpa menguacapkan sepatah katapun.</p>
<p style="text-align: justify;">***</p>
<p style="text-align: justify;">Roque berpacu melintasi jalanan kota Roma diatas <em>Blazer</em> hitamnya. Dibukanya amplop yang baru saja ia terima. Sejenak ia tampak serius mengamati isi dalam amplop itu, lalu tak lama kemudian senyum kecil terlintas di bibirnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat ini Roque tengah memasuki <em>Via Delle   Fornacci, ia menuju suatu tempat dimana ia sering menghabiskan waktunya disana. Gianni Vallota café</em>. Hampir setiap hari Roque datang ke tempat itu hanya untuk sekedar bermalas-malasan sambil menikmati beberapa <em>cake</em> kesukaannya. Tak banyak orang yang ia kenal di Roma, bahkan ia hanya memiliki satu-satunya teman dekat di Italia, Andrea. Seorang wanita cantik berkebangsaan Italia ini merupakan satu-satunya orang yang benar-benar tahu siapa Roque sebenarnya. Dan salah satu alasan mengapa Roque sering datang ke tempat itu karena Andrea adalah wanita yang bekerja sebagai pelayan di tempat tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Banyak hal yang Roque sukai dari tempat ini. Selain faktor Andrea tentu saja, Roque sangat menyukai hal yang bernuansa alami, dan di café yang mengusung tema natural ini, ia dapat menikmati menu-menu kesukaannya dalam suasana seperti di alam terbuka. Seluruh ruangan menghadirkan konsep <em>indoor garden</em> layaknya pameran peragaan tanaman. Belum lagi beberapa dekorasi bertema alam terdapat di setiap sudut ruangan. Dan kemana saja kau berjalan di dalam café tersebut, maka kau akan selalu menemukan lukisan-lukisan indah di setiap sisi dinding. Sebuah seni maha agung yang terbungkus oleh alam. Itulah atmosfir yang selalu menarik Roque untuk selalu kembali ketempat ini, dan sekali lagi- itu selain faktor Andrea.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah memarkirkan mobil, Roque langsung masuk dan duduk di tempat favoritnya. Andrea melihat kedatangan Roque dan langsung menghampirinya dengan membawakan daftar menu.</p>
<p style="text-align: justify;">“Siang Roque, The Black Jaguar! Tidak seperti biasanya kali ini kau datang terlambat” Andrea menyapa Roque</p>
<p style="text-align: justify;">“Jangan menyebut nama itu keras-keras!” Roque memperingatkan Andrea dengan suara pelan</p>
<p style="text-align: justify;">“Ups… maaf, aku terlalu bersemangat. Kau pasti takut ada yang mengenal nama itu dan mendengarnya”</p>
<p style="text-align: justify;">“Huhh… sudah berulang kali kukatakan, aku tidak suka dengan nama itu. Lagipula aku masih tak habis pikir siapa orang yang pertama kali menjulukiku dengan nama itu!” Roque menyalakan <em>Marlboro</em>-nya</p>
<p style="text-align: justify;">“Aku” Andrea sedikit tersenyum</p>
<p style="text-align: justify;">“Apa?!” Roque terkejut menatap Andrea</p>
<p style="text-align: justify;">“Ya, aku orang yang pertama kali menjulukimu dengan nama itu. Masih tak suka?” Andrea balas manatap Roque</p>
<p style="text-align: justify;">“Dasar wanita aneh!” Roque bergumam dengan wajah keheranan</p>
<p style="text-align: justify;">“Apanya yang aneh?”</p>
<p style="text-align: justify;">“Cepat bawakan aku makanan seperti biasa, tapi kali ini aku minum <em>soft drink</em> saja” Roque mengacuhkan pertanyaan Andrea.</p>
<p style="text-align: justify;">Andrea segera mengambil pesanan Roque dan tak lama kemudian ia kembali ke meja Roque membawakan pesanannya. “Menurutku itu nama yang bagus” Andrea melanjutkan kembali pembicaraan mereka yang sempat terputus tadi</p>
<p style="text-align: justify;">“Aku pikir wanita seharusnya lebih menyukai hewan yang lucu, seperti kucing misalnya. Bukan hewan menyeramkan seperti itu!” Roque berbicara sambil menikmati hidangan yang baru saja datang</p>
<p style="text-align: justify;">“Siapa yang mengharuskan? Aku tak berfikir ia menyeramkan! Justru menurutku ia adalah hewan yang gagah! Aku terkesan karena ia kuat dan tangguh. Lagipula, ia juga lucu kok!. Buktinya aku bisa berteman baik dengannya! Dan yang terpenting, <em>black jaguar</em> adalah sosok yang misterius, sangat cocok untuk menggambarkan dirimu” Andrea tersenyum pada Roque.</p>
<p style="text-align: justify;">“Jadi kau pikir aku ini pria misterius?!” Roque menyalakan <em>Marlboro</em> lagi</p>
<p style="text-align: justify;">“Bagi sebagian orang yang tidak mengenalmu dan hanya menggunakan keahlianmu untuk kepentingan mereka, mungkin iya. Tapi bagiku, kau adalah pria yang…”</p>
<p style="text-align: justify;">“Barusan aku dapat <em>job</em> lagi” Roque memotong pembicaraan. Ia berusaha menutupi perasaannya. Tapi Andrea adalah orang yang sangat mengenal roque, ia tahu betul apa yang sedang dilakukan Roque. Andrea hanya tersenyum</p>
<p style="text-align: justify;">“Untuk siapa lagi? Orang-orang Federal itu?”</p>
<p style="text-align: justify;">“Bukan”</p>
<p style="text-align: justify;">“CIA?”</p>
<p style="text-align: justify;">“Bukan juga. Aku tidak ingin berurusan dengan orang-orang itu lagi”</p>
<p style="text-align: justify;">“Atau senator Amerika itu?”</p>
<p style="text-align: justify;">“Bukan. Memangnya kau pikir ia punya berapa banyak musuh sehingga harus sering berhubungan denganku?”</p>
<p style="text-align: justify;">“Lalu?” Andrea mulai terlihat penasaran</p>
<p style="text-align: justify;">“Seorang pengusaha dari Amerika. Tawarannya lumayan bagus jadi harus kuambil”</p>
<p style="text-align: justify;">“Kurasa sebentar lagi kau sudah mendapatkan yang kau inginkan”</p>
<p style="text-align: justify;">“Ya, hanya tinggal beberapa langkah lagi. Ini salah satunya” setelah itu Roque terdiam, sesaat ia memandang ke jendela di sebelah kanan tempat duduknya. Ia melihat orang-orang yang sedang berlalu-lalang diluar sana. “Aku ingin seperti mereka, bisa menikmati hidup dengan tenang dan damai. Aku sudah bosan menjadi malaikat pencabut nyawa” ia merundukkan kepalanya dan menghela nafas panjang.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kau punya alasan kuat untuk semua itu Roque” Andrea menatap Roque dengan tajam, memegang erat pundaknya, dan tersenyum padanya</p>
<p style="text-align: justify;">“Ya, semoga saja begitu. Aku ingin segera mengakhiri pekerjaan kotor ini dan pergi meninggalkan Italia menuju surgaku di Mexico”</p>
<p style="text-align: justify;">“Ada pembeli datang, aku melayaninya dulu ya” Andrea melihat seorang pengunjung datang dan langsung beranjak dari hadapan Roque</p>
<p style="text-align: justify;">“Hei, kalau begitu jika kau pulang ke Mexico nanti aku ikut ya?” Andrea berkata pada Roque dengan setengah berteriak dari <em>counter</em> tempatnya berdiri</p>
<p style="text-align: justify;">“Tadinya aku akan memaksamu kalau kau tak mau ikut” Roque menjawab dengan hal yang sama. Andrea hanya tersenyum pada Roque</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah itu pembicaraan mereka berlanjut, hingga tak terasa hari sudah mulai petang. Roque kembali ke apartementnya.</p>
<p style="text-align: justify;">***</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Setelah melewati 21 lantai, kini Roque telah berada di kamarnya. Ia melepas topi dan <em>sweater</em> lalu melemparkannya begitu saja ke atas tempat tidur. Ia berjalan menuju lemari es, membukanya dan mengambil sebotol <em>Carlsberg</em> diantara beberapa botol minuman yang ada di dalam lemari es tersebut. Roque membuka botol bir tersebut dengan giginya, setelah itu ia membuka jendela lalu duduk di kursi yang terletak disamping jendela tersebut. Sambil menenggak bir, ia mengeluarkan ponsel dari saku <em>jeans</em> kemudian menghubungi seseorang. Selagi menunggu panggilannya dijawab, Roque menyalakan <em>Marlboro</em>-nya yang tinggal tersisa sebatang, lalu melemparkan bungkus rokok yang sudah kosong itu ke tempat sampah. Tentu saja bungkus rokok tersebut tak masuk ke dalam tempat sampah itu tetapi malah tergeletak disampingnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Panggilan telepon Roque tidak kunjung diangkat juga, ia menutup kembali ponsel itu dan meletakkannya diatas meja. Roque berdiri dan berjalan kearah jendela. Beberapa saat ia berdiri di sana melihat-lihat pemandangan di sekeliling. Sesaat kemudian ponsel diatas meja berdering. Ia buru-buru meraihnya, berganti meletakan botol <em>Carlsberg</em> di meja.</p>
<p style="text-align: justify;">“Halo, Roque the black jaguar! Lama tak jumpa Kawan” suara orang tersebut samar-samar terdengar di ponsel Roque.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ya, beberapa bulan terakhir ini aku tak ada pekerjaan”</p>
<p style="text-align: justify;">“Hahaha… sudah lama aku menunggu kabar darimu”</p>
<p style="text-align: justify;">“Kalau bukan karena pekerjaan, aku tak sudi berhubungan dengan orang seperti kau” Roque menghirup dalam-dalam rokok terakhirnya lalu mematikan rokok tersebut kedalam asbak</p>
<p style="text-align: justify;">“Hahahaha… kau tak pernah berubah! Selalu saja begitu. Tapi tak apa, aku selalu kagum padamu. Kalau bukan karenamu, rasanya sangat sulit untuk mendaratkan peluruku ditempat orang-orang penting, orang-orang kaya yang terkenal dan bedebah itu! Hahaha… aku selalu bangga padamu Roque!”</p>
<p style="text-align: justify;">“Sampai kapan kau terus menggonggong seperti itu?!” Roque berkata dengan suara dan wajah dingin</p>
<p style="text-align: justify;">“OK, OK… baiklah kawan, kita langsung pada pokok pembiacaraan, apa yang kau butuhkan?” orang tersebut cukup mengenal karakter Roque yang tak suka berbasa-basi dan sulit diterka selera humornya</p>
<p style="text-align: justify;">“<em>55gr Lapua Scenar</em>, kita bertemu di tempat biasa pukul 11.00 malam ini. Datanglah sendirian” Roque langsung menutup ponselnya. Ia mengambil botol bir tadi<em> </em> lalu kembali ke jendela. Tak berselang lama, ponsel Roque berdering kembali. Ia menghabiskan minuman yang sedang ia pegang terlebih dahulu kemudian mengangkat ponselnya</p>
<p style="text-align: justify;">“Bagaimana Roque, kau sudah berhasil menghubunginya?” ternyata orang yang menelepon Roque kali ini adalah Andrea</p>
<p style="text-align: justify;">“Ya, semuanya sudah beres”</p>
<p style="text-align: justify;">“Kapan kau mendapatkan barangnya?”</p>
<p style="text-align: justify;">“Nanti malam aku akan bertransaksi dengannya”</p>
<p style="text-align: justify;">“Sementara ini cuma dia satu-satunya orang yang bisa kita hubungi. Aku kesulitan mencari orang lain. Mereka menghilang entah kemana, bahkan menurut informasi yang kuterima, beberapa dari mereka telah tertangkap”</p>
<p style="text-align: justify;">“Ya, aku sudah mengetahui hal itu. Akhir-akhir ini polisi Italia tengah memperketat keamanan mereka. Akibatnya para penyelundup sialan itu jadi kerepotan”</p>
<p style="text-align: justify;">“Setelah ini aku akan mencarikanmu agen senjata api yang lain. Alinsky terlalu berbahaya buat kita. Orang Rusia terlalu mencolok dimata polisi Italia”</p>
<p style="text-align: justify;">“Maaf telah melibatkanmu terlalu jauh”</p>
<p style="text-align: justify;">“Hei-hei-hei… sudahlah… jangan pernah mencoba menjadi anjing hutan, macan tetaplah macan! <em>Buona fortuna</em>, Roque! (semoga berhasil)” Andrea menutup telepon seiring senyum yang keluar dari bibir Roque</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Fluid, Via del Governo Vecchio, Roma- Italia. 11.00 pm</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Disinilah tempat yang dimaksud dalam pertemuan Roque dan Alinsky. Sebuah <em>wine bar</em> bergaya modern. Bar yang mengusung tema <em>liquid</em> ini menjadi salah satu tempat favorit Roque dalam bertransaksi dengan para <em>client</em>-nya. Roque masuk kedalam dan langsung menuju bar-stand untuk memesan <em>cocktail.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Ia berdiri dan memandang sekeliling. Seperti biasa, suasana di dalam bar ini selalu menyenangkan untuk dinikmati. Beberapa tempat duduk terletak diatas bongkahan es yang diselimuti plastik. Ribuan batu putih yang menempel di jaring ikut menghiasi bar ini, dinding serta atap ruangan di-<em>design</em> sedemikian rupa untuk memberikan kesan suasana seperti di dalam air. Belum lagi pada dinding belakang terpasang sebuah layar video berukuran sangat besar yang menampilkan gambar simulasi air terjun yang sangat indah.</p>
<p style="text-align: justify;">Roque tak menunggu lama, ia melihat Alinsky bersama seorang wanita di pintu utama sedang berjalan ke arahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Hai kawan, sudah lama menunggu?” Alinsky tersenyum lebar menyapa Roque sambil mengulurkan tangan. Ia mengajak berjabat tangan, tapi Roque hanya mengacuhkannya sambil menyalakan <em>Marlboro</em>. Alinsky berhenti tersenyum dan menarik kembali tangannya. Ia memberi isyarat pada wanita yang datang bersamanya itu untuk segera mencari tempat lain dan menjauh dari mereka berdua.</p>
<p style="text-align: justify;">“Sudah kukatakan, datanglah sendiri…” Roque masih tak menatapnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ayolah kawan… kau kan tahu, aku tidak bisa keluar malam tanpa ditemani wanita” Alinsky kembali tersenyum. Kali ini ia memohon pada Roque. Alinsky terlihat seperti orang yang licik, itulah sebabnya Roque sangat berhati-hati berurusan dengan orang seperti dia.</p>
<p style="text-align: justify;">“Mana barangnya?”</p>
<p style="text-align: justify;">“Ok-ok, untukmu pasti selalu kubawakan” Alinsky mengeluarkan sebuah bungkusan berwarna hitam dari balik <em>jacket</em>-nya.</p>
<p style="text-align: justify;">Roque memeriksa isinya lalu menukarkan bungkusan tersebut dengan sebuah amplop berisi uang.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ingat, macan selalu keluar dari sarangnya sendirian, anjing hutan hanya berani meninggalkan sarangnya dengan bergerombol!” Roque mematikan rokok tepat dihadapan wajah Alinsky kemudian berlalu meninggalkanya begitu saja. Alinsky hanya terdiam melihat kepergian Roque tanpa berkata apa-apa.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>3 hari kemudian_</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Via Sant’ Eligio, Roma- Italia. 08.30 am</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Tidak seperti biasanya, kali ini Roque telah berpakaian rapih dan duduk di kamarnya. Ia sedang membaca beberapa berkas yang baru saja di keluarkan dari dalam map di atas meja. Ia mempelajari dengan seksama setiap informasi di dalam berkas yang merupakan data-data lengkap tentang tempat yang akan ia tuju tersebut. Secangkir <em>capuccino</em> dan <em>gelato</em> menemani Roque sebagai menu sarapan paginya. Dan tak ketinggalan, rokok <em>Marlboro</em> selalu ada di dekatnya. Setelah selesai membaca, ia menutup kembali amplop itu dengan rapih lalu memasukannya ke dalam tas ransel yang sudah sejak tadi ia persiapkan. Roque menghabiskan sarapan paginya itu, lalu seperti biasa, menyalakan Marlboro dan berjalan ke jendela. Roque mengambil sebuah <em>binocular</em> dari dalam ransel, lalu dengan asyiknya ia menikmati pemandangan sekitar melalui lensa <em>Nikon 36mm Monarch ATB</em>-nya itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah selesai dengan <em>binocular</em>-nya, Roque menuju sebuah lemari besi yang terletak di salah satu sudut kamar. Lemari berukuran besar itu ia buka dengan sebuah kunci dan kode rahasia.  Inilah letak rahasia besar dari seorang Roque, <em>the black jaguar!</em> Ternyata lemari tersebut dipenuhi oleh berbagai jenis <em>sniper rifles</em>. Mulai dari <em>standard caliber rifle</em> hingga <em>large caliber rifle</em> ada di dalam lemari itu. Semua senjata penembak jitu yang berasal dari berbagai negara itu menjadi koleksi Roque dalam beberapa tahun terakhir. Senjata-senjata itu menjadi point penting Roque dalam setiap misinya. Ketika ia berubah menjadi <em>sniper</em>, Roque tumbuh menjadi  seorang maniak senjata, dan ia pun berusaha mengumpulkan berbagai jenis senjata canggih tersebut sebagai bagian dari kesenangannya. Sesuai dengan reputasi yang ia sandang, setiap senjata tersebut telah memakan korban! Hingga saat ini, tak ada satupun yang meleset, dan tak seorangpun yang lolos dari bidikan Roque.</p>
