Three Days (versi cerpen) | Sastra Nusantara

Three Days (versi cerpen)

Post: 26 October 2010 Oleh: (1) Comment

Alidya terdiam membaca rangkaian curahan hatinya. Benarkah dengan tiga hari ia bisa menyadari akan kenyataan ini? Akan hatinya yang kini tertawan oleh sosok pendiam dan bijaksana Randy. Sosok lelaki yang perlahan tapi pasti menyadarkannya akan arti tulus mencintai apa adanya. Yang mengikrarkan padanya bahwa lelaki itu akan menyuntingnya suatu saat nanti. Namun ragu masih merajai hatinya karena sang pangeran hati tak jua memberi kejelasan akan hubungan mereka. Yang ia tahu setiap ditanya orang akan dirinya, Randy pasti menjawab, “ Dia temanku.” Benarkah hanya teman? Pertanyaan itu selalu mengusik nuraninya.

Mungkin ia bimbang. Dan juga ia jenuh dengan segala ke-tidak pasti-an ini. Hatinya pasti mengukirkan nama Randy. Namun ia tak tahu sebaliknya. Karena seorang Randy penuh misteri. Ia tak pernah mampu mendefinisikan bagaimana perasaan lelaki itu padanya. Tapi yang ia tahu dari semua sahabatnya bahwa lelaki itu sudah menyukainya sejak awal tahun ajaran.

***
Apa sebenarnya yang terjadi?!

Pertanyaan itu menari-nari di benaknya. Ia bingung dengan sikap Alidya akhir-akhir ini. Gadis itu kembali pada sikapnya semula. Dingin dan cuek padanya. Ia telah coba bertanya pada dirinya, apa ada yang salah dengan perkataan-perkataannya hingga membuat gadis itu menjauh. Ataukah ada angin fitnah yang berhembus tentangnya sehingga gadis itu menjauhinya? Ia tak tahu. Ia bimbang dengan keterdiaman bidadari hatinya. Ya memang, sejak pertama kali mengenal Alidya, hatinya mantap memilih gadis itu menjadi pendamping hidupnya kelak. Tapi entahlah, akankah itu benar terwujud?

Randy mencoba mengevaluasi diri. Keterdiaman Alidya jelas karena sikapnya. Akhirnya ia teringat perbincangannya dengan gadis itu dua hari yang lalu, dimana saat itu Alidya menelpon temannya yang saat itu bersamanya.

“Dy, kamu di ASPA(Asrama Putra) ya?” Todong gadis itu.
“Iya. Tadi kami habis main bola bareng!” Gadis itu terdengar mendengus kesal.
“Kok gak bilang-bilang sih?! Tadi pas aku telpon ke hp kamu, kamu cuma bilang habis main bola bareng aja, gak ke Asrama!”
“Ya, buat apa aku bilang?! Aku cuma ngejawab apa yang kamu tanya! Jