Cinta Platonik
Lembut senja itu masih terasa hangat aku rasakan, hingga aku lupa malam telah mengganti wajah hari. Masih dapat aku rasakan suaramu disini, suara yang selalu berdengung di dinding yang mulai retak dan merapuh ini. Kau datang atas nama cinta, kaupun datang penuh dengan segala misterimu. Hingga aku lupa tuk selalu berpijak di alas bumi…perlahan aku mulai mengambang dan seakan terbang. Aku mulai mabuk kepayang dengan segala elokmu yang kau sebarkan di ladang hatiku yang luas membentang.
Kita memang pernah punya kisah dalam irama rupa-rupa.
Aku tak ingin lagi memimpikanmu,meski rindu ini mengutukku.
Dan akupun tak lagi memujamu,meski rembulan tenggelam di wajahmu.
Biarkan saja sekumpulan hari esok berbisik-bisik tentang kita yang tak juga saling mengikat.
Biarlah malam ini aku tertawa dan menangis sendiri,
karena aku tak butuh suara-suara misterimu….
Incoming Search
contoh puisi platonik,puisi platonik,contoh puisi subjektif,contoh puisi patonik,kumpulan puisi platonik,Menjelang hari H Nania masih sulit mengungkapkan alas an kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu,puisi platonik dan contohnyaCategories: Alunan Puisi







No Comment to “Cinta Platonik”