<p style="text-align: justify;">Roque memilih satu diantara banyak senjata kesayanganya yang akan dipakai dalam misi kali ini. Setelah beberapa saat, akhirnya ia menentukan senjata mana yang akan di bawa. Diambilnya <em>HK MSG-90</em> dari dalam lemari dan sebuah kain khusus yang sudah tersedia, lalu ia mengelap dan membersihkan senjata keluaran Jerman tersebut dengan sangat hati-hati. Setelah selesai membersihkannya, ia melepaskan rangkaian senjata tersebut satu persatu  menjadi bagian-bagian kecil kemudian meletakannya ke dalam sebuah <em>carrying case</em>. Sekarang tinggal tahap akhir persiapan, beberapa peralatan penting mulai ia siapkan. <em>Silencer</em>, <em>binocular</em>, <em>Monarch gold laser 1200 range finder</em>, <em>ballistic data</em>, sebutir peluru <em>55gr Lapua Scenar</em>, <em>Omega muzzleloading rifle scope</em> dan <em>fieldscope 50mm ED</em> semuanya kini telah siap.</p>
<p style="text-align: justify;">Sesaat sebelum keberangkatannya, Roque meninggalkan pesan singkat di ponsel Andrea. Lalu ia berangkat menuju bandara untuk terbang menuju Turki.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Istambul, Turki. Beberapa jam kemudian_</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sekarang Roque telah berada di Turki. Ia memesan kamar di sebuah hotel kecil tak jauh dari bandara. Setelah masuk ke dalam kamar ia merebahkan badan di atas tempat tidur. Saat ini pukul 04.00 pm. Waktu yang telah ditentukan untuk menjalankan misinya adalah pukul 07.30 petang nanti. Masih ada beberapa jam untuk mempersiapkan segala sesuatunya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tujuan utama seorang <em>sniper</em> ialah menembak target yang menjadi sasaran pada jarak tertentu dengan jumlah tembakan atau peluru yang dilepaskan se-minimal mungkin. Bagi Roque ini berarti ‘satu tembakan atau satu peluru’. Oleh karena itu seorang <em>sniper</em> harus memiliki persiapan matang dan perhitungan yang akurat sebelum bergerak melakukan aksi <em>sniping</em>. Hal itulah yang akan menentukan keberhasilan bagi seorang <em>sniper</em> dalam menjalankan misinya. Beberapa hal yang memerlukan persiapan dan perhitungan akurat diantaranya; jarak tempuh peluru yang akan dilepaskan; <em>environtmental condition</em> seperti cuaca, arah dan kecepatan angin, dan sebagainya; keadaan sekitar, termasuk kemungkinan perubahan rencana selalu Roque perhatikan setiap kali ia  beraksi.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak lama setelah itu, Roque beranjak dari tempat tidur, ia bergegas menuju tempat dimana ia akan meng-eksekusi targetnya. Setelah beberapa menit berkendara taksi, ia tiba di tempat yang di maksud. Roque keluar dari taksi kemudian berjalan menuju sebuah gang sempit di seberang jalan utama. Ia berjalan cepat menyusuri gang tersebut. Suasana disini sangat berbeda dengan Roma. Di Istambul, hampir semua pemukiman letaknya berhimpit-himpitan. Kau akan banyak menjumpai gang-gang sempit yang diapit oleh rumah-rumah yang bangunannya rata-rata tersusun bertingkat.</p>
<p style="text-align: justify;">Kini Roque telah tiba diujung jalan. Didapatinya sebuah area luas dikelilingi beberapa bangunan yang sepertinya adalah kantor-kantor kecil. Tepat ditengah deretan bangunan kecil itu terdapat sebuah bangunan besar dan bertingkat. Jika melihat dari tingginya, Roque dapat langsung menerka bangunan itu terdiri dari sekitar 10 lantai, dan sepertinya inilah <em>central </em>perusahaan tersebut. Di depan gedung bertingkat tadi terdapat sebuah <em>podium</em> lengkap dengan kursi-kursi tamu yang telah tersusun rapi. Disekitarnya terlihat beberapa orang sedang sibuk menata panggung dan peralatan pendukung, dan beberapa orang yang lain sedang meletakkan sejumlah karangan bunga. Roque dapat langsung memastikan, tidak salah lagi pasti disinilah George akan memberikan pidato sambutan dalam acara <em>opening ceremony </em>perusahaan barunya.</p>
<p style="text-align: justify;">Roque berfikir cepat, ia mencermati setiap sudut di wilayah tersebut. Tempat itu merupakan area terbuka, suatu keadaan yang bagus untuk melancarkan serangan. Kini tinggal mencari sudut yang paling ideal untuk membidik targetnya. Hal ini merupakan keahliannya. Ia melihat sekeliling dengan menggunakan <em>monocular</em> untuk mempersempit jarak pandang dan melihat tempat yang sulit terlihat jelas dengan mata telanjang. Di sebelah utara area tersebut terdapat sebuah bangunan kosong yang sedang dalam tahap renovasi. Tingginya sekitar 100 kaki, jarak pandang optimal, dan yang terpenting, dari tempat itu ia dapat langsung melihat kearah area ini tanpa terhalang oleh apapun.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah itu Roque langsung bergegas dari tempatnya berdiri dengan segera menuju <em>post</em> yang sudah ditentukan. Ia berusaha sebisa mungkin menghindar dari perhatian orang-orang tadi. Bagaimanapun juga Roque adalah orang asing dan tak mempunyai kepentingan apapun disitu, akan mencurigakan apabila ia terlihat oleh mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Gedung yang dimaksud Roque memang kosong dan kelihatannya belum terpakai. Di dalamnya Roque mendapati beberapa bagian ruangan tampak berantakan dan hampir seluruh jendela di gedung tersebut belum terpasang kaca. Ini memudahkan Roque untuk mengarahkan moncong senjatanya langsung kearah sasaran. Kini Roque berada di ketinggian 100 kaki. Jarak antara dirinya menuju sasaran tembak sekitar <em>150 yard</em>, suatu jarak yang ideal untuk senjata sekelas <em>HK MSG-90.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em> </em>Roque memilih ruangan yang sejajar dengan area target. Ia menuju suatu jendela, melongok keluar, kemudian meletakkan ransel disamping kakinya. Pandangan matanya lurus kedepan, memastikan tempat ia berdiri dapat langsung mengarah pada sasaran. Setelah itu ia membuka ransel, mengambil <em>binocular</em> dan menggunakan alat itu untuk memfokuskan pandangannya pada tempat yang di maksud.</p>
<p style="text-align: justify;">Tempat ini telah dirasa sesuai, kini tinggal persiapan akhir, merakit dan mengatur posisi senapan. Roque kembali meraih ranselnya, mengeluarkan <em>carriying case</em> dari dalam tas, lalu membuka wadah berbentuk kotak tersebut. Bagi Roque dan mungkin juga sebagian <em>sniper</em>, merakit senjata adalah bagian penting dari sebuah aksi <em>sniping</em>. Ada suatu nilai kesenangan dan kepuasan tersendiri ketika seorang <em>sniper</em> sedang merakit senjatanya. Terlebih bagi Roque hal-hal seperti ini sudah sangat menyatu dalam dirinya. Ketika menyaksikan Roque sedang merakit senjatanya, kita bagaikan tengah menyaksikan seorang seniman perang yang sedang memainkan sebuah drama diatas panggung yang megah dengan indahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah selesai merakit <em>HK MSG-90</em>-nya, Roque duduk bertengger di jendela. Ia mengeluarkan ponsel dari saku <em>jeans</em> kemudian membukanya. Ada beberapa pesan masuk, tapi Roque hanya mengacuhkan pesan-pesan tersebut lalu menutup dan memasukkan ponsel itu ke dalam saku <em>jeans</em>-nya kembali. Roque melihat area tersebut telah ramai oleh tamu-tamu yang mulai berdatangan. Ia berulang kali melihat arlojinya. Waktu di arloji Roque menunjukkan pukul 06.45 pm. Itu artinya ia masih hanya punya waktu tak sampai satu jam untuk menyelesaikan misinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Roque mengeluarkan sebuah <em>flask</em> dari kantong di balik <em>jacket</em>. Di bukanya botol minuman berisi <em>cognac</em> tersebut sambil terus mengawasi area tergetnya dengan menggunakan <em>binocular</em> yang sejak tadi selalu ia genggam. Suasana disana semakin ramai. Menurut petunjuk yang ia terima, waktu pelaksanaan eksekusi hanya tinggal beberapa menit saja. Tetapi Roque justru malah terlihat semakin tenang. Tak nampak sedikitpun ketegangan di wajahnya. Ia malah terlihat asyik bercumbu dengan <em>cognac</em>-nya itu sambil duduk bertengger di jendela dan mengangkat satu kakinya ke atas.</p>
<p style="text-align: justify;">Tiba-tiba suara sirine yang saling bersautan samar-samar terdengar oleh Roque. Suara yang berasal dari kejauhan itu semakin jelas dan mengarah pada lokasi yang sedang ia awasi. Roque segera menutup dan menyimpan kembali <em>flask</em>-nya ke dalam saku di balik <em>jacket</em>. Ia langsung memakai <em>binocular</em>-nya, dan benar saja, tampaknya acara sudah akan segera dimulai. Roque dapat melihat iring-iringan mobil mewah sedang masuk ke area tersebut dengan dikawal oleh petugas keamanan setempat.</p>
<p style="text-align: justify;">Roque segera meraih tas ransel dan mengambil sebuah foto dari dalam map. Ia mengamati foto itu untuk beberapa detik, lalu kembali mengawasi area tersebut dengan <em>binocular</em>-nya. Beberapa kali ia melihat foto itu lagi lalu kembali pada <em>binocular</em>-nya. Kelihatannya Roque tengah mencari orang yang menjadi targetnya, George.</p>
<p style="text-align: justify;">Konvoi panjang itu berakhir di halaman parkir yang terletak tak jauh di seberang podium. Di barisan tengah, terlihat sebuah sedan <em>Limousin</em> mewah berwarna putih. Tak lama setelah semua mobil-mobil itu berhenti, semua orang yang berada di dalamnya keluar. Pandangan Roque masih tertuju pada <em>limousin</em> tadi. <em>I</em><em>nstinc</em>-nya selalu benar! Pintu belakang mobil itu segera terbuka, dan orang yang keluar dari sana ternyata adalah George, seorang pria paruh baya berbadan gemuk. Ia berjalan menuju podium sambil melambai-lambaikan tangan pada <em>audience</em> yang telah sejak tadi menunggu kedatangannya.</p>
<p style="text-align: justify;">‘<em>Binggo!</em>’ Roque berbisik lirih. Target sudah terlihat, semua berjalan lancar sesuai rencana. Sejumlah <em>reporter</em> dan wartawan tampak memburu foto dan mewawancarai George. Petugas keamanan dan para <em>bodyguard</em> berbadan ekstra besar terlihat di beberapa titik pada lokasi tersebut. Beberapa diantaranya langsung mengamankan George, membukakan jalan untuknya menerobos kerumunan. Roque tersenyum sinis. Ia berfikir baginya mereka tak bisa berbuat banyak karena bahaya yang dihadapi oleh <em>boss</em> mereka adalah seorang <em>sniper </em>seperti dirinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Roque menyalakan <em>Marlboro</em>-nya. Menenggak lagi <em>cognac</em> di dalam <em>flask</em>-nya. Ia mengeluarkan sebutir peluru <em>Lapua Scenar</em> dari dalam tas, lalu memasukkannya ke dalam <em>magazine latch</em>. Setelah memastikan peluru tersebut sudah pada <em>bolt lock</em>, ia menuju <em>scope mount</em> dan mulai membidik sasaran. Sasaran terlihat dengan jelas dengan <em>scope</em>-nya. Roque segera meraih <em>range finder</em>, dan mulai mengukur jarak pasti menuju sasaran dengan menggunakan alat tersebut. Setelah itu, ia memeriksa kondisi cuaca sekitar, mengukur suhu, arah dan kecepatan angin. Setelah semua itu diketahui dengan pasti, ia langsung menyesuaikan sudut dan titik bidikan dengan <em>MOA</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Roque menghirup dalam-dalam rokok yang sedang dihisapnya. Ia lalu memasang <em>silencer</em> pada ujung <em>barrel.</em> Mata Roque masih bersiap sedia pada <em>scope</em>. Ia tak pernah mengalihkan pandangan-nya dari George yang saat itu tengah dikerumuni orang banyak. Jari telunjuk kanannya sudah siap pada <em>trigger</em>. Tangan kirinya ada pada <em>barrel</em>, dan sesekali meraih batang <em>Marlboro</em> yang sejak tadi selalu terjepit di bibir Roque. George terlihat menaiki tangga <em>podium</em> dan berdiri tepat di tengah mimbar. Tak sedetikpun Roque berkedip, dan tak sesaatpun ia mengalihkan perhatian dari sasarannya. Suasana mendadak jadi hening…</p>
<p style="text-align: justify;">Dan tiba-tiba….</p>
<p style="text-align: justify;">‘SHHHOUUTT!!!’ …………………………… ‘SHCLEB!!’</p>
<p style="text-align: justify;">George tersungkur jatuh dengan kepala berlumuran darah. Peluru itu tepat menembus jidatnya. Semua orang di tempat tersebut panik dan berhamburan. Petugas keamanan berdatangan melihat keadaan George yang tergeletak di bawah, tetapi semua itu sudah terlambat.</p>
<p style="text-align: justify;">Roque langsung bergegas melepaskan rangkaian senjatanya, membereskan barang-barang bawaannya, lalu pergi secepat mungkin menjauh dari tempat itu.</p>
<p style="text-align: justify;">***</p>
<p style="text-align: justify;">bersambung&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Author: Andri Nugraha</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bangfad.com/sastra/dua-potongan-kecil-kepingan-pertama.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dedes</title>
		<link>http://www.bangfad.com/sastra/cerpen-dedes.html</link>
		<comments>http://www.bangfad.com/sastra/cerpen-dedes.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Mar 2010 02:20:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Bersambung]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[cerita anak]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bangfad.com/?p=1283</guid>
		<description><![CDATA[DEDES Oleh : Suhariyadi Dedes! Engkaukah itu yang mengintip dari balik jendela kamarku. Malam begitu dingin dan sepi. Angin membawa embun, melembabkan malam. Tak seorang pun yang mau melewati malam ini. Tapi kenapa engkau benamkan tubuhmu dalam suasana seperti itu. Adakah yang mengusik pikiranmu? Adakah yang mengotori perasaanmu? Masuklah kalau engkau mau berbagi atau sekedar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong></p>
<p style="text-align: right;"><strong>DEDES</strong></p>
<p style="text-align: right;">Oleh : Suhariyadi</p>
<p style="text-align: justify;">Dedes! Engkaukah itu yang mengintip dari balik jendela kamarku. Malam begitu dingin dan sepi. Angin membawa embun, melembabkan malam. Tak seorang pun yang mau melewati malam ini. Tapi kenapa engkau benamkan tubuhmu dalam suasana seperti itu. Adakah yang mengusik pikiranmu? Adakah yang mengotori perasaanmu? Masuklah kalau engkau mau berbagi atau sekedar menghangatkan badan dan memenuhi kehausanmu. Aku, Arok yang selalu melihat cahaya di betismu. Itu adalah tanda bahwa takdir akan menyatukan kita untuk meraih ambisi dan cita-cita.  Tak perlu ragu. Aku tahu apa yang mesti aku perbuat. Aku tahu apa yang mesti aku lakukan. Sudah ada jalan membentang di depan dan rakyat berjajar sepanjang jalan, mengelu-elukan rajanya yang telah tiba. Tak kau lihatkah semua itu? Tidakkah kau rasakan gemuruh perasaan kita untuk berpaut. Gemuruh suara-suara gaib yang mendorong kita untuk berjalan di sepanjang jalan itu.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-1283"></span>Masuklah. Kita akan merajut riwayat kita dari dalam kamar ini. Kita rencanakan apa yang mesti kita rencanakan. Kita tulis satu demi satu apa yang harus kita lakukan. Keraguan cuma menjadi beban dalam perjalanan. Kebimbangan cuma menjadi sandungan. Dan keyakinan, ya keyakinan, yang akan menggaris tebal apa yang menjadi impian. Takdir telah bersama kita. Tak mungkin salah, karena takdir adalah goresan Dewata. Apa yang diucapkan takdir adalah kenyataan yang belum tampak, kecuali manusia yang menampakkannya. Tenggelamkan keraguanmu ke dasar bawah sadarmu. Hancurkan kebimbanganmu dengan cahaya yang terang dan ramai di ujung masa depan kita. Masuklah. Dan kau akan memasuki apa yang selama ini engkau inginkan. Masuklah. Dan kau akan memasuki ruang hidupku yang tak mungkin kau sesali nanti.</p>
