-memoriam-

tawa angin membelai rabutku
sementara aku duduk bersimpuh
sambil mainkan butiran pasir

tak lama,
kulihat dari kejauhan
pita kecil dari bibir yg tak pernah ku kenal

canda tawa di hamparan permadani
buatku terhipnotis
tuk ikut mengalun dalam melodinya

tak jarang kerikil menyandung lutut
rumput ilalang membelit tangan
sang lebah pun tak kalah menyengat mulut

sampai malam membisik telingaku,
mendesah mimpi-mipiku
kita tertawa terisak bersama
walau tak panjang

dan satu alasan, satu keputusan
buat kita jauh terlontar ke dua galaxi yg berbeda
bukan seperti magnet utara selatan
melainkan utara utara atau sebaliknya

mulut tak lagi mengucap
hati tak lagi merasa
tawar bubur semakin hambar

hanya senyum kecil
tiap kita bertemu
walau hati berkata lain



If you enjoyed this post, please consider to leave a comment or subscribe to the feed and get future articles delivered to your feed reader.

Comments

No comments yet.

Leave a comment

(required)

(required)