Archive for the ‘Puisi Rumi’ Category

jingga

Saturday, August 28, 2010 14:05 1 Comment

Judul: JINGGA
Oleh: Balada Sang Jingga

telah kubawakan jingga yang kucuri dari senja
untuk mengganti warna bajumu yang tlah lusuh karena dosa
telah kubawakan jingga yang kucuri dari purnama
untuk mengganti warna kerudungmu yang pucat karena dunia

usah kau pikirkan senja tanpa jingga
ia akan mengalah saat lengkung malam mulai rebah

tak usah kau pikirkan purnama tanpa jingga
bukankah, tak ada yang merindukan purnama itu
bukankah lebih baik jika jingga itu kucuri saja
lalu kujadikan hijab untukmu,..

biarlah purnama kehilangan jingga
tidakkah cahayanya telah redup oleh gemerlap lampu kota

jika jingga yang kuhantar
tak cukup untuk membuatmu berbinar,.
tak akan kucuri lagi jingga dari sang fajar,..


This was posted under category: Puisi Cinta, Puisi Harapan, Puisi Kenangan, Puisi Malam, Puisi Penantian, Puisi Rumi, Puisi Sedih, Puisi Umum, Sajak Syair Tags: , , , , ,

Penerimaan

Sunday, July 4, 2010 2:46 1 Comment

Judul Penerimaan
From: al-Umam

‘Ku tatapkan mata hatiku pada penjuru waktu
‘Ku lampiaskan tanya jiwaku pada yang kujumpai
Ada apa dalam getar hatiku ?
Bila bertemu satu angan yang terbayang
ada rasa kian meronta, hendak mencari penawar hati.
Akankah getar hatiku membawa asa ?. Dimana … ?
Karena asaku adalah hidupnya jiwaku.

Langkah demi langkah ayunan hatiku berpijak,
menelusuri gugusan masa hidupku ;
‘Ku rasakan getar-getar penuh misteri,
- seperti jalur seorang musafir,
menyusuri jalan berpasir .. berkerikil .., kadang berbatu.

Perjuangan,
Laskar cinta di medan sunyi
angan menggapai namun tiada membekas
hampa sebuah raihan kandas dalam bidikan,
sebuah perang sunyi di belantara gundahnya hati.

.. cinta kugapai, tiada kudapat,
rinduku …, ‘bak peluru tiada bermusuh.
Kini laskar cinta kesunyian di medan laga,
kutatap – sepertinya …
perang ini sebuah perjalanan panjang.

Haruskah ‘ku lalui seorang diri,
atau diam termenung berteman kalut
sehingga asaku habis merenungi penjuru waktu
yang hanya terpena di hati.

Haruskah ‘ku lalui seorang diri … ?

This was posted under category: Alunan Puisi, Puisi Cinta, Puisi Harapan, Puisi Kenangan, Puisi Malam, Puisi Pahlawan, Puisi Penantian, Puisi Rumi, Puisi Sahabat Tags: , , , ,

Aku Adalah Mata Elang

Saturday, October 10, 2009 19:46 No Comments

Judul: Aku Adalah Mata Elang
Oleh: Avan Pedro

Kata orang ini negeri kaya
dipagari cendana
dialiri minyak
dan diteduhkan kopi

tapi,…ke mana pergi dana cendana
minyak,……siapa yang enak dan nyenyak
banyak kopi
tapi pribumi tetap saja koki di restoran-restoran alien

Negeri ini penuh dengan lintah darat
mulut mereka tiada pernah penuh
sebelum terisi dengan tanah
hukum tak lebih dari sebilah pisau
tajam ke bawah tumpul ke atas

tapi aku adalah mata elang
yang kan menandai punggungmu dari atas langit biru
wahai lintah darat

This was posted under category: Puisi Cinta, Puisi Harapan, Puisi Kenangan, Puisi Malam, Puisi Penantian, Puisi Rumi, Puisi Sahabat, Puisi Sedih, Puisi Semangat, Puisi Umum Tags: , , , ,