<p style="text-align: justify;">Terang betismu telah mewujud ke dalam mimpiku semalam. Ia menjilma menjadi mahkota di kepalaku. Itu adalah tanda takdir kita. Itu adalah tanda bahwa kita telah terpilih Dewata untuk memayungi Tumapel dengan kekuasaan dan kebijaksanaan kita. Masuklah. Malam semakin merambat. Sebelum sampai di penghujung malam, kita harus sudah membulatkan tekat. Sebelum fajar merangkak keemasan, kita harus sudah menggariskan jalan kita. Biarkan si Tua Tunggul Ametung menerim takdir yang lain. Toh kita dan dia harus menerima takdir yang sama. Hanya takdir kita lebih terang dari padanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ya, membujurlah di sampingku agar aku dapat mendekap rapat tubuhmu. Biar kita menyatu lewat nafas-nafas duniawi yang memburu. Lewat kenikmatan ini akan kita songsong kenikmatan yang lain. Lihatlah! Jalan di depan kita itu. Ramai orang menyambutnya. Kita mesti berjalan ke sana. Kita busungkan dada. Kita sungging senyuman agar mereka meyakini apa yang telah mereka sambut adalah hal yang terbaik. Sebuah pilihan yang benar. Jalan itu tak sepanjang bayangan kita. Di ujung jalan itu, rohTunggul Ametung telah menyambut kita dengan tertatih-tatih sambil membawa mahkotanya untuk kita. Di sanalah Singasari akan membuka sejarahnya bersama kebijaksanaan dan kebersatuan kita. Lihatlah!</p>
<p style="text-align: justify;">Ternyata kita dalam kehausan yang sama. Dalam segala hal kita tak berbeda.Nikmati saja setiap nafas dan kelojotan tubuh kita di atas pembaringan ini. Bukankah telah lama tak kau rasakan bersama Tunggul Ametung. Bukankah telah lama aku juga tak menikmati kelembutan wanita. Biarkan bulan itu memelototi kita. Ia tak tahu apa yang telah tergaris dalam hidup manusia. Ia cuma biasa timbul dan tenggelam sebagaimana garis yang itu-itu juga. Sedang kita ada banyak garis yang bisa kita pilih. Dan Dewata telah menunjukkan satu pilihan di antara garis-garis itu. Dewata telah melapangkan garis itu menjadi jalan yang halus untuk kita lalui. Biarkan angin menggelitik kita. Ia tak tak tahu apa yang harus dipilihnya. Ia cuma mampu berjalan kemana alam akan menuntunnya. Sedang kita mempunyai seribu keyakinan terhadap pilihan. Dan dewata mempercayainya atas keyakinan kita itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kau semakin percaya diri. Wajahmu itu, di balik kecantikannya, tersembunyi ketegaran. Aku telah menangkapnya lewat keringat yang kau lelehkan dari tubuh terkulai. Juga lewat senyum kepuasaan yang tersunggih di bibirmu. Dan biarkan malam berlari memasuki ufuk barat. Kita tak mempedulikannya lagi. Kita toh telah bersatu. Jika pagi membentang di timur, kita tapaki jalan yang telah digariskan Dewata itu. Ya. Tanganmu mesti bergelayut di tanganku. Biarlah Tunggul Ametung menatapnya nanar. Tatapan terakhir yang bisa dia lakukan sebelum ajal tiba menjemputnya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Arok, kau telah merampas istriku!”</p>
<p style="text-align: justify;">“Dan kekuasaanmu juga aku renggut. Ujung duniamu telah tiba. Keris yang menancap di perutmu itu, adalah jalannya. Tak usah kau sesali. Dewata telah menggariskan dengan kabajikannya. Manusia hanya bisa menerima apapun yang dikehendaki. Kita hanya melakoni hidup. Cuma waktu saja yang berpihak padaku sekarang. Sebentar lagi, waktu pula yang mendorongku untuk mengemban kekuasaan.”</p>
<p>“Dedes! Kenapa kau percayai laki-laki itu!”</p>
<p style="text-align: justify;">“Kemarahanmu terlalu sia-sia di akhir hayatmu. Wanita yang bijak mesti memilih nuraninya dari pada laki-laki yang hanya bisa melihat kecantikan dan kemolekan tubuhnya. Nurani Dedes telah menunjukkan apa yang harus dipilih.”</p>
<p align="center">*****</p>
<p style="text-align: justify;">Sudah terlalu lama engkau pendam perasaan itu. Inilah waktu yang tepat untuk mengatakan. Tak perlu ragu, apalagi takut. Apapun yang terjadi, biarlah terjadi. Kadang banyak hal kita menjadi peragu. Kadang pula menjadi seorang penakut. Tapi dalam hal perasaan, janganlah menjadi peragu dan penakut. Apalagi bagi perempuan seperti kamu. Perasaan adalah bahasa pikiran. Berbeda dengan laki-laki, menggunakan pikiran untuk mengungkapkan perasaannya. Maka, katakanlah yang kamu pendam. Karena, itu adalah apa yang kamu pikirkan dalam perasaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Bulan begitu indah, begitu kata perasaanmu. Tetapi terlalu jauh jarak yang mesti ditempuh untuk meraihnya; untuk mengetahui kesejatiannya. Dan wanita seperti bulan itu di mata laki-laki. Ia tak pernah tahu atau mungkin tak ingin pernah tahu yang sesungguhnya tentang wanita. Ia layaknya kaumnya, terlalu bebal untuk memahami kenyataan jika cintanya telah sampai ke ubun-ubunnya. Dan ketika ia menyadarinya, ia seperti gunung Merapi yang hendak memutahkan lahar panas sekian juta meter kubik. Perempuanlah yang mesti mewadahi dengan kedua belah tangannya. Karena kelembutan akan mendinginkan lahar panas menjadi kesuburan. Jadi katakanlah, kesejatian bulan bukanlah yang tampak, tapi jauh di sana ia akan berbicara tentang dirinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tak perlu berpikir untuk mengatakannya. Perasaanmu adalah pikiranmu. Itu bahasamu. Katakanlah. Waktu tak pernah berhenti berputar. Waktu tak pernah mau sedikit untuk bertoleransi pada kehidupan agar berhenti barang sejenak agar manusia bisa memikirkan banyak hal tanpa merasa takut menjadi tua. Apa yang kamu tunggu. Bukankah menunggu itu membosankan. Itu adalah kematian sesaat ketika manusia berhenti beraktivitas karena pikiran dan perasaannya hanya tercurah untuk menunggu, sedang waktu tak mungkin berhenti.</p>
<p style="text-align: justify;">Ah, ternyata kamu peragu. Apakah itu sifat purbamu. Ataukah, kamu layaknya kaummu, yang justru takut pada kenyataan yang harus terjadi? Itukah sifat azalimu?</p>
<p style="text-align: justify;">“Ndak tahulah, Mas! Rasanya aku takut mas Bagus meninggalkan aku. Aku teramat mencintainya. Kalau memang rahasia ini tak tersampaikan, biarlah terkubur jauh-jauh.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Jangan, Tin! Tak ada manusia yang sanggup menyembunyikan rahasia apapun di dunia ini. Lambat laun, akan tercium juga; akan terbuka juga. Jika tidak melalui mulutmu, pasti melalui mulut orang lain. Sedang hanya kau yang mempunyai hak dan tanggung jawab untuk itu. Lebih menyakitkan jika Bagus mendengar dari orang lain. Bukan darimu.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Aku tak menyangkal apa yang mas katakan itu. Tapi keraguan dan ketakutan ini begitu dalam. Entahlah, sampai kapan ini terjadi.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Sampai kapan? Sampai engkau punya pikiran waras untuk mengatakannya!”</p>
<p style="text-align: justify;">Malam kemarin, ceritamu, Bagus datang ke rumahmu. Rasa bahagianya begitu terlihat ketika dia di sampingmu. Bukankah itu waktu yang tepat untuk menyampaikannya. Bukankah ketika bahagia, laki-laki tak menghiraukan hal-hal yang akan merusak kebahagiaannya itu. Tapi kamu justru mengatakan, tak tega merusak kebahagiaannya itu. Duh, aku semakin heran dan tak tahu siapa dirimu itu? Baru ketika dewasa ini, banyak hal yang tak kumengerti tentang kamu. Sedang aku sudah mengenalmu semenjak kecil. Bahkan tahi lalat yang ada di bawah pusarmu pun aku mengetahuinya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kenapa mas Har begitu yakin kalau aku menyampaikan rahasia ini tidak membuat hubunganku dengan mas Bagus menjadi renggang?”</p>
<p style="text-align: justify;">“Pertanyaanmu itu mengungkapkan kekhawairanmu. Bukannya aku terlampau yakin terhadap apa yang aku katakan. Tapi jika aku menjadi kamu, aku lebih siap menerima segala hal yang akan terjadi, tanpa harus menyembunyikan sebuah rahasia. Mungkin beban menyembunyikan rahasia, akan lebih berat dari pada beban yang harus dipikul dari keterusterangannya.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Kamu bisa begitu karena kamu laki-laki.”</p>
<p style="text-align: justify;">Aku pun harus tersenyum jika kamu menanggapi ucapanku dengan mengatakan seperti itu. Apakah laki-laki dan perempuan dibedakan karena laki-laki mau berisiko, tak punya rasa khawatir, atau lebih terus terang dari pada perempuan? Kalau memang begitu, betapa beratnya menjadi seorang perempuan yang serba takut, khawatir, dan selalu harus memendam perasaan dan kemauannya. Salahkah perempuan yang tegar menerima resiko atas perbuatannya sendiri? Salahkah perempuan yang tak pernah khawatir terhadap realitas yang bakal terjadi? Salahkah perempuan yang terus terang mengatakan perasaan dan kemauannya? Ternyata bukan laki-laki yang menjadikan perempuan seperti itu. Ternyata bukan zaman yang menjadikan perempuan memiliki sifat seperti itu. Melainkan perempuan sendiri yang enggan menerabas batas-batas yang selama ini mengungkungnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika masih kecil, kita tak pernah mempermasalahkan itu. Kau tak pernah menertawakan aku saat aku menyenangi boneka atau melakukan hal yang sering disenangi anak perempuan. Aku pun tak pernah menertawakan kamu saat kamu membawa pulang mobil-mobilanku atau ikut memanjat pohon asam depan rumahku. Bukankah itu hanya dilakukan oleh anak laki-laki? Tapi aku malah senang atas itu semua. Kita tak mempermasalahkan laki-laki harus bagaimana dan perempuan harus bagaimana. Semuanya serba sama. Tak ada kotak-kotak yang membatasi kemerdekaan kita. Yang kita tahu bahwa kita berbeda, adalah saat mandi telanjang di sungai. Kamu punya kelamin berbeda dari aku.</p>
<p style="text-align: justify;">Kenapa kamu tak kembali saja seperti dulu untuk bisa mengungkapkan rahasiamu itu? Kalau memang itu lebih baik, lakukan saja. Kamu merasakan seperti anak kecil, tidak menghiraukan apa yang bakal terjadi. Hanya ada rasa senang. Hidup memang sebuah permainan dan manusia adalah anak-anak kecil yang selalu bermain. Tak perlu memikirkan dan merasakan yang lain. Toh kita tak tahu apa yang bakal  terjadi, seperti masa kecil dulu. Kalu tak senang, kita bisa menangis sepuas kita. Itu pun hanya sebentar. Kita akan cepat melupakan itu. Bermain kembali hingga waktunya untuk tidur; menyingkat waktu untuk bermain lagi esok.</p>
<p style="text-align: justify;">Ya. Kita bisa menangis kalau kamu merasa tidak enak. Semakin air mata kamu peras, semakin hilang perasaan itu bersama derasnya air mata itu. Jangan takut untuk menangis. Karena itu satu-satunya kejujuran manusia yang masih ada. Ingatkah kamu, puisi yang pernah aku kirimkan padamu ketika kita harus berpisah dan tidak menyadari bahwa di dalam hati ini ternyata engkau telah kutulis dengan garis tebal. Begitu juga di dalam hatimu, kamu tulis tebal namaku.</p>
<p><em>tak perlu malu menangis</em></p>
<p><em>cuma itu satu-satunya yang tersisa</em></p>
<p><em>yang paling jujur dari manusia.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>apa yang bisa diberikan tertawa kalau cuma menutup luka</em></p>
<p><em>apa yang bisa diberikan cinta kalau cuma bermain kata</em></p>
<p><em>apa yang bisa ditawarkan raga kalau waktu telah bicara</em></p>
<p><em>apa yang bisa ditawarkan nyawa kalau tak berasa apa</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>cuma menangis </em></p>
<p><em>berlari dari tak bisa apaapa</em></p>
<p><em>paling tidak, jujur pada diri kita</em></p>
<p><em>satusatunya yang tersisa</em></p>
<p><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;">Tak perlu bersusah-susah. Terbukalah. Kejujuran dan keterusterangan masih lebih berharga daripada kebohongan terus menerus yang harus kamu lakukan. Ketidakjujuran selalu membawa kebohongan demi kebohongan untuk menutupinya. Dan itu adalah beban yang terlampau berat kamu pikul nantinya. Kalau kejujuran akan membawa perasaan sakit hati, menangislah. Sesungguhnya masa kecil kita masih melekat di hati kita. Menangis dan tertawa hanyalah sesaat dan batasnya tipis sekali. Bukankah kamu pernah bertanya padaku, kenapa orang bisa tertawa sampai menangis? Kenapa orang bisa menangis dan tiba-tiba terus tertawa? Karena keduanya tak akan mampu dipisahkan manusia. Keduanya selalu mengintip di hati kita untuk keluar saat paling tepat. Keduanya selalu bergandengan tak terpisahkan. Kenapa kamu tak mau mengerti juga?</p>
<p style="text-align: justify;">Semalam aku membaca buku yang pernah engkau berikan padaku, tentang Dedes yang memilih Arok menjadi suaminya. Aku tak akan pernah memahami, lantaran apakah Dedes memilih hidup dalam dekapan Ken Arok itu. Apakah nurani  yang telah menuntunnya, ataukah kepandaiannya yang menunjukkan lebih baik memilih Ken Arok yang akan menjadi seorang raja yang tegas dan perkasa. Ataukah Dedes menyerah pada keadaan lantaran tak ada pilihan yang lebih baik lagi. Barangkali juga, Ken Dedes ketakutan akan keberingasan seorang laki-laki seperti Ken Arok itu. Dan barangkali juga, kecantikannya telah menimbulkan kepercayaan diri yang luar biasa untuk tetap menikmati statusnya menjadi seorang ratu. Entahlah! Wanita selalu penuh misteri, seperti kamu.</p>
<p style="text-align: justify;">“Seandainya kau Ken Dedes, apa yang kau lakukan?” Tanyaku semalam dan kau lama berpikir untuk itu. “Kalau kau tak ingin menjawabnya, tak apalah. Aku cuma ingin mengetahui bagaimana perasaanmu sebagai seorang wanita seperti Ken Dedes itu.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Apa aku harus menjawabnya, mas?” Kau malah balik bertanya saat itu. Dan aku cukup tahu bahwa kau memiliki jawabannya. Apakah hanya mengungkapkan pendapat saja, kau juga menjadi ragu. Apakah karena menyangkut perasaan wanitalah yang menjadikan kau seorang peragu. “Baiklah jika kau ragu-ragu menjawab pertanyaan itu. Aku akan membaliknya. Lantaran apakah Ken Arok harus memilih Ken Dedes menjadi istrinya?”</p>
<p style="text-align: justify;">“Mungkin karena kecantikannya,” jawabmu cepat. Dan aku cukup memahami juga atas jawaban itu. Aku juga sangat mengerti ketika kau ragu untuk menyampaikan rahasiamu kepada lelaki yang kau cintai. Jawabanmu itu telah mengungkapkan banyak tentang apa yang kau ragukan selama ini. Meski aku menyangsikan semua itu. Aku meragukan atas keragu-raguanmu itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku pikirkan semalaman percakapan kita itu. Aku baca lebih dalam lagi buku <em>Ken Arok dan Ken Dedes</em> itu untuk lebih mengerti tentang wanita sepertimu; juga Ken Dedes itu. Aku tak tahu, kenapa akhir-akhir ini aku begitu peduli pada kamu. Tak ada celah sedikitpun dalam benakku tanpa memikirkan kamu. Kau terasa begitu berarti bagiku saat ini. Saya kira sudah terlalu lama kita melupakan satu sama lain semenjak perpisahan kita dulu. Sepuluh tahun saya pikir waktu yang cukup untuk melupakan kebersamaan kita. Sepuluh tahun saya rasakan waktu yang berlebih untuk membuang kenangan yang pernah kita ukir bersama. Ternyata aku salah. Waktu sepuluh tahun ternyata tidak mampu menjauhkan kamu dari perasaanku.</p>
<p style="text-align: justify;">Buku itu telah menenggelamkan aku dalam suasana yang asing. Halaman demi halaman yang kubaca, wajahmu seolah menjadi ilustrasi buku itu. Bahkan dalam keletihanku mengartikan kalimat demi kalimat, kau seolah menjilma menjadi Ken Dedes. Kau tersenyum dengan lekuk bibir yang sudah aku hafal bentuk dan warnanya. Kau menatap dengan sorot mata yang tak pernah aku lupa tajamnya. Dan aku merasakan tiba-tiba tubuhku semakin berotot. Aku semakin beringas. Perkasa. Dan jauh di dalam hatiku, aku adalah Ken Arok yang berdiri menyambut senyum dan tatapan matamu itu.</p>
<p style="text-align: justify;">“Lihatlah Dedes jalan itu begitu lapang. Dan di sepanjang jalan itu, rakyat bersorak menyembut kita. Bergelayutlah di tanganku dan senyumlah. Mereka ingin tahu betapa serasinya kita; betapa mempesonanya penampilan kita.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Ya, Arok. Kita memang telah menerima takdir atas kekuasaan negeri ini. Aku tak akan meragukan itu. Kita akan menjalani takdir dengan ketetapan hati, meski di antara kita masih ada yang belum terbuka kerahasiaannya.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Aku sudah memahami segala hal tentang dirimu. Kau juga sudah mengerti segala hal tentang diriku. Tak ada rahasia yang mesti ditutupi.”</p>
<p>“Kedalaman hati siapa yang tahu kecuali diri kita masing-masing.”</p>
<p>“Ah, kau masih meragukan ini semua.”</p>
<p>“Bukan, Arok. Ketetapan hati dan kekhawatiran hati adalah dua hal yang berbeda.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Aku tak mengerti jalan pikiranmu itu. Tapi tak usah kita mempermasalahkan itu. Kita rasakan saja kebahagian takdir kita. Di depan kita telah menunggu roh Tunggul Ametung dengan mahkotanya itu. Ia tak sabar untuk mengenakannya di kepalaku.”</p>
<p>“Maafkan aku, Arok. Ada yang mesti kau ketahui sebelum kita melangkah ke sana.”</p>
<p>“Kau semakin membuatku tak sabar. Katakanlah!”</p>
<p>“Apakah kau semalam tak merasakan ketika kita bersetubuh?”</p>
<p>“Tentu, Dedes. Aku tak akan melupakan kenikmatan itu.”</p>
<p>“Bukan itu, Masih banyak hal yang aku sembunyikan dalam hati dan pikiranku.”</p>
<p>“Apa? Masih banyak yang kau sembunyikan? Jangan bergurau, Dedes. Kau adalah wanita yang terlampau lugu untuk menyembunyikan banyak hal tentang dirimu.”</p>
<p>“Kau belum mengerti juga kenyataan ini. Begitu juga dengan Tunggul Ametung.”</p>
<p>“Aku tak percaya semua itu. Aku hanya tahu dan merasakannya, kalau kau adalah wanita. Dan itu lebih penting dari omong kosong itu.”</p>
<p>“Ternyata benar apa yang kau pikirkan. Kau terlampau sederhana untuk memandang wanita. Kau tak menyadari kalau keperkasaanmu itu karena keringatku yang telah aku tanamkan dalam tubuhmu semalam.”</p>
<p>“Itu benar, Dedes. Semalam memang kita telah memerasnya dengan sahwat kita. Itulah keperkasaanku.”</p>
<p>“Ah. Kau semakin tak tahu kekuatan azali yang ada dalam diriku.”</p>
<p style="text-align: justify;">“Sudahlah, Dedes, aku tak sabar ingin cepat-cepat pergi ke sana. Mahkota itu telah menantiku dengan cahaya kemilauannya. Ia menyinari istana Tumapel yang megah untuk aku tinggali. Ayolah, Dedes. Ayolah….! Dedes! Dedes? Di mana kau? Dedes………!</p>
<p style="text-align: justify;">Buku ini telah menenggelamkan aku ke tempat yang tak kumengerti. Aku juga tak mengerti tentang keraguanmu, seperti Ken Dedes meragukan jalan hidupnya bersama Ken Arok itu. Kalau rahasia itu ingin kau kuburkan dalam waktu, seberapa lama kau tahan dengan beratnya beban yang kau tanggung. Semakin lama beban itu semakin berat. Semakin lama semakin menjadi bom waktu yang siap meledak. Dan ketika itu terjadi, kau tak bisa memutar kembali waktu. Tinggal menyesalinya. Dan itu sudah tak berguna lagi. Sebuah kesia-siaan yang sempurna.</p>
<p style="text-align: justify;">Apa boleh aku membantu membuka rahasimu itu? Pertanyaan itu nyaris aku sampaikan padamu. Tapi aku buru-buru melenyapkan niat itu dari benakku. Tak bijaksana untuk mencampuri persoalan pribadimu. Alangkah baiknya seandainya dari mulutmu rahasia itu kau katakan.. Lebih dari cukup jika aku mendorongmu saja untuk memilih yang lebih bijak. Semua itu berpulang padamu.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagiku, persoalan sepuluh tahun lalu tak akan pernah hilang dari ingatanku. Bukan lantaran aku masih dendam dan marah karena peristiwa itu. Itu semua sudah lama hilang. Tak baik aku memendamnya. Itu bisa menjadi racun dalam diriku. Memang itu tak sesulit yang kau rasakan. Kau adalah kunci terjadinya peristiwa itu. Sedang aku cuma merasa menjadi kurban. Tak seberapa. Sedang kau harus mempunyai keberanian untuk membuka rahasianya. Apalagi pada seseorang yang sangat kau cintai. Tapi bagaimana pun kau harus membukanya. Kau harus menyampaikan rahasia itu dari pada terlanjur. Saat itulah resiko yang mesti kau tanggung lebih berat dari pada jika kau sampaikan sekarang. Katakan!</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika laki-laki itu tiba-tiba muncul di depanmu sepuluh tahun lalu, kau tak menyangka kalau dia seorang yang sangat dibenci ibumu. Kamu tak tahu kenapa ibumu begitu benci padanya. Kau baru tahu ketika ibumu kau paksa untuk menceritakannya. Dia, istrinya, dan ibumu, pernah terlibat cinta segi tiga. Dia, yang kamudian baru kamu ketahui sebagai ayah Bagus, kekasihmu itu, adalah seorang pria yang teramat dicintai ibumu. Saking cintanya, ibumu rela menentang orang tuanya. Sayang, ketika perasaan cinta itu semakin melangit, dia mengawini wanita lain. Ibumu tak mau menerima kenyataan itu. Bahkan ibumu tak mau tahu ketika mengetahui kalau wanita itu sudah hamil duluan. Bayi yang kemudian diberi nama Bagus itu, menjadi alasan kenapa lelaki itu harus mengawininya. Ibumu juga tak mau tahu ketika mengetahui kalau semua yang terjadi hanyalah kecelakaan yang tak disengaja. Kejadian itu disulut oleh alkohol yang merasuki otaknya. Apapun alasannya, dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya itu. Ibumu tak mau tahu. Ia marah. Sedih. Benci, hingga dibawa mati. Kebencian dan kemarahannya menjadi racun yang menggerogoti ibumu hingga akhir hayat.</p>
<p style="text-align: justify;">Peristiwa itu menyempurnakan tradisi permusuhan di antara keluargamu dan keluarga Bagus secara turun temurun, sejak entah garis keturunan yang keberapa. Yang kau tahu, sebelum peristiwa itu terjadi, kedua keluarga itu sudah lama memendam permusuhan. Keluargaku pun, yang begitu dekat dengan keluargamu, kena imbasnya. Kau baru tahu semua itu ketika kau menemukan catatan yang ditulis ibumu. Kau sedih waktu itu. Dan kesedihan itu semakin memuncak ketika tahu semua itu berkaitan dengan Bagus; laki-laki yang begitu mencintainya. Kau takut kejadian itu juga terulang padamu. Kau percaya tradisi permusuhan itu akan terulang padamu dan Bagus sebagai sebuah takdir. Aku cuma bisa meyakinkan, tak ada takdir semacam itu. Itu semua telah mereka buat sendiri. Tak ada campur tangan dari takdir. Dan kini, mereka telah tiada. Kau cuma sebatang kara; begitu juga dengan Bagus. Apa yang kau sebut dengan tradisi permusuhan itu telah terkucur bersama jasad mereka. Hanya kau satu-satunya yang mengetahuinya. Bagus pun tidak. Tinggal kau, akankah mempercayainya.</p>
<p style="text-align: justify;">Bukan itu, mas Har, persoalannya, begitu katamu malam itu. Catatan ibumu yang kau temukan itu mengungkapkan ternyata kehamilan ibu Bagus bukan karena ayahnya. Ayah Bagus, yang diharapkan menjadi suami ibumu itu, hanya menolong kehormatan keluarga wanita itu. Bagus tak tak tahu siapa ayahnya sebenarnya. Niat yang baik itu telah merenggut kebahagian ibumu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kamu mengetahui itu semua. Kamu menerima semua itu. Tapi, kejadian itu membayangi perasaan cintamu pada Bagus. Bayangan ketakutan itu tak mungkin tersampaikan karena membuat Bagus mengetahui siapa dirinya. Apa yang terjadi nanti pada diri Bagus ketika rahasia itu diketahuinya. Ketakutan demi ketakutan muncul dalam benakmu. Dan itu tak akan pernah bisa hilang jika kau tidak membuka rahasimu itu. Biarlah yang terjadi biar terjadi. Itu tak seberat apa yang bakal terjadi saat rahasia itu diketahui Bagus dari orang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">*****</p>
<p style="text-align: justify;">Hari ini kamu muncul lagi. Kau sudah berubah. Anak-anak kecil lucu itu, anak-anakmu. Lima tahun ternyata telah merubah kamu. Sedang aku cuma sendiri. Tak berubah, kecuali rambut dan kumisku semakin lebat.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kau seperti seniman,” katamu dengan bibir dan tatapan mata yang tak pernah aku lupa bentuknya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Anak-anakmukah itu?”</p>
<p style="text-align: justify;">“Ya. Tiga anak dalam setahun.” Kamu tampak bahagia dengan kalimat itu. Nampaknya bebanmu telah kau cairkan. Bebanmu telah engkau hapus dari benakmu. Bukankah itu lebih baik?</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi, siapa laki-laki itu? Suamimukah itu? Tapi bukan Bagus? Berpuluh-puluh tanda tanya berkelebatan. Kamu mengetahui kebingunganku ketika aku menatap laki-laki di sampingmu itu.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kenalkan, mas Har, dia suamiku,” katamu agak canggung. Ternyata kamu memilih menguburkan rahasiamu itu bersama cintamu ke dalam masa lalu. Dan jalan yang kamu pilih itu, banar-benar semakin menyempurnakan kemisteriusan kamu. Kamu benar-benar Dedes dalam mimpiku itu, yang meninggalkan Arok untuk memilih jalan sendiri.</p>
<p style="text-align: justify;">“Tak perlu bingung, mas Har,” begitu awal suratmu yang kau kirimkan lewat sela-sela bawah pintu rumahku. “Aku lebih mempunyai pilihan yang aku anggap baik. Aku lebih memilih mengurbankan perasaan cintaku pada mas Bagus. Cinta dan perkawinan adalah dua hal yang berbeda. Tidak setiap cinta mesti berakhir dengan perkawinan. Aku tidak ingin seperti ibu, yang harus mati dengan memendam kebencian luar biasa karena cinta. Aku juga tak ingin menyaksikan bagaimana perasaan sedih dan marah muncul dalam diri mas Bagus demi mendengar rahasinya. Aku juga tak ingin terus-menerus dalam bayangan ketakutan dan keraguan itu. Perasaan cinta yang aku kurbankan ini, justru bagian dari kesucian cinta itu. Itu tidak membenamkan cinta ke dalam tragedi, tapi sebaliknya, menghargai betapa mulia dan indahnya cinta karena pemiliknya harus mau berkurban untuk itu.”</p>
<p>Ternyata kamu lebih bijaksana. Ternyata kamu lebih mulia. Tapi kau tetap misteri bagiku.</p>
<p>Tuban, 7 Januari 2010.</p>
<p align="center">
<p align="center">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bangfad.com/sastra/cerpen-dedes.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>hiduplah dengan mataku</title>
		<link>http://www.bangfad.com/sastra/hiduplah-dengan-mataku.html</link>
		<comments>http://www.bangfad.com/sastra/hiduplah-dengan-mataku.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 24 Jan 2010 02:04:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>penyair cinta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Bersambung]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Sebuah Cerita]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[kumpulan cerita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bangfad.com/?p=1258</guid>
		<description><![CDATA[Judul: hiduplah dengan mataku Oleh: &#8220;adhi&#8221; “Aku ingin banget lihat indahnya dunia ini, dan melihat wajah seorang malaikat yang selalu menemani aku di !” Ucap syanta dengan penuh harapan “malikat…..?” Tanya adhi bingung, “ia malaikat, kamu itu seperti seorang malikat dhi, yang selalu menemani dan menjaga ku” “kamu bisa aja syanta….” “dhi, kenapa sih kamu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: right;">Judul: <strong>hiduplah dengan mataku</strong><br />
Oleh: <strong>&#8220;adhi&#8221; </strong></p>
<p>“Aku ingin banget lihat indahnya dunia ini, dan melihat wajah seorang malaikat yang selalu menemani aku di !”<br />
Ucap syanta dengan penuh harapan<br />
“malikat…..?”<br />
Tanya adhi bingung,<br />
“ia malaikat, kamu itu seperti seorang malikat dhi, yang selalu menemani dan menjaga ku”<br />
“kamu bisa aja syanta….”<br />
“dhi, kenapa sih kamu mau menemani aku ?”<br />
“karna aku sayang banget sama kamu dan aku ga mau terjadi apa-apa sama kamu”<br />
Ucap adhi tulus sambil memegang telapak tangan kiri syanta,<br />
“Sayang,,,,! Kamu sayang sama aku, bukannya kamu hanya kasihan dengan seorang gadis buta seperti aku ?”<br />
“kenapa kamu bicara seperti itu, jadi kamu meragukan perasaan ku ?”<br />
“bukanya aku meragukan dhi, mana ada sih seseorang yang ingin punya kekasih tunanetra, itu hanya dapat membuat ………..”<br />
Belum selesai bicara syanta memutuskan kata-katanya<br />
“membuat apa ?”<br />
Syanta hanya terdiam sejenak,<br />
“aku menyayangi kamu dengan tulus syanta, bukan karna aku kasihan dengan kamu, jadi buanglah keraguan kamu itu. Aku ingin menjadi kekasih yang selalu menjaga dan menemani kamu syanta”<br />
“maafin aku dhi aku ga bisa menjadi kekasih kamu, kamu lebih pantas dengan wanita normal bukan seperti aku”<br />
“kenapa kamu bicara seperti itu syanta ? aku ingin kamu bicara jujur bagaimana perasaan kamu selama ini sama aku ?”<br />
“sudahlah dhi, ga ada sedikitpun perasaan aku untuk kamu, aku selama ini hanya mengganggap kamu sebagai teman !”<br />
“kamu bohong syanta, kamu bohong………..!!!”<br />
Teriak adhi dengan sedih dan ia segera berlari pergi dari hadapan syanta dengan membawa kehancuran di hatinya, syanta hanya terdiam dan merenung atas semua apa yang telah dikatakannya pada adhi. Dalam hatinya syanta berkata “maafin aku dhi, aku telah membohongi perasaan aku sebenarnya aku sayang sama kamu tapi aku tidak ingin menyusahkan kamu semoga kamu mendapatkan wanita yang lebih baik dari aku”<br />
Ternyata syanta juga memendam perasaan dengan adhi, terpaksa ia mengorbankan cintanya hanya karna ketidak sempurnaan dirinya, namun apa yang di lakukannya itu justru membuat dua hati menjadi hancur.</p>
<p>***<br />
<span id="more-1258"></span>Dalam gelapnya malam yang di terangi sinar bulan dan bertabur bintang terlihat adhi yang sedang duduk di teras depan rumah bibinya, melihat adhi sendirian  vhie segera menghampirinya.<br />
“Hei…. Sendirian aja mas, boleh gak gue nemenin ?”<br />
“nemenin tidur !!”<br />
Canda adhi,<br />
“sialan lo….!! Nemenin duduklah”<br />
“duduk tingal duduk pake basa basi segala lo”<br />
Tanpa komentar lagi vhie lekas duduk di samping adhi.<br />
“Eh… gimana tuh kabarnya syanta ?”<br />
Tanya vhie yang seakan meledek adhi,<br />
“ga tau !!!”<br />
Ucap adhi singkat_<br />
“bukannya lo buntutnya dia ?, dimana ada dia pasti di situ ada lo!!”<br />
“Auah…….. ngapain si bicarain dia”<br />
“kelihatannya lo lagi kesel banget nih sama dia”<br />
“Iya gue kesel sama dia !!!!”<br />
“santai ajalah bicaranya, mang lo kesel kenapa ?”<br />
“mau tau aja lo !”<br />
“yeh di tanyanya………”<br />
“vhie, tau ga lo syanta tuh pengen banget bisa melihat”<br />
“yeh semua orang buta juga pengen bisa melihat, asal lo tau ya dhi keluarganya tuh dari dulu udah berusaha untuk mencari pendonor untuk syanta, tapi mana ada orang yang mau mendonorkan matanya rugi banget, sekalinya ada orang yang udah meninggal tapi ga cocok”<br />
“pasti ada seseorang yang mau memberikan matanya buat syanta’<br />
“Siapa orangnya…..?”<br />
“gue…..!!!”<br />
“bercanda lo….?”<br />
“serius, gue pengen syanta bisa melihat dari lahir sampai sekarang yang dia lihat henyalah kegelapan”<br />
Mendengar kata-kata adhi, vhie hanya tersenyum tipis….<br />
“lo tuh harus berfikir panjang dhi, jangan seenaknya aja ngambil keputusan seperti itu, secara lo itu seorang penulis kalau saja lo ga bisa melihat gimana lo mau kerja dan lo ga akan bisa kemana-mana tanpa ada seseorang yang menemani lo dhi”<br />
Ucap vhie yang meyakinkan keputusaannya adhi,<br />
“gue ga peduli vhi, gue sayang sama dia dan gue akan ngelakuin apa saja untuknya, lagi pula gue udah puas melihat dunia dan kehidupan ini, sekarang saatnya dia merasakan kebahagiaan yang belum pernah dia rasakan”<br />