Hamparan Mutiara

Thursday, July 23, 2009 18:09 No Comments

Judul: Hamparan Mutiara
Oleh: Nadhika

Sepi hening dikeramaiyan
menatap hari tanpa dedaunan
tak satupun serpian daun menerawang
menutupi diri dalam ketenangan
berdiri sepi menatap rembulan
ditemani sang kekasi malam
hamparan mutiara bersinar terang
tanpa bunyi rembulan malam
diri runtuh benuh ke iklasan
menuntun diri mengharap penerangan
wujut nyata tanpa bayangan
mensyukuri indahnya alam
merunduk alam tanpa angin
menitih air dari sang rembulan
melepas angan angan nenunggu ke iklasan
agar datang ketenangan

This was posted under category: Puisi Cinta, Puisi Malam, Puisi Rumi, Puisi Semangat, Puisi Umum Tags:

Berita Alam

Wednesday, July 8, 2009 11:51 1 Comment

Judul: Berita Alam
Oleh: Ahmadi

Hailintar menggelegar, daun-daun berguguran
Langit biru menghilang
Burung terbang tinggalkan sarang
Rintik hujan berjatuhan, payung-payung dikenakan
Pohon tumbang tercabut dari akarnya
Awan hitam semakin mengembang
Kulangkahkan kakiku menuju cakrawala
Gapai harapan mimpi indah
Kupetik senar gitarku nyanyikan lagu tra la la
Merah putih sudah kusam warnanya
Burung garuda entah terbang kemna
Pancasila tak lagi bermakna
Indonesiaku tertutup wajahnya
Badai datanglah hentak kegersangan
Hujan turunlah sirami kekeringan
Mentari terbitlah ubah kesuraman alam ini, negri ini..

This was posted under category: Puisi Cinta, Puisi Harapan, Puisi Malam, Puisi Rumi, Puisi Semangat, Puisi Valentine, Sajak Cinta, Sajak Melayu, Sajak Syair Tags: , , , , , , , , , , ,

Oh Dewa Asmara

Thursday, April 23, 2009 12:25 1 Comment

jarak yang membentang
memupuk rindu yang kian merindang
mengepak asa yang kian mengawang
langkah kaki kian gontai
menapak harap tak bertepi

mengembara dinirwana
raih sepercik bias cinta
coba untai segala rasa
ukir hati pelangi jingga

oh…dewa asmara
kau telah tancapkan panah didada
bukan bahagia yang kurasa
luka…terluka dan air mata
oh….dewa asmara
cabut panah cintamu
bila hanya membuat hati luluh pilu

From:

This was posted under category: Cerita Cinta, Puisi Malam, Puisi Rumi, Puisi Sedih, Puisi Umum, Puisi Valentine Tags: , , , , , ,

Hati yang terluka

Monday, April 20, 2009 8:34 1 Comment

Malam yang kian mencekam
Hanya terdengar desah nafas kehidupan
Binatang malam nyayikan kidung kerinduan
Dewi malam bergelayut manja
Dalam dekapan sang bayu

Bulan… Bintang
Sembunyi dibalik awan hitam
Semua seakan tahu
Hatiku yang terluka
Menagis pilu bagai disayat sembilu
Terkluka dan selalu terluka

Dalam bercinta
Kini kumengambang
Ditengah samodra kehidupan
Tak tahu arah kemana harus kuberlayar
Tanpa tangan tuk pegangan
Tanapa dayuh tuk mendayung

Mungkinkah…..?
Kan ada seorang nelayan cinta
Bawaku ketepian pantai asmara
Tuk labuhkan hati
Yang semakin rapuh dimakan usia
Bersandar didermaga bahagia
Sampai nyawa lepas dari raga

From: “TRI ULAN TAIPEI CITY”
Monday, April 20, 2009 9:49 AM

This was posted under category: Cerita Cinta, Puisi Cinta, Puisi Harapan, Puisi Rumi, Puisi Sahabat, Puisi Sedih, Puisi Semangat, Puisi Umum, Puisi Valentine Tags: , , , , , ,