“Lo udah bener-bener kena virus cinta dhi, asal lo tau cinta yang seperti ini hanya memberi penderitaan buat lo&#8230;.”<br />
Adhi tetap kekeh dengan keputusaanya dan tak mempedulikan saran spupunya itu.</p>
<p>***<br />
Setelah berfikir matang-matang adhi memutuskan untuk mendonorkan kedua bola matanya untuk syanta, keesokan paginya ia bergegas pergi kerumah sakit untuk berkonsultasi pada dokter mata, setelah melakukan pembicaran dan persetujuan dengan dokter dan keluarga syanta akhirnya mereka sepakat untuk adhi mendonorkan matanya dengan syarat syanta tidak boleh mengetahui hal ini.<br />
Setelah mendapat kabar dari orang tuanya akan ada seseorang yang akan mendonorkan matanya untuk syanta, syanta merasa bahagia sekali atas kabar itu ternyata apa yang di impikannya terwujud, tanpa ragu ia menelpon adhi<br />
Adhi     : Halooo<br />
Syanta    : Adhi….<br />
Adhi    : iya syanta, ada apa ?<br />
Syanta    : kamu tau gak, aku tuh hari ini bahagia banget,<br />
Adhi    : bahagia kenapa,,,,?<br />
Syanta    : ada seseorang yang mendonorkan matanya untuk aku,<br />
Adhi     : Lalu ?<br />
Syanta    : jika aku bisa melihat orang yang pertama aku lihat adalah kamu,    lalu pendonor itu, keluargaku, dan semuanya.<br />
Adhi    : Hhee….<br />
Syanta : ko, kamu malah tertawa sih,,?<br />
Adhi     : yah aku bahagia aja, karna sebentar lagi aku akan mempunyai pacar yang dapat melihat.<br />
Syanta : aku maksud kamu,,,,?<br />
Adhi    : Iya………<br />
Syanta     : Ih…. Pd banget kamu, oh iya aku mau nanti sore kita ketempat biasa, aku mau menghirup udara sejuk itu yang terakhir, dan untuk selanjutnya aku akan melihatnya tempat itu untuk yang pertama kalinya.<br />
Adhi     : Iya-iya nanti sore aku akan jemput kamu.<br />
Syanta     : Yaudah aku tunggu nanti sore, makasih adhiii…….</p>
<p>Setelah melakukan pembicaraan dengan syanta melalui telpon adhi meneruskan pembicaraanya dengan dokter dan orang tua syanta.<br />
“Jadi kapan operasinya akan di lakukan dok ?”<br />
Tanya adhi pada dokter itu,<br />
“sebelum oprasi di lakukan sebaiknya anda di periksa terlebih dahulu, apakah kornea mata anda cocok dengan kornea mata syanta”<br />
“Kalau begitu bisa kita mulai pemeriksaannya sekarang”<br />
Sambung dokter itu,<br />
“yasudah dok….”<br />
Jawab adhi menyetujuinya, sesaat adhi dan beberapa dokter mata memasuki ruang pemariksaan, adhi di periksa mulai dari golongan darah sampai kesehatannya apakah cocok untuk menjadi pendonor. Setelah melalui proses pemeriksaan yang menghabiskan waktu sekitar satu jam akhirnya dokter memutuskan adhi cocok untuk mendonorkan matanya, proses operasi akan di lakukan esok hari tingal menunggu kesiapan mental adhi dan syanta saja untuk melakukan operasi.</p>
<p>***<br />
Setelah aktivitas yang melelahkan itu adhi tak lupa dengan janjinya pada syanta seraya akan menemuinya di puncak pinggir perkebunan teh. Ia berjalan seorang diri menuju tepi puncak itu sesampainya terlihat syanta yang sedang duduk sendiri menunggu kedatangan adhi.<br />
“syanta dengan siapa kamu kemari ?”<br />
Tanya adhi yang terheran melihat syanta sudah berada di situ seorang diri,<br />
“Bibi yang mengantarkan aku kesini, dan sekarang ia sudah kembali”<br />
“Oh….”<br />
Tanpa bicara panjang lebar ia segera duduk disamping kanan syanta,<br />
“dhi, aku sudah gak sabar nih ingin melihat !!”<br />
Adhi hanya tersenyum mendengar harapan syanta,<br />
“sungguh baik sekali orang yang mendonorkan matanya itu, padahal kata ibu pendonor itu masih hidup dhi”<br />
“Kamu harus bersyukur syanta karna masih ada orang yang seperti itu”<br />
“oh iya dhi, apakah masih ada sedikit saja rasa sayang kamu untuk aku ?”<br />
“maksud kamu syanta ?”<br />
Adhi kaget mendengar ucapan syanta yang tidak pernah selama ini ia terucap dari bibirnya.<br />
“maksud ku, apa kamu masih menyimpan perasaan sama aku ?”<br />
“perasaan aku ke kamu, ga secepat itu hilang, jadi aku masih menyimpan harapan sama kamu, kenapa kamu bertanya seperti itu syanta ?”<br />
Tanya adhi terheran,<br />
“karna sebenarnya aku juga memendam perasaan dhi sama kamu, hanya karna ketidak sempurnaan ku, aku merasa tidak pantas mendampingimu”<br />
“kamu bodoh syanta, cinta itu buta, cinta itu menerima apa adanya jadi aku ga peduli apapun yang terjadi sama kamu, dengan tulus aku menerima kekurangan kamu.”<br />
“aku ga mau dhi kalau kamu harus menderita hanya karena mempunyai kekasih yang tidak sempurna”<br />
Adhi hanya terdiam,<br />
“dhi kalau nanti aku dapat melihat, aku mau mencintai kamu dengan tulus”<br />
“Sungguh apa yang kamu katakan itu syanta ?”<br />
“Iya, dhi karna selama ini orang yang dapat memberikan aku kenyamanan hanya kamu”<br />
Adhi sangat bahagia mendengar ucapan syanta yang secara tiba-tiba,<br />
“dhi, pasti tempat ini indah sekali aku tidak sabar ingin melihatnya”<br />
“benar syanta, tempat ini begitu indah”<br />
Mereka sejenak terdiam adhi mulai mendekap erat tubuh syanta dengan kasih sayang yang begitu dalam<br />
***<br />
Keesokan paginya adhi terbangun dari tidurnya yang lelap, hari ini adalah hari terakhir ia melihat dunia, ia mulai mencuci wajahnya dan pergi keluar halaman rumah memandang alam yang begitu asri dan udara yang sangat sejuk ia berfikir mungkin syanta akan bahagia jika ia dapat melihat ini semua, tanpa fikir panjang ia segera mempersiapkan diri untuk melaksanakan pencangkokan mata untuk syanta, sesaat ia ingin pergi didepan teras ia bertemu dengan vhie (sepupu adhi)<br />
”kamu ingin kemana dhi ?”<br />
Tanya vhie curiga,<br />
”hari ini aku dan syanta akan melakukan pencangkokan mata”<br />
Jawab adhi ragu<br />
”apa kamu yakin dengan semua itu dhi, apa kamu sudah berfikir matang-<br />
matang, ini bukan perkara sepele dhi kalau kamu tidak yakin sebaiknya jangan dari pada nanti kamu akan menyesal”<br />
ucap vhie yang seakan tidak ingin adhi melakukan ini semua,<br />
”aku yakin vhie, aku sudah memikirkan semuanya sudah cukup puas aku melihat pahit dan manisnya kehidupan ini, namun sedikitpun syanta tidak pernah melihat indahnya dunia ini, jadi aku akan memberikan kebahagiaan untuknya biarlah semua ini terjadi aku ikhlas memberikan kedua mata ku ini”<br />
Mendengar penjelasan adhi vhie tidak dapat berbuat apa-apa ia hanya terdiam dengan matanya berkaca-kaca, begitu besarnya rasa sayang adhi terhadap syanta,<br />
”vhie aku berangkat dulu ya ?”<br />
Pamit adhi padanya, adhi mulai pergi dari hadapan vhie dan ia lekas pergi kerumah sakit sendiri dengan menggunakan sepeda motornya. Sesampainya dirumah sakit terlihat syanta dan keluarganya sedang menunggu kedatangan adhi, namun syanta masih tidak mengetahui bahwa seseorang yang mendonorkan matanya adalah adhi. Adhi lekas menemui dokter sepesialis mata yang akan menanganinya.<br />
”Bagaimana dok, apa operasinya sudah dapat dilakukan ?”<br />
Tanya adhi pada salah satu dokter itu,<br />
”kalau anda sudah siap operasinya akan segera dilaksanakan”<br />
Jawab doter itu seakan meyakinkan adhi,<br />
”saya sudah siap dok,,,,!”<br />
Balas adhi singkat. Adhi sudah siap syanta pun begitu mereka segera masuk keruang operasi untuk melakukan transfusi mata, operasi itu memakan waktu yang cukup lama dengan dibantu beberapa spesialis dokter mata operasi itu berjalan dengan lancar namun adhi dan syanta belum sadarkan diri, seluruh keluarga syanta hawatir dengan keadaan adhi dan syanta apakah mereka akan baik-baik saja, waktu terus mengalir bagaikan air gelap pun sudah menyelimuti langit seluruh keluarga telah lelah menanti kesadaran adhi dan syanta mereka meninggalkan rumah sakit dan kembali kerumah masing-masing.<br />
Malam semakin laut disisi lain vhie tidak henti-hentinya memikirkan keadaan adhi ia berfikir mengapa adhi begitu mau mendonorkan matanya hanya untuk seorang wanita yang sangat dicintainya.<br />
Senja mulai tiba perlahan adhi mulai sadar dari biusan obat yang membuatnya tak sadarkan diri, ia merasakan kegelapan disekelilingnya ia mulai menyadari dirinya sudah tak dapat melihat lagi namun ia tidak merasa sedih dengan keadaannya, ia terdiam sejenak berfikir bagaimana keadaan syanta, mengapa disaat keadaannya yang begitu buruk ia masih bisa memikirkan orang lain. Sesaat salah seorang perawat datang keruang itu untuk memeriksa adhi, suster itu mendekat ke tubuh adhi dan memberikan suntikan yang ditancapkan dipergelangan tangan kanan adhi.<br />
”suster,,,,,”<br />
Sapa adhi,<br />
”ada apa mas ?”<br />
Jawabnya singkat<br />
”kapan saya bisa keluar dari rumah sakit ini sus ?”<br />
”kalau keadaan mas sudah membaik mungkin mas sudah dapat keluar”<br />
”lalu bagaimana dengan keadaan syanta sus ?”<br />
”hingga saat ini syanta masih belum sadarkan diri, mungkin dosis obat bius untuk syanta cukup banyak, tapi anda tidak usah hawatir ia baik-baik saja”<br />
Mendengar kata-kata suster itu adhi merasa begitu tenang.<br />
***<br />
Andhing</p>
<p>Saat-saat yang sudah dinantikan akan tiba tak lama lagi perban yang menutupi mata syanta akan dilepas ia sudah tak sabar lagi ingin melihat semuanya, namun adhi begitu hawatir apa reaksi syanta jika melihat keadaanya, saat dokter mulai melepas perban yang menutupi mata syanta adhi tak menampakan dirinya dihadapan syanta. Perlahan syanta membuka kedua matanya terlihat dihadapanya beberapa dokter dan keluarganya ia begitu bahagia melihat ini semua ia bersyukur kepada tuhan dan memeluk kedua orang tuanya ia bertanya-tanya siapa seseorang yang telah baik mendonorkan matanya namun seluruh anggota keluarga termasuk dokter dan temannya masih merahasiakan identitas orang itu dari syanta, syanta pun bertanya dimana adhi kenapa ia tidak ada ditempat ini, vhie pun yang kebetulan berada disana menunjukan keberadaan adhi sekarang vhie mengajak syanta ketempat biasa dimana adhi dan syanta saling bertemu, setelah mealui jalan yang begitu melelahkan akhirnya mereka sampai ditempat itu, terlihat adhi yang sedang duduk terpaku disaung atas puncak perkebunan teh begitu bahagianya syanta melihat semua ini, ini adalah pertama kalinya ia melihat adhi dan tempat yang begitu indah yang sangat didambakannya selama ini, syanta mulai mendekat kearah adhi, menyadari kedatangan syanta adhi mulai terbangun dari tempat duduknya dan menyapa syanta, tanpa disadari bahwa adhi buta syanta lekas memeluk erat-erat tubuh adhi.<br />
”benarkah kamu adhi ?”<br />
Tanya syanta terheran<br />
”iya syanta, inilah aku. Aku bahagia kamu bisa melihat aku”<br />
Syanta hanya tersenyum tipis, mereka pun mulai duduk bersebelahan ketika syanta menulis sesuatu disecarik kertas yang bertuliskan I Love You dan adhi disuruh membacanya begitu panik adhi dengan apa yang dilakukan syanta dan ia tidak dapat membacanya, syanta bertanya tanya mengapa adhi hanya terdiam syanta mulai curiga ia melambaikan tangannya kedepan wajah adhi namun adhi masih tetap diam tanpa reflek apapun, akhirnya syanta mulai menyadari dengan keadaan adhi ia begitu kaget ternyata selama ini orang yang selalu menemaninya dan menjaganya ternyata tidak dapat melihat,<br />
”adhi teryata kamu buta&#8230;.. ga mungkin ini ga mungkin dhi.”<br />
”beginilah aku syanta, apa dengan keadaan aku seperti ini kamu masih tetap dengan janji mu syanta”<br />
”maafin aku dhi, aku ga bisa nepatin janji ku selama ini aku berharap seseorang yang akan mendampingiku sempurna bisa menjaga ku seutuhnya, dengan keadaan mu seperi ini sepertinya aku ga bisa”<br />
syanta masih belum bisa menerima kenyataan ini tanpa sepatah katapun ia berlari meninggalkan adhi, menyadari kepergian syanta adhi hanta terdian menahan air mata yang mengalir dipipinya, ternyata begitulah cintanya syanta tidak tulus. Vhie yang masih tetap berdiri menunggu adhi dan syanta tidak percaya begitu teganya syanta melakukan semua ini, dengan rasa kasihan vhie mendekat kearah adhi dan berkata<br />
”sudahlah dhi, ini semua takdir inilah jalan cinta yang kamu tempuh kamu sadarkan bagaimana syanta saat kamu terpuruk olehnya ia meninggalkanmu sendiri, kadang cinta tidak semanis yang kita bayangkan”<br />
Adhi masih tetap terdiam menahan perihnya sakit dihati&#8230;&#8230;.<br />
Selang waktu berganti syanta tak sedikitpun menemui adhi, katika syanta sedang duduk sendiri memandang keindahan suasana puncak dimana ia dulu menghirup udara sejuk dari tempat itu ia menemui sebuah buku diery dibalik tikar saung, dibukanya diery itu dan di bacanya ternyata diery itu milik adhi. Di lembar pertama tertulis<br />
8 Agustus 2009<br />
Diery aku kangen banget sama syanta, tapi aku ga mungkin menemuinya karna sekarang sudah larut malam&#8230;. diery aku mau menelponnya tapi aku ga punya handphond dan syanta selalu menyuru aku mengucapkan kata-kata good nite untuknya jadi sekarang aku harus  ke wartel menelpon syanta yah walaupun jaraknya cukup jauh aku rela.</p>
<p>10 Agustus 2009<br />
Diery hari ini syanta menghinaku karna jaket yang aku pakai beli dengan harga yang sangat murah, aku sakit banget aku akuin aku bukan orang kaya aku tidak sebanding dengannya aku hanya seorang penulis yang selalu bermimpi yang tak pernah mempunyai penghasilan lebih,<br />
12 Agustus 2009<br />
Diery malam ini malam minggu syanta memintaku datang kerumahnya untuk menemaninya jarak rumahnya begitu jauh dan aku ga punya kendaraan. Ingin pinjam motor teman dipakai semua jadi aku terpaksa pakai sepeda tetangga ku walaupun sangat lelah aku mengayuh pedal sepeda itu hingga setelah pulang dari rumahnya kaki ku terasa begitu sakit.</p>
<p>13 Agustus 2009<br />
Diery tanggal 17 nanti syanta ulang tahun aku ingin memberikan kado untunya tapi uangku tidak cukup, tadi eNdah menawarkanku meminjamkan uangnya kepada ku untuk beli kado tapi aku tidak mau menerimanya, aku tidak ingin memberikan hadiah untuk orang yang aku sayang dengan bantuan orang lain dan akhirnya ia menawariku untuk mengetikan tugas kampusnya dengan bayaran yang tidak begitu besar tapi cukup untuk membeli sebuah hadiah untuk syanta.</p>
<p>14 Agustus 2009<br />
Diery syanta ingin sekali dapat melihat, sejak lahir hingga dewasa ia hanya dapat melihat kegelapan aku ingin sekali syanta bahagia, kebahagiaannya adalah dapat melihat dunia dan kehidupan ini keluarganya sudah berusaha mencari pendonor mata untuk syanta namun belum juga mendapatkannya, diery setelah ku fikirkan aku akan mendonorkan mataku untuk syanta, diery tadi juga aku mengungkapkan isi hatiku dengannya namun ia menolaku ia ingin menjadi kekasihku jika ia bisa melihat, dan aku memutuskan mendonrkan mataku untuknya agar cintaku dapat terbalaskan.</p>
<p>15 Agustus 2009<br />
Diery hari ini aku dan syanta akan melakukan operasi pencangkokan mata, aku berharap operasi ini berjalan lancar dan syanta dapat menemukan kebahagiaannya&#8230;</p>
<p>Setelah enam hari terakhir ady menulis diery untuk hari ketujuh ia tidak dapat menulis diery lagi karna ia sudah tak dapat melihat, namun ia tak henti menulis diery ia menyuruh vhie menulisnya dengan di dikte&#8230;<br />
Inilah diery terakhirnya</p>
<p>16 Agustus 2009<br />
Diery hari ini syanta sudah dapat melihat, tadi siang ia menemui ku diperkebunan teh ditepi puncak, kata-katanya begitu menyakitkan ia dulu pernah berjanji jika dapat melihat ia akan membalas cintaku namun setelah ia mengetahui bahwa aku tidak dapat melihat ia pergi begitu saja meninggalkan ku dalam keterpurukan, teryata cinta dan janji manisnya hanyalah kepalsuan aku kecewa banget diery.</p>
<p>Setelah membaca diery yang di tulis adhi dalam satu minggu akhirya syanta menyadari kebodohannya, ia duduk terpaku merenung dan berkata dalam hatinya<br />
”apa yang telah aku lakukan, adhi yang begitu tulus mencintaiku dengan bodohnya aku mengecewakannya aku yang selalu memberikan mines 10 karena ia tidak punya handphon namun plus 100 karena ia selalu mengucapkan good night dengan pergi ke wartel yang sangat jauh dan larut malam hanya untuk ku, mines 10 karena jaketnya murah dan plus 100 karena jaket yang sering ku hina itu pernah melindungi ku dari derasnya hujan walaupun ia sendiri merasa kedinginan, mines 10 karena aku yang sering memarahinya karena sering datang telat saat malam minggu namun plus 100 karna ia rela datang untuk menemani kesendiriannku walaupun dengan menggunakan sepeda hingga kakinya sering pegal dan terluka, teryata selama ini aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi mines 10 karna hadiah yang ia berikan hanya sebuah buku diery yang telah ditulisnya dan murahan ini namun plus 100 karna ia membeli buku ini dengan jerih payahnya dan buku ini yang telah membuka mata hati ku.</p>
<p>Setelah ia merenung ia menyesali perbuatannya dan ia lekas menemui adhi di rumahnya namun saat ia sampai di depan rumahnya terlihan bendera kuning memenuhi rumahnya ia terkaget dan bertanya siapa yang meninggal ternyata yang meninggal adalah adhi karna sebuah kecelakaan. Syanta melihat tuduh yang tergulai kaku dengan diselimuti kain kafan putih dan hanya terlihat wajah adhi yang berparas kesedihan, melihat itu air mata syanta mulai berkaca-kaca.<br />
Di tengah keheningan itu tiba-tiba vhie datang menghampiri syanta dan memberikat secarik kertas dengan bertuliskan.<br />
”Syanta semoga kamu bahagia dengan semua ini, aku tau kamu ingin memppunyai kekasih yang sempurna namun kau tak pernah menyadari kesempurnaan bukanlah segalanya dengan tulus aku menyayangi mu walau kau seperti dahulu yang tak sempurna, semoga kamu dapat menemukan kebahagiaan mu dengan melihat dunia yang indah ini semoga mata ku itu  dapat menemanimu hingga akhir hayat mau”<br />
Ternyata syanta menyadari selama ini adhi tidak buta ia sempurna namun ia rela mengorbankan matanya hanya demi kesempurnaan orang yang di sayanginya.<br />
Syanta tidak dapat apa-apa lagi hanya penyesalan dan tangisan yang ia dapat cinta sejatinya tak akan pernah kembali sampai kapanpun.</p>
<p>?    Terimalah apa adanya seseorang yang kita sayangi,<br />
?    Cinta sejati hanya datang sekali (cinta sejati syanta hanya ada di mata adhi),<br />
?    Cintailah cinta ketika cinta itu ada disisimu,<br />
?    Ikuti kata hati jika tidak ingin menyesal.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bangfad.com/sastra/hiduplah-dengan-mataku.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerpen: PERSEMBAHAN TERAKHIR UNTUK BUNDA</title>
		<link>http://www.bangfad.com/sastra/cerpen-persembahan-terakhir-untuk-bunda.html</link>
		<comments>http://www.bangfad.com/sastra/cerpen-persembahan-terakhir-untuk-bunda.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Aug 2009 16:13:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator></dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[cerita hidup]]></category>
		<category><![CDATA[cerita mesra]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bangfad.com/?p=914</guid>
		<description><![CDATA[Cerpen yang manis,]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari ini hari Sabtu, hari yang kubenci. Sore ini aku harus pergi ke sebuah gedung menyebalkan yang disebut sekolah musik. Mungkin bagi sebagian besar teman-temanku disana, tempat itu sungguh menyenangkan. Alat-alat musik akustik dimainkan dengan indah. Mereka bisa memilih sendiri alat musik apa yang ingin mereka pelajari.</p>
<p>Namun tidak bagiku. Aku benci musik, apa lagi musik klasik, yang terpaksa kudengarkan setiap Sabtu sore. Uh……….menjenuhkan!</p>
<p>“Eva…segeralah bersiap-siap, jam empat nanti kamu sekolah musik bukan?” Tegur Bunda dari balik pintu kamar yang sedikit terbuka.</p>
<p>“Iya Bunda….sebentar lagi aku berangkat!” Teriakku dari dalam kamar.</p>
<p>Yap, aku terpaksa menuruti kehendak Bunda agar aku belajar bermain biola di gedung menjengkelkan itu. Aku tau Bunda akan sangat kecewa padaku bila aku menolaknya. Aku masih cukup punya hati untuk itu. Bunda begitu teropsesi pada biola. Aku tak heran mengapa. Dulu bunda sangat menyukai biola. Bahkan, beliau sering pergi ke luar Negeri untuk mengikuti konser ataupun lomba memainkan biola. Namun impian Bunda pupus seketika karena harus kehilangan sebelah tangannya karena sebuah kecelakaan. Jadi Bunda melampiaskan semua impiannya padaku..</p>
<p><span id="more-914"></span></p>
<p>“Eva…….cepatlah nak, jangan sampai kau terlambat. Ini, biolamu sudah Bunda siapkan”</p>
<p>Aku tersadar dari lamunanku. Jarum jam menunjukkan pukul 15.50. Akupun berpamitan pada Bunda, dan melesat bersama sepeda kesayanganku.</p>
<p>Takdir mengantarku menjadi anak tunggal yang yatim membuat Bunda menaruh harapan besar padaku. Aku tak ingin menanggalkan keinginan Bunda, tapi ini bukan duniaku. Bagaimanapun aku harus mengatakan hal ini pada Bunda suatu saat nanti.<br />
******</p>
<p>Siang itu, ketika aku baru pulang setelah bermain bola basket bersama teman-teman priaku, kudapati keadaan rumah begitu sepi. Lebih sepi dari biasanya.</p>
<p>“Dimana Bunda?” pikirku dalam hati.</p>
<p>Kutengok dapur, Bunda tak disana. Begitu juga di ruang baca, bekas ruang kerja ayah dulu. Bunda tak terlihat disana.<br />
“ Bunda……Bunda……Eva pulang” teriakku. Namun tak ada jawaban.</p>
<p>Namun akhirnya kutemukan Bunda terbaring lemas diatas ranjangnya. Wajahnya pucat, dan tampaknya ia kesakitan. Aku duduk ditepi tempat tidur, dan bicara pada Bunda</p>
<p>“Bunda, Bunda kenapa? Apa Bunda sakit? Ayo Bun, Eva antar ke dokter”</p>
<p>“Bunda tidak apa-apa sayang, hanya sakit kepala biasa. Istirahat sebentar juga pasti sembuh, Bunda sudah biasa begini” kata Bunda tersenyum tipis.</p>
<p>Aku mengelus lembut kening Bunda. Ku sibakkan anak-anak rambut yang menjuntai di  kening orang yang paling kusayang ini. Aku tak akan memaksanya. Karena aku tau betul sifat Bunda yang tidak suka dipaksa.</p>
<p>“Eva…”</p>
<p>“Iya Bunda”</p>
<p>“Belajarlah memainkan biola dengan sungguh-sungguh ya nak, jangan kecewakan Bunda”</p>
<p>Aku hanya tersenyum, tak berani mengiyakannya.</p>
<p>“Bunda sudah tua ya, kamupun sudah dewasa. Bunda ingin sekali melihat Eva sukses sebelum Bunda berpulang” kata Bunda lembut</p>
<p>“Bunda, jangan bicara yang tidak-tidak, Eva sayang Bunda”</p>
<p>“Bunda juga sayang sekali sama Eva…” jawab Bunda</p>
<p>Kata-kata Bunda barusan membuatku tersentak. Bagaimana aku bisa berprestasi bila aku tak bisa memainkan satu lagupun yang telah diajarkan? Akankah nanti Bunda kecewa padaku disaat-saat terakhirnya? Aku jadi merasa bersalah pada Bunda.</p>
<p>Di sampingku Bunda telah terlelap. Kupandangi wajahnya yang penuh kasih sayang. Garis-garis samar yang tertera di wajahnya menandakan kelelahan di usia tuanya. Rambutnyapun telah memutih. Semakin sayang aku pada Bunda.</p>
<p>Aku membelai pelan pipinya. Namun tiba-tiba aku merasakan ada sesuatu yang kurang.</p>
<p>“Ya Allah, Bunda! Bangun Bunda!” teriakku panik</p>
<p>Aku baru menyadari, nafas Bunda tersendat-sendat. Segera aku mencari pertolongan dari para tetanggaku. Aku menangis dalam perjalanan menuju rumah sakit. Aku khawatir pada Bunda. Aku terus berdoa agar Bunda diberi kesempatan untuk tetap hidup.</p>
<p>Di rumah sakit, Dokter dan suster lalu lalang di depanku. Aku terus menerus berdoa. Aku tak bisa membendung airmataku. Semuanya terjadi begitu cepat.</p>
<p>Setelah lama menunggu, seorang Dokter menemuiku dan membawakan sebuah kabar</p>
<p>“Ibu anda berhasil kami selamatkan. Namun ada satu hal yang harus anda ketahui”</p>
<p>“Apa itu Dok?”</p>
<p>“Ibu anda menderita kanker otak stadium empat. Dan kami prediksikan, sisa hidupnya tinggal satu tahun lagi”</p>
<p>Aku tersentak mendengarnya. Benar-benar terpukul. Bunda yang begitu kusayang akan pergi dariku selamanya. Aku, seorang Eva yang orang-orang nilai tomboy ini menangis sehari penuh karena masalah ini. Entah apa yang akan kulakukan sepeninggalan Bunda nantinya.<br />
*****</p>
<p>Setelah kejadian itu, aku selalu berusaha untuk membahagiakan Bunda. Aku tidak memberi tahu Bunda tentang sisa umurnya yang tak lama lagi. Namun agaknya Bunda sudah mempunyai firasat.</p>
<p>Sabtu sore yang biasanya kulalui dengan tak bersemangat, kini berubah. Ku coba untuk lebih serius belajar biola. Memahami lagunya, dan belajar menyukainya. Selain itu aku juga mencoba untuk mengikuti seleksi dalam pemilihan pemain konser atau pemilihan wakil sekolah dalam sebuah lomba. Masih terngiang di telingaku, kata-kata Bunda yang menginginkan aku sukses. Khususnya sukses sebagai pemain biola.</p>
<p>Beberapa bulan kemudian, aku berhasil mewujudkan impian Bunda. Aku berhasil menjuarai sebuah kontes musik klasik Nasional bersama biolaku. Bangga rasanya. Terlebih Bunda, aku dapat melihat kebahagiaan yang mendalam dalam airmatanya ketika aku pulang sebagai juara.</p>
<p>Kemenanganku ini pula yang mengantarku pergi keluar Negeri untuk bertanding di kancah dunia. Sungguh, baru kali ini aku merasakan senangnya mewujudkan impian Orangtua.</p>
<p>Tidak begitu lama setelah kepulanganku ke Tanah Air dengan gelar juara, keadaan Bunda semakin melemah. Bunda seakan sudah tidak kuat lagi menahan deritanya itu. Aku hanya bisa menemaninya di sisa-sisa waktunya.</p>
<p>“Eva…terimakasih sayang, kamu telah menjadi seperti apa yang Bunda harap. Bunda bangga sekali padamu” Bunda berkata lirih</p>
<p>Aku tersenyum. Kuraih tangan kanan Bunda yang masih berfungsi, dan ku dekap penuh kasih.</p>
<p>“Bila nanti Bunda tiada, janganlah kamu jadi anak pemurung. Hidupmu masih akan terus berjalan. Hidupilah dirimu sendiri, Eva. Eva anak yang mandiri, bukan?”</p>
<p>Aku mengangguk pelan. Miris rasanya mendengar suara Bunda yang bergetar.</p>
<p>“Hanya satu pesan Bunda. Jangan berhenti bermain biola, Eva”</p>
<p>“Iya Bunda, Eva janji. Tidak akan mengecewakan Bunda. Eva akan terus bermain biola” jawabku dengan suara serak, menahan airmata.</p>
<p>“Bunda percaya sama Eva…bolehkah Bunda mendengarkan sebuah lagu dari biolamu, nak? Sebagai lagu pertama dan terakhir yang Bunda dengar darimu.”</p>
<p>Aku mengangguk, lalu beranjak mengambil biolaku. Lantas, aku berdiri di dekat ranjang Bunda. Ku mainkan sebuah lagu kesayangan Bunda. Aku memainkan biolaku dengan penuh perasaan. Perasaan kasihku terhadap Bunda.</p>
<p>Bunda meneteskan airmata ketika mendengar permainanku. Beliau tersenyum manis, sebelum akhirnya menutup matanya saat lagu itu belum selesai kumainkan.</p>
<p>Aku menangis disamping jasad Bunda. Aku tidak bisa menutupi kesedihanku. Namun tenang rasanya melihat Bunda yang tersenyum sebelum meninggal. Semoga laguku dapat mengantar kepergiannya menuju surga. Itulah doaku saat itu.</p>
<p>Kini aku hidup berkecukupan. Berkat prestasi-prestasiku dulu, aku mendapat beasiswa sekolah tinggi seni di Jerman. Semua kebutuhanku ditanggung pemerintah. Di Jerman pula aku dipertemukan dengan pendamping hidupku.</p>
<p>Ku rencanakan untuk pulang ke Indonesia satu minggu lagi. Aku ingin menjenguk rumah peninggalan Bunda yang telah kusumbangkan sebagai perpustakaan sekolah seni yang telah menjunjung namaku. Aku juga ingin menengok makam Bunda yang tak jauh dari sana. Aku akan memainkan biolaku di depan makan Bunda. Agar Bunda bahagia melihatku sekarang yang datang bersama menantu dan cucunya.<br />
*****</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bangfad.com/sastra/cerpen-persembahan-terakhir-untuk-bunda.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Remembrant</title>
		<link>http://www.bangfad.com/sastra/remembrant.html</link>
		<comments>http://www.bangfad.com/sastra/remembrant.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Jul 2009 02:56:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>penyair cinta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Love Poems]]></category>
		<category><![CDATA[Romantic Poem]]></category>
		<category><![CDATA[love poem]]></category>
		<category><![CDATA[poem]]></category>
		<category><![CDATA[poems]]></category>
		<category><![CDATA[remember]]></category>
		<category><![CDATA[remember poem]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bangfad.com/?p=793</guid>
		<description><![CDATA[BORN IS NOT A CHOOSEN NOW, HERE I&#8217;M STUCK IN THE WORLD PRAISE AND COLLISION FROM MY LIPS FROZEN WAITING AN HOUR IN THE RAIN FOR THE ANSWER MAYBE NOW OR LATER THE DAY WILL COME,FOR US THE DAY THAT YOU EVER WANTED THE DAY WHEN EVERYONE SMILING AT YOU THE DAY WHEN YOUR BELOVED [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>BORN IS NOT A CHOOSEN<br />
NOW, HERE I&#8217;M STUCK IN THE WORLD<br />
PRAISE AND COLLISION FROM MY LIPS FROZEN<br />
WAITING AN HOUR IN THE RAIN FOR THE</p>
<p>ANSWER<br />
MAYBE NOW OR LATER<br />
THE DAY WILL COME,FOR US<br />
THE DAY THAT YOU EVER WANTED<br />
THE DAY WHEN EVERYONE SMILING AT YOU<br />
THE DAY WHEN YOUR BELOVED INSIDE YOU<br />
IS JUST ORDINARY DAY<br />
BUT, IS A MUST TO REMEMBER</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bangfad.com/sastra/remembrant.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kartini dialah Ibuku</title>
		<link>http://www.bangfad.com/sastra/kartini-dialah-ibuku.html</link>
		<comments>http://www.bangfad.com/sastra/kartini-dialah-ibuku.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Jun 2009 18:51:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>penyair cinta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Sajak Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Sajak Syair]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bangfad.com/?p=728</guid>
		<description><![CDATA[Iwansteep]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: right;">Judul: <strong>Kartini Dialah Ibuku</strong><br />
Oleh:<strong> Iwansteep</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Di umurnya yang hampir genap 46 tahun beliau masih bergelut dengan jarum mesin dan benang jahit. Wajahnya sudah nampak berkerut dengan rambut panjang yang jarang terurus. Di atas mesin jahit itu dengan semangat membabi buta beliau terus mencari nafkah untuk kehidupan yang lebih baik katanya. Berapa kali beliau mengungkapkan itu kepadaku tapi tak terlalu ku gubris, bagiku ini adalah jalan yang terbaik yang telah Tuhan berikan untuk aku dan ibuku.</p>
<p style="text-align: justify;">Ya…,mau gimana lagi, sosok suami yang seharusnya mendampinginya kini telah pergi demi cinta seorang pelacur. Kedua anaknya pun kini tak terlalu perduli dengan keadanya. Tinggallah aku dan dirinya menjalani hidup yang mungkin kelak bisa berubah. Mungkin..?</p>
<p><span id="more-728"></span></p>
<p style="text-align: justify;">ku sendiri pun tak bisa berbuat banyak dengan tongkat di kedua bahu dikiri dan kanan ku. Tapi setidaknya ada aku yang mendampingi beliau dengan semua keluh kesahnya. Ya..hanya aku yang tau rasa sakitnya yang terus menderu diselah-selah tulang sendinya. Penyakit rematiknya kini mulai menjadi-jadi ketika malam tiba, aku benar-benar tak bisa berbuat banyak. Terkadang keluhannya itu mencabik-cabik hati ku ini. Aku hanya bisa menangis di dalam hati. Sosok wanita terkuat yang pernah aku kenal kini harus mengelu karna penyakit Rematik yang tak kunjung sembuh. Aku hanya bisa membantunya mengosokkan param kocok dikedua kakinya berharap bisa sedikit mengurangi rasa sakit yang dialaminya. Sambil menyelami kepahitan hati yang tergambar dari wajahnya yang mulai lelah menjalani hidup yang semakin hari kian menyiksa batin dan jiwanya.</p>