Ketakutan

Monday, April 20, 2009 8:31 No Comments

ketakutan selalu menghantuiku
menghantui hari – hari ku
seakan aku tak kan bisa melalui hari – hari ini

ketakutan juga selalu membuatku kecewa
sakit……….
pedih…..
tak ada yang bisa tempatku tuk melalui ketakutanku

aku benci dengan semuanya
aku benar – benar muak
aku ingin lari dari ketakutan ini
tapi kenapa aku ngak bisa

tapi ku ingin melawan ketakutan ini
aku tidak mau terus – menerus dihantui ketakutan ini
karena ku ingin ketakutan ini menjauh dariku………….
ku ingin hidup tanpa ketakutan ………..

party9

This was posted under category: Cerita Pendek, Puisi Cinta, Puisi Harapan, Puisi Rumi, Puisi Sedih Tags: , , , , , ,

Kisah Lagu Seruling

Wednesday, December 24, 2008 16:40 6 Comments

Dengan alunan pilu seruling bambu
Sayu sendu lagunya menusuk kalbu
Sejak ia bercerai dari batang pokok rimbun
Sesaklah hatinya dipenuhi cinta dan kepiluan

Walau dekat tempatnya laguku ini
Tak seorang tahu serta mau mendengar
O kurindu kawan yang mengerti perumpamaan ini
Dan mencampur rohnya dengan rohku

Api cintalah yang membakar diriku
Anggur cintalah yang memberiku cita mengawan
Inginkah kau tahu bagaimana pencinta luka?
Dengar, dengar alunan lagu seruling bambu

Dalam Mathnawi III:4436-7

This was posted under category: Puisi Rumi Tags: , , ,

Jalan Cinta yang Utama

Wednesday, December 24, 2008 16:34 No Comments

.. Pencinta punya pelindung dalam pembuluh darahnya,
Pencinta sibuk membicarakan Cinta yang tak dapat dibandingkan.
Kata Akal, “Rukun iman yang lima perkara sudah mencukupi, tiada lagi jalan”
Cinta menjawab, “Ada sebuah jalan, berulang kali aku melaluinya!”
Akal melihat pasar, kemudian mulai berjualan
Cinta melihat ada banyak pasar di sebalik pasar akal.
Banyak al-Hallaj mereka temui di sana, mereka meyakini jiwa cinta
Dan menolak mimbar seraya memilih tiang gantungan
Pencinta yang faqir memiliki penglihatan hati penuh pesona
Orang yang hanga mengandailkan pada akal, hatinya gelap, semua disangkalnya
Akal berkata, “ Janganlah kakimu dijejakkan di situ,
Di halaman istana hanya duri yang tumbuh!”
Cinta berkata, “Duri-duri ini semuanya milik akal yang bersarang dalam dirimu!”
Waspadalah dan diam, buanglah duri kehidupan dari telapak kaki!
Supaya kau mendapat pelindung di dalam dirimu.
Shamsi Tabriz! Kaulah matahari dalam awan kata-kata;
Apabila matahari terbit, maka setiap kata pun sirna!

Judul Inspirasi oleh Admin
Sajak Jalaluddin Rumi

This was posted under category: Puisi Rumi Tags: , , ,

Choreography Blogs - BlogCatalog Blog DirectoryDirectory of Archaeology BlogsArts Blogs - Blog Rankings Visit blogadda.com to discover Indian blogsBlog Search, Blog Directory
Blog DirectoryPowered by Stats 21blogarama - the blog directoryCheck PageRankGoogle bot last visit powered by Gbotvisit.comYahoo bot last visit powered by  Ybotvisit.comMsn bot last visit powered by ScriptmeAdd to Technorati Favorites
puisi, cinta, alam, milis, buma, bunga, matahari, sejuta, kasih, bebas, sastra, sastra nusantara, poem, sajak, syair, kata cinta, sejuta cinta, sejuta puisi, cerpen, cerita, cerita pendek, cerita panjang, cerbung, cerita bersambung, nusantara, sastra nusantara, pontianak, puisi pontianak, kalbar puisi, pantun, seni, seniman, cerita pendek, cerpen, cerita panjang, cerita bersambung, cerbung, cerita remaja, cerita dewasa, cerita orang tua, cerita dongeng, cerita anak, cerita indonesia, cerita melayu, cerita adat, puisi melayu, puisi malaysia, puisi negara, poem, puisi alam