<p>Pagi itu setelah sarapan, aku mengintipnya dari gerai jendela ruang tengah. Matanya fokus dengan apa yang ia kerjakan. Tapi aku tau otaknya tak bisa diam saja akan satu hal. Ada banyak bayang-bayang menggrogoti urat syarafnya. Pikirannya bercabang-cabang seperti akar pohon yang menjalar kesana kemari tak mungkin untuk bersatu. Pemersalahan yang tak kunjung usai, mulai dengan hutang-piutang yang harus di bayar di bawah jatuh tempo, sewa rumah yang sebentar lagi akan habis dan beralih kepada obat-obatan yang harus diambil di rumah sakit itu besok pagi.</p>
<p style="text-align: justify;">buku sayang..Ibuku yang malang.., mengapa nasib kita tak pernah kunjung berubah dari waktu ke waktu.., Tuhan sepertinya tak pernah jemu-jemu memberikan cobaan buat kita. Dalam bentuk kemiskinan, penyakit dan derita-derita hidup yang lainnya. “Apa salah kita kepada Tuhan bu…, sehingga penderitaan ini terus saja berlanjut dari hari-kehari. Mana jalan Tuhan yang pernah Ia janjikan di dalam kitab suciNya itu…!!”. Aku mengelu ketika sayur lode itu masuk kedalam mulutku.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah menyelesaikan semuanya, aku bersiap menyarung sepatuku. Hari ini aku berencana untuk mencari kerja lagi. Biar pun aku tau tak ada yang bisa menerima aku bekerja dengan keadaan fisik ku ini. Tapi aku tak putus harapan. Aku ingat dulu guruku pernah bercerita tentang kesabaran seorang hamba yang terus di uji. Dan berakhir dengan sukses yang Ia peroleh, hanya itu yang bisa memacu adrenalin smangatku untuk menjadi yang lebih baik. Ibuku hanya memberikan smangat dan Doa untuk ku. Walau aku tau dadanya begitu perih tapi Beliau tak bisa berkata banyak. Setelah ku cium telapak tangan kanannya dengan perlahan kaki-kaki ku yang tak bertenaga ini ku langkahkan dengan semangat bara api.</p>
<p style="text-align: justify;">
Aku terlahir bukan sebagai anak yang cacat, tapi 1 tahun yang lalu dokter mendiaknosaku terinfeksi suatu virus yang mengrogoti tulang belakangku dan menyebabkan aku lumpuh. Walau pun agak merepotkan dengan tongkat-tongkat di kedua bahuku ini, tapi mau tak mau aku sangat membutuhkanya untuk berjalan. Entah sudah berapa banyak harta Ibuku habis terjual untuk biaya pengobatan ku ini. Yang pasti aku tak mau hanya diam di rumah dan mengunggu malaikat Jibril mencabut nyawaku. Aku tak mau jika itu harus terjadi..!!. cukup sudah masa berkabung untuk diriku. Dan hari ini, hari ke 5 aku mulai kembali menata kehidupanku yang tragis ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Dulu aku pernah bekerja di perusahaan Telekomunikasi seluler yang cukup bonafit di kota ini. Tapi sayang “untung tak dapat di raih, malang tak dapat di tolak. Aku di PHK karna keadaan ku tak menunjang lagi untuk meningkatkan laba perusaan itu. dan sepertinya teman-teman seperjuanganku juga tak bisa berbuat banyak untuk menolong aku bertahan diperusahaan itu. kandas lah sudah semua harapan dan mimpi Indahku. Kehilangan semua peluang dan kebebasan melangkah sangat mencabik hati ini. Tapi mau bagaimana lagi…, takdirku berkata lain kepadaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam setiap doa sembahyangku, aku tak pernah luput untuk kiranya Tuhan segera mencabut penyakitku ini. Dan berharap bisa kembali sehat seperti sedia kala agar aku bisa mensosialisasikan janjiku kepada Ibuku dulu untuk memberangkat kan Dirinya menunaikan Ibadah Haji. Tapi sepertinya Tuhan belum berminat mengabulkan doa ku itu. Dan aku hanya bisa bersabar dan ikhlas dalam kabut derita ini, setidaknya itulah kata ibuku kepadaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Langkah ku mulai gontai, perutku mulai lapar dan haus.., petunjuk waktu di pergelangn tanganku menunjukkan pukul 4 sore.., aku harus kembali kerumah. Aku tak mau Ibuku berfikiran yang macam-macam. Aku tau pikiran orang tua jauh sepuluh langkah di depan kita. Makanya aku putuskan untuk segerah pulang kerumah. Beberapa kantor yang telah aku masuki menolak lamaranku. Ibuku pasti sedih jika mendengar hal ini. Air mataku menetes dengan sendirinya di tengah dentuman bunyi tongkat yang menghujam bumi ini. “Maafkan aku Ibu…”, air mataku masih terus menetes pilu.<br />
Sebenarnya aku ingin memaki Tuhan di kala itu. tapi rasanya mulutku tak sanggup untuk berucap sesuatu kepadaNya. Dengan cucuran keringat dan air mata. Sayu aku memandang kedepan dengan wajah Ibuku yang menjadi smangat hidupku. Batinku masih bercokol dengan rasa perih yang teramat sangat. “Oh…Tuhan tolong aku dan Ibuku agar kiranya bisa kuat dari beban berat ini…”. Batin ku mejerit.<br />
Pukul 4.30 keadaan di depan rumahku di penuhi orang-orang yang tak pernah kulihat. Aku tak bisa menebaknya. Seribu perasaan menyerumput di hati ini. Dengan sisa-sisa tenaga yang aku punya, aku mempercepat langkah kakiku menuju rumah tua itu. Di depan teras samar aku melihat Pak RT sedang mengobrol dengan  seseorang yang tak aku kenal. Para tetangga pun ikut hadir disana. Tiba-tiba saja ada perasaan takut menghinggapi pikiranku. “Jangan-jangan Ibu….”. aku semakin mempercepat langkahku.<br />
“ Yang sabar ya..Nak…” Pak Rt langsung memeluk diriku ketika aku sampai di teras rumah itu.<br />
“Ada apa ini pak…, Ibuku mana…!!!” aku berteriak.<br />
“Ibumu tadi siang di bawah kerumah sakit karna serangan Jantung..” Pak Rt terus memeluk ku erat dan tak bisa aku lepaskan dari tubuhku.<br />
“Tidak mungkin pak…, tadi pagi Ibuku masih sehat.., bapak becanda kan..!!” aku kembali berteriak dan mencoba melepaskan diri dari pelukannya.<br />
“Benar nak.., bapak ndak bohong.., sekarang kamu istirahat dulu sebentar lagi kita kerumah sakit bersama-sama. Pak Rt membujuk ku.<br />
“Bapak gila…!!!, bagaimana saja bisa istirahat kalo Ibu saya ada di rumah sakit…!!, aku mau kesana sekarang…!!!, lepaskan Aku…!!! Aku merontak dalam pelukkan itu.<br />
“Ya…sudah..kamu tenang dulu..!!, jangan panik..gitu.. kita pasti kesana koq…” kembali Pak Rt menghiburku. Dan akhirnya kami berangkat menuju Rumah sakit itu.<br />
Selama di perjalanan pikiran ku tak stabil.., Aku tak mau kehilangan Ibuku saat ini. Jika Ibu ku mengginggal aku orang pertama yang akan menyusul dirinya. Hanya itu alibi yang menonjol dalam pikiranku.<br />
“Nak Danu.., kamu jangan sedih.. Ibumu baik-baik saja disana..” suara Pak Rt mengagetkan aku dari lamunan yang panjang. Aku hanya diam dan menatap keluar jendela mobil itu. Jarum-jarum dari langit tumpah ruah kejalan seakan menambah peluh di dada ini. Kuhapus embun yang menempel di jendela mobil itu dengan jari-jemariku yang sedikit kaku.</p>
<p>“Ya..,Tuhan…, Tolong jangan kau Kau bawa Ibu ku sekarang.., aku masih belum sanggup hidup tanpanya, tolong Tuhan…jangan dulu..” aku berdoa di dalam hati.<br />
Jarum-jarum dari langit itu masih deras mengujam bumi ketika aku dan rombongan para tetanggaku tiba di pelataran parkir Rumah sakit itu. kaki ku yang sedikit kram karna udaranya yang dingin tak terlalu ku keluh kan. Otak ku hanya fokus pada keadaan ibuku. Aku melaju dengan perlahan tertatih-tatih menaiki tangga Rumah sakit itu. Melewati lorong-lorong yang lumayan sempit dan tiba di kamar 403 tempat Ibuku terbaring dengan infus di pegelangan tangan kanannya.</p>
<p>“Ibu…!!!” aku berteriak dengan air mata yang jatuh di kedua pipiku. Aku memeluk Beliau dengan erat. Aku tak mau kehilangan Beliau saat ini. Kembali aku menangis memeluk dirinya.<br />
“Udah..,Nak.., Ibu mu baik-baik saja.., Beliau cuma Istirahat sebentar.., dokter menyuntiknya dengan obat penenang agar Beliau cepat sembuh..” tante Butet menghiburku.<br />
Aku hanya diam, tapi perasaan ku kini mulai agak tenang. Tante Butet mengajak aku untuk mengobrol keluar ruangan, sepertinya Beliau akan membicakan hal yang penting dengan ku. Tante Butet sudah seperti keluarga ku sendiri meski Beliau hanya tetangga sebelah rumah ku, Beliau benar-benar baik kepada keluarga kami.</p>
<p>Tadi siang Ibu Yuli datang menagih utang kerumahmu.., Ibu Yuli mengancam jika tidak di lunasi besok pagi, Ibumu akan di laporkan ke polisi.., makanya mungkin Ibumu shock mendengar hal tersebut. Tapi kamu jangan khawatir.., utang Ibumu kepada Ibu Yuli sudah tante lunasi..”. tante butet memandang jauh ke dalam mataku. Aku kembali meneteskan air mata.., perasaan campur aduk di hati ini. Aku benar-banar tak bisa berbuat banyak untuk membahagiakan Ibuku. Aku memeluk tante butet dengan air mata membasahi punggung bajunya.</p>
<p>“Makasih banyak tante.., tante udah terlalu baik kepada kami. Bagaimana aku harus membalas kebaikan ini..,” aku masih menangis dalam pelukannya.<br />
“Jangan kau pikirkan dulu soal itu…, yang penting kamu rawat dulu Ibumu disini.., dan kalau bisa hubungi semua saudaramu, mungkin mereka bisa sedikit membantu untuk biaya Rumah sakit ini…, kamu ngerti kan…?” suara tante Butet samar di telinggaku. Aku hanya menganguk kan kepala saja.</p>
<p>Pukul 03.35menit aku duduk di balkon ruang tunggu untuk pasien. Dari semalam mataku tak mau terpejam, pikiranku kusut, dan perutku terasa lapar tapi tak nafsu makan. Pikiran tentang biaya Rumah sakit menghatui segenap laraku. Aku kembali terpuruk dalam keadaan ini. Bagaimana aku bisa menghubungi saudara-saudaraku seperti yang tante Butet katakan, kalo nomor telponnya saja aku tak punya. Ahh..bangsat..!!! Sepertinya aku benar-benar sendiri hidup di dunia ini..!! aku merasa kesal. Kaki ku sudah kram sejak dari semalam tapi masih tak ku pedulikan.</p>
<p>Pokoknya aku harus cari cara agar bisa melunasi biaya Rumah sakit ini nanti, aku ingat dulu ibuku tak pernah menyerah dalam mengahadapi cobaan hidup ini.. Aku belajar banyak darinya. Bayangan ku masih melekat tajam bagaimana Ibuku dengan tertatih-tatih bangun di tengah malam membuat adonan kue untuk di titipkan ke warung sebelah dengan mengharapakan keuntungan 50 rupiah perbuahnya.., sesak dada ini jika mengingat hal itu. kadang adonan kue itu terbengkalai karna jahitannya yang lumayan banyak. Ibu ku benar-benar Wanita yang Hebat dan begitu malang Nasibnya. Air mataku jatuh kembali di kedua pipi ku.<br />
Beliau juga pernah tinggal di rumah kostan yang sempit seukuran 2&#215;1,5 meter selama satu bulan karna harus menghindari hutang yang belum sanggup ia bayar.., aku menyebut itu peti kuburan dari pada kamar..!! ya.., sedangkan saudaraku hanya bisa memaki dirinya dengan sebutan Ibu yang memboros..!!, dasar anak durhaka..!! hati ku mulai kembali tercabik jika mengingat hal itu.</p>
<p>Sosok mantan suaminya pun sama saja tak punya otak dengan saudaraku itu. masih gila memikirkan vagina dan payudara. Anjing kalian semua..!!!.</p>
<p>Subuh itu aku makin terpuruk.., tongkat di kedua sisi tubuhku ini benar-benar jadi penghalang.., “Ya.Tuhan.., begitu berat cobaan yang kau berikan ini kepada aku dan Ibuku.., tolong Kau berikan sedikit sinarmu dari atas sana agar aku bisa sedikit berfikir tentang hari esok yang mungkin cerah buat kami..” aku mengakhiri sholat ku dengan berdoa itu kepada Tuhan yang katanya Maha Pemurah dan Maha Pengasih. Amin.</p>
<p>Suara tante Butet mengagetkan aku ketika aku terlelap di kursi branda disebelah ranjang Ibuku terbaring. Pukul 07.05 tante Butet sudah menjenguk aku dan Ibuku dengan membawakan sedikit makanan ringan untuk ku mengisi perut yang memang sangat lapar. Ibuku masih belum sadar dari alam abstraknya. Dengan gontai aku menuju ke kamar mandi umun dan sedikit membasahi wajahku yang tampak kusut masai. Aku harus berfikir bagaimana cara memdapatkan dana untuk membayar biaya Rumah sakit ini dengan atau tanpa bantuan dari saudara-saudaraku yang durhaka itu. Kembali aku duduk di kursi pengunjung Rumah sakit itu dangan bekal makanan yang tante Butet bawakan tadi sebari berfikir dan berfikir.<br />
Tiba-tiba ada yang menggigit di dalam kantong celanaku. Handphone bututku berteriak untuk segera diangkat. Sebuah nomor asing yang tak ku kenal terpampang jelas di layar mungil itu.<br />
“Halo…!! Bisa bicara dengan saudara Danu Artha” sosok suara wanita di ujung telpon menyebut namaku.<br />
“Ya.., saya sendiri…, maaf anda siapa..” aku sedikit menggali informasi.<br />
“Saya Gendhis dari majalah Wanita.., maaf harus menggangu anda sepagi ini..” suara itu setengah menyalakan diri.<br />
“Majalah Wanita…, hmm…, ada yang bisa saya bantu mbak..” aku sedikit berfikir.<br />
“Ya.., Saya sudah baca cerpen anda yang berjudul “Kartini Dialah Ibuku”, dan saya benar-benar tertarik dengan isi cerpern tersebut. Maka dari itu saya selaku pengasuh Rubik majalah ini akan memuat tulisan anda di majalah kami. Apakah anda setuju…??” suara wanita itu menghujam sisi lain dari hati ku. Aku diam dan hampir meneteskan air mata.<br />
“Haloo…, saudara Danu.., ada masih disana…?” suara itu membuyarkan lamunanku.<br />
“Ya mbak.., saya setuju sekali.., terima kasih sudah mau menerima tulisan saya itu…” aku memahan air mataku yang hampir pecah.<br />
“Kalo begitu.., bisa saya minta alamat nomor Rekening anda.., kami akan berikan sedikit imbalan untuk anda..” wanita itu sedikit tertawa.<br />
“Ya..,mbak segera saya kirimkan nanti.., terima kasih..” tangis ku pecah saat itu juga”. Haru dan mencabik hati.<br />
“Oya…, sebenarnya kami sangat membutuhkan orang-orang yang punya imajinasi seperti anda untuk bergabung dengan majalah kami, apakah anda berminat..??” suara wanita itu semakin renyah terdengar.<br />
“Alhamdulliah…, saya sekarang memang sedang butuh apresiasi mbak.., saya berminat sekali. Tapi apakah keadaan fisik saya tak mengahalangi untuk bergabung di majalah mbak..” dengan terseduh aku mengeluh kepada Beliau.<br />
“Kami tak butuh gaya.., tapi kami butuh Kreasi dan imajinasi.., apakah anda senang mendengarnya..?” kembali dia tertawa kecil.<br />
“Allah hu akbar…!!!, terima kasih mbak.. saya senang mendengar hal itu..”<br />
“Ya..sudah jam 10 saya tunggu anda di kantor saya di jalan Penjahitan No.35 menteng jakpus. Ingat jangan terlambat..,saya benci orang yang tak sadar diri…” wanita itu sedikit mengultimatum ku.<br />
“Ya.. mbak.., saya akan datang 30 menit sebelum janji itu. terima kasih”. Kedua tongkatku seakan jatuh sediri tanpa ada yang menyentuhnya. Aku tau itu adalah malaikat yang Tuhan kirim kan untuk ku. Aku sujud syukur di ruang tunggu pasein itu dengan air mata berderaian. Semua orang yang lewat menandangiku antara Iba dan aneh, aku tak perduli. Tangisku kembali pecah di dalam pelukan tante butet setelah Beliau ku ceritaan kejadian yang baru ku alami itu.</p>
<p>Tante butet senang bukan kepalang mendengarya…, dan Beliau yakin jika Ibuku mendengar hal ini juga akan bahagia sekali. Mulai saat itu kepercayaanku mulai tumbuh kembali, setidaknya aku bisa membayar biaya Rumah sakit ini dan semua hutang-hutang ibu ku dengan gaji yang nanti aku peroleh. Terima kasih Ya..Allah.., doaku terkabulkan juga.</p>
<p>Kini dua minggu kemudian Ibuku sudah kembali kerumah kontrakkan kami. Tubuhnya masih lemas tapi semangat hidupnya masih bisa aku rasakan dari pancaran kedua matanya, seperti semangat hidupku yang berasal dari jantungnya. Aku menyalami kedua tangannya sebelum berangkat menuju dunia ku yang baru. Dunia untuk orang-orang yang tak pernah patah semangat seperti Ibuku yang sosoknya menyerupai sosok wanita terkuat yang pernah ada, dan akan tetap harum namanya seperti Kartini, karna Dialah Ibuku. I Love U Mom…</p>
<p>_End_</p>
<p>10juni09<br />
Iwansteep</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bangfad.com/sastra/kartini-dialah-ibuku.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pembicaraan Singkat di Handphone&#8230;</title>
		<link>http://www.bangfad.com/sastra/pembicaraan-singkat-di-handphone.html</link>
		<comments>http://www.bangfad.com/sastra/pembicaraan-singkat-di-handphone.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 May 2009 18:21:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>penyair cinta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[cerita indah]]></category>
		<category><![CDATA[cerita muda]]></category>
		<category><![CDATA[cerita nyata]]></category>
		<category><![CDATA[cerita smu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bangfad.com/?p=651</guid>
		<description><![CDATA[Judul: Pembicaraan Singkat di Handphone Oleh: Aishiteru Mojokerto 4 Mei 2009 Pada sebuah Senin… Malam sudah begitu menua. Beberapa waktu kemudian pagi datang sebagai jabang bayi yang begitu bersih dari dosa… Tuuutt…tuuutt…tuuut… Lalu… Klik.. “Halo…” “Hai. Halo. Apa kabar?” “Masih ingat sama aku?”, suara lelaki itu terdengar begitu sinis. “Ya iyalah. Gimana kabar kamu?” “Kenapa?” [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: right;">Judul: <strong>Pembicaraan Singkat di Handphone</strong><br />
Oleh: <strong><span class="email">Aishiteru</span></strong></p>
<p>Mojokerto<br />
4 Mei 2009<br />
Pada sebuah Senin…</p>
<p>Malam sudah begitu menua. Beberapa waktu kemudian pagi datang sebagai jabang bayi yang begitu bersih dari dosa…</p>
<p>Tuuutt…tuuutt…tuuut…</p>
<p>Lalu…</p>
<p>Klik..</p>
<p>“Halo…”</p>
<p>“Hai. Halo. Apa kabar?”</p>
<p>“Masih ingat sama aku?”, suara lelaki itu terdengar begitu sinis.</p>
<p>“Ya iyalah.  Gimana  kabar kamu?”</p>
<p>“Kenapa?”</p>
<p>“Apanya yang kenapa?<br />
Jangan sewot gitu dong.<br />
Ga capek apa marah dan sewot terus?”</p>
<p><span id="more-651"></span></p>
<p>“Tumben telfon aku? Masih inget?”, sekali lagi dia menjawab dengan begitu sinis.</p>
<p>“Ya cuma mau nyapa aja.<br />
Hp kamu lama ga aktif.<br />
Kenapa?”</p>
<p>“Kenapa memangnya?”</p>
<p>“Ya ampun…”</p>
<p>“Ada apa telfon?”</p>
<p>“Pengen tahu kabar kamu…<br />
Oh ya, sudah kerja ya?<br />
Dimana?<br />
Wah dah kaya nih!”</p>
<p>“Kamu masih perduli sama aku?”</p>
<p>“Lho? Aku kan cuma tanya saja.”</p>
<p>“Sudah selesai tanyanya?”</p>
<p>“Kok gitu sih?<br />
Tuh kan sewot lagi.<br />
Jangan jawab pertanyaan dengan pertanyaan dong!”</p>
<p>“Dijawab gimana lagi?”</p>
<p>“Ya dijawab dengan baik dan benar dong!”</p>
<p>“Sudah selesai tanyanya?”</p>
<p>“Sudah”</p>
<p>Klik..</p>
<p>Lelaki itu yang duluan menekan tombol End Call di handphone- nya…<br />
Wanita itu kecewa meski sebelumnya sudah memperkirakan hal ini. Lelaki itu masih belum memaafkannya. Dan sepertinya selamanya takkan mendapat maaf yang tulus…</p>
<p>Omar terlalu kecewa oleh Vaska…<br />
Dan Vaska kecewa karena tak lagi dapati Omar yang dulu…<br />
Omar sekarang selalu menjawab pertanyaan dengan pertanyaan…<br />
Vaska tetap menyimpan setitik suka untuk lelaki yang tak pernah ditemuinya itu…<br />
Karena perasaan begitu tak bisa diterka…<br />
Cinta tanpa tatapan mata…<br />
Itulah caranya mencinta Omar&#8230;</p>
<p>Dia menutup mata sambil sedikit berharap handphone itu masih akan aktif esok hari…</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bangfad.com/sastra/pembicaraan-singkat-di-handphone.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Lelaki Insomnia</title>
		<link>http://www.bangfad.com/sastra/lelaki-insomnia.html</link>
		<comments>http://www.bangfad.com/sastra/lelaki-insomnia.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 May 2009 18:20:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>penyair cinta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Dewasa]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Remaja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bangfad.com/?p=650</guid>
		<description><![CDATA[Judul: Lelaki Insomnia Oleh: Aishiteru Kediri 26 April 2009 Hampir tengah malam disini 23:14 Malam semakin melarut. Semua sudah nyenyak tinggali alam bawah sadar. Terlena oleh suasana malam yang memang begitu lenggang. Bisa juga karena terlanjur rapatkan kelopak karena paksaan lelah yang kian menjajah raga… Lelaki itu berada disini dengan sebuah kesulitan… Sebentar… Handphone-nya berdering [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: right;">Judul: <strong>Lelaki Insomnia</strong><br />
Oleh: <strong>Aishiteru</strong></p>
<p>Kediri<br />
26 April 2009<br />
Hampir tengah malam disini<br />
23:14</p>
<p>Malam semakin melarut. Semua sudah nyenyak tinggali alam bawah sadar. Terlena oleh suasana malam yang memang begitu lenggang. Bisa juga karena terlanjur rapatkan kelopak karena paksaan lelah yang kian menjajah raga…</p>
<p>Lelaki itu berada disini dengan sebuah kesulitan…</p>
<p>Sebentar…</p>
<p>Handphone-nya berdering oleh panggilan kawan lama. Seorang Andrita yang adalah karib seperjuangannya di bangku Fakultas Ilmu Administrasi dulu.</p>
<p>“Apa bedanya admired by dengan admired with?”</p>
<p>Lalu lelaki itu menjawab singkat; “Bukannya kamu dulu pernah menanyakan itu?”</p>
<p>“Masa sih?”</p>
<p>“Iya…”</p>
<p>“Kalau begitu ulang lagi dong jawabannya!”</p>
<p>“Basically sih sama aja, cuma kalau yang lebih grammar ya Admired By karena itu pasif. Tapi dua duanya common dipakai kok. Jadi ya sama saja…”</p>
<p>“Oh gitu. Ya sudah. Thanks ya…”</p>
<p>Pembicaraannya selesai…</p>
<p>Tentang lelaki itu&#8230;</p>
<p><span id="more-650"></span></p>
<p>Lelaki itu kini kembali tapaki nyawa di udara Kediri. Sebuah kota yang dulu pernah begitu erat menggenggam jemari hidupnya. Dia sempat berbagi senyum dan tangis dengan semua yang ada disini. Dia juga pernah melaju di indahnya cinta dengan wanitanya. Banyak sekali yang pernah dia alami disini. Sampai akhirnya dia merasa harus pergi. Lalu dia undur diri di awal Januari. Tepatnya di sebuah Jum’at malam dengan hujan nakal yang terus halangi kepergiannya. Saat kalender masih setia pada sembilan Januari dua ribu sembilan. Saat cuaca menahannya dengan begitu sangat. Namun dia tetap merasa harus pergi. Lalu dia dengan sabarnya membujuk hujan untuk berhenti merinai. Dia memohon agar kepergiannya direlakan. Karena wanitanya juga telah rela melepaskannya. Lalu lelaki itu mengucap Selamat Tinggal pada wanitanya. Hujanpun akhirnya menyerah. Sebuah perpisahan tanpa tangis dan haru. Biasa saja. Karena mereka tetap menautkan rasa. Meski jarak yang kemudian akan merajai…</p>
<p>Lalu…</p>
<p>Senja tadi lelaki itu kembali. Membawa beberapa butir rindu untuk melepas penat yang selama ini nyaman tinggali jiwanya. Jiwanya yang sendiri. Jiwanya yang tanpa wanitanya. Dia datang hanya dengan satu pinta. Semoga bisa bersenang- senang…</p>
<p>Setengah jam lagi, hari akan berganti nama. Tanggal juga akan berganti angka. Tapi tahun masih setia…</p>
<p>Semua raga sudah menutup mata. Karena itulah yang sewajarnya dilakukan. Tapi tidak dengan lelaki itu. Dia masih gagah dengan mata lebarnya yang seakan masih ingin terus awasi dunia. Dia gagal temui alam bawah sadarnya. Bisa jadi inilah yang disebut insomnia…</p>
<p>Dia tak tahu apa yang seharusnya dilakukan. Orang bilang lebih baik menghitung domba saja. Tapi mana mungkin bisa menghitung domba kalau seumur nyawanya di bumi ini dia tak pernah sekalipun melihat domba. Perasaannya tak begitu setuju dengan kata orang yang itu. Lalu orang yang lainnya mengatakan; lupakan semua yang kau pikirkan maka kamu akan segera terlelap. Tetap saja dia masih terjaga sambil merasa tak nyaman. Karena dia tak pernah tahu cara melupakan apa yang sedang dia pikirkan. Lalu sampai kinipun dia masih terjaga…</p>
<p>Dia berhenti sejenak demi mencuri dengar tanda- tanda kehidupan. Yang ada hanya suara dengkur wanitanya yang sejak tadi sudah terlelap oleh lelah berlebih. Dengkuran itu ternyata punya nada. Dan indah jika didengar. Apa karena semakin malam dia semakin melankolis dan romantis hingga semua yang ada tampak dan terdengar indah? Atau karena dengkuran itu adalah properti wanita bumi yang dicintainya? Lelaki itu langsung menjawab “Dua duanya!”</p>
<p>Aku mau bercerita sedikit tentang lelaki itu…<br />
Dia terlahir sebagai putra pertama dari tiga saudaranya yang lain. Kulit terang dan hidung mancungnya membuat dia selalu menganggumi diri sendiri. Dulu dia tergolong kurus. Tapi sejak dia bersama dengan wanitanya itu, berat badannya bertambah sekitar sepuluh kilogram. Tinggi badannya cukup; tak pendek juga tak terlalu jangkung. Kesan pertama tentangnya adalah cowok lumayan enak dilihat. Gayanya asal. Cuek meski tak seperti bebek…</p>
<p>Lelaki itu menguap panjang. Tapi bukanlah mendung tak selalu berarti hujan? Maka menguap tak selalu berarti mau tidur. Dan dia masih tetap sendiri cumbui dengkuran indah wanitanya…</p>
<p>Dia menguap lagi. Sama panjangnya dengan yang tadi…</p>
<p>Kali ini dia benar merasa tersiksa oleh waktu. Tak tahu lagi harus bagaimana…</p>
<p>Keringatnya semakin mengucur. Dia semakin gugup. Dia khawatir malam akan terganggu olehnya yang masih saja terjaga. Dia takut malam akan menyalahkannya karena kehilangan misterinya. Dia tak mau disalahkan. Kali ini dia benar- benar mau menjadi sama persis dengan raga- raga lainnya yang sudah mengatupkan nyawa. Dia tak mau terjaga…</p>
<p>Tapi dia tak tahu cara pejamkan mata…</p>
<p>Sulit sekali baginya…</p>
<p>Delapan menit lagi esok akan berganti nama jadi hari ini…</p>
<p>Tujuh menit lagi sekarang…</p>
<p>Dia semakin gugup&#8230;</p>
<p>Hari ini bernama Senin…<br />
00:07</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bangfad.com/sastra/lelaki-insomnia.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Surat Kepada RAN 1 &amp; 2</title>
		<link>http://www.bangfad.com/sastra/surat-kepada-ran-1-2.html</link>
		<comments>http://www.bangfad.com/sastra/surat-kepada-ran-1-2.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 May 2009 18:16:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>penyair cinta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Pendek]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Remaja]]></category>
		<category><![CDATA[surat]]></category>
		<category><![CDATA[surat cinta]]></category>
		<category><![CDATA[surat sayang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bangfad.com/?p=637</guid>
		<description><![CDATA[Judul: Surat Kepada Ran 1 &#38; 2 Oleh: &#8220;TAUFIK WALHIDAYAT&#8221; SURAT KEPADA RAN 1 pagi ran, mungkin saja baru pagi ini sempat kau baca suara kalbu ini sebab semalam engkau tidur dengan pulas sekali setelah seharian bergulat dengan gemerlap pijar lampu yang menyilaukan ran aku hanya ingin mengatakan padamu bahwa peracakapan kita di perlehatan sakral [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: right;">Judul:<strong> Surat Kepada Ran 1 &amp; 2</strong><br />
Oleh: &#8220;<strong>TAUFIK WALHIDAYAT</strong>&#8221;</p>
<p><strong>SURAT KEPADA RAN 1</strong></p>
<p>pagi ran, mungkin saja baru pagi ini sempat kau baca suara kalbu ini<br />
sebab semalam engkau tidur dengan pulas sekali<br />
setelah seharian bergulat dengan gemerlap pijar lampu yang menyilaukan</p>
<p>ran aku hanya ingin mengatakan padamu bahwa peracakapan kita<br />
di perlehatan sakral itu penuh makna bagiku<br />
meski kau hanya ucap  sepintas lalu<br />
ucapmu adalah anugerh bagiku<br />
tapi tahukah kau ran saat itu hatiku laksana terhempas gletser<br />
dingin sedingin beku<br />
sejuk sesejuk embun yang jatuh didedaunan<br />
ran , adakah bahasa yang sanggup ungkap bahagia ini<br />
saat kutahu kau baca setiap sajak<br />
yang kukirim padamu disetiap titik dua belas<br />
dan yakinlah ran, aku pasti datang padamu bukan hanya sajak<br />
seperti janjiku padamu saat itu<br />
tak lupa kubawa serta segala kejujuran yang pernah kumiliki<br />
itupun jika ada sepatah kata kepastian darimu<br />
ran, dibawah kegamangan dan keraguan mungkin<br />
aku menggigil diam seribu bahasa<br />
tersiksa waktu yang tersenyum beku disudut sunyi.</p>
<p style="text-align: right;">Banyuwangi, 02 Desember 2008</p>
<p><span id="more-637"></span></p>
<p><strong>SURAT KEPADA RAN 2</strong></p>
<p>seperti biasanya ran, malam inipun aku asyik sekali mengeja kata<br />
meski sebenarnya seluruh tubuhku serasa penat<br />
tapi entahlah ran, mata hati ini masih mengajakku mengembara<br />
menyusuri jalan-jalan setapak sepi kedalaman sunyi<br />
dan tiap langkah kaki adalah nyanyian sepi<br />
yang melantun lirih diatas kerikil beku</p>
<p>dingin ran, malam ini dingin sekali<br />
kucoba menyelimuti diri dengan sepenggal sajak tentang kepahlawanan<br />
yang sempat kubaca dari sebuah koran sore tadi<br />
namun dingin ini masih menghinggapiku<br />
dan tiba-tiba saja fikiranku terpaku pada zodiak yang terpampang di pojok halaman<br />
taurus asmara minggu ini dia sedang tidak enak hati bla bla bla<br />
kuda asmara bulan ini sedang baik dia masih ragu bla bla bla<br />
ah, tidak mengenakkan sekali zodiakku kali ini<br />
untung saja aku tak sedikitpun mempercayainya</p>
<p>oh ya ran, aku lupa mengatakannya padamu<br />
bahwa tadi siang aku sempat melukis sketsa wajahmu<br />
meski hanya sebuah sketsa hitam putih<br />
namun tergurat jelas didinding hatiku<br />
sebuah namamu terukir dibawahnya dengan huruf penuh cinta<br />
bukankah kautahu ran, aku tak bisa lepas dari bayangmu.</p>
<p>ran, dikejauhan lonceng berdentang tiga kali<br />
memaksaku lelap sejenak<br />
kuatkan diri untuk esok pagi<br />
agar kita bisa bertemu cakap tanpa rasa kantuk</p>
<p style="text-align: right;">Banyuwangi, 03 Desember 2008</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bangfad.com/sastra/surat-kepada-ran-1-2.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Oh Dewa Asmara</title>
		<link>http://www.bangfad.com/sastra/oh-dewa-asmara.html</link>
		<comments>http://www.bangfad.com/sastra/oh-dewa-asmara.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Apr 2009 12:25:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>penyair cinta</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi Malam]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi Rumi]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi Sedih]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi Valentine]]></category>
		<category><![CDATA[cinta sakit]]></category>
		<category><![CDATA[cinta sedih]]></category>
		<category><![CDATA[dewa asmara]]></category>
		<category><![CDATA[puisi asmara]]></category>
		<category><![CDATA[Puisi Cinta]]></category>
		<category><![CDATA[puisi dewa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.bangfad.com/?p=584</guid>
		<description><![CDATA[jarak yang membentang memupuk rindu yang kian merindang mengepak asa yang kian mengawang langkah kaki kian gontai menapak harap tak bertepi mengembara dinirwana raih sepercik bias cinta coba untai segala rasa ukir hati pelangi jingga oh&#8230;dewa asmara kau telah tancapkan panah didada bukan bahagia yang kurasa luka&#8230;terluka dan air mata oh&#8230;.dewa asmara cabut panah cintamu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color: #ff0000;">jarak yang membentang<br />
memupuk rindu yang kian merindang<br />
mengepak asa yang kian mengawang<br />
langkah kaki kian gontai<br />
menapak harap tak bertepi</span></p>
<p style="padding-left: 60px;"><span style="color: #008000;">mengembara dinirwana<br />
raih sepercik bias cinta<br />
coba untai segala rasa<br />
ukir hati pelangi jingga</span></p>
<p><span style="color: #0000ff;">oh&#8230;dewa asmara<br />
kau telah tancapkan panah didada<br />
bukan bahagia yang kurasa<br />
luka&#8230;terluka dan air mata<br />
oh&#8230;.dewa asmara<br />
cabut panah cintamu<br />
bila hanya membuat hati luluh pilu</span></p>
<p style="text-align: right;">From:              <span class="email">&#8220;TRI ULAN TAIPEI CITY&#8221;</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.bangfad.com/sastra/oh-dewa-asmara.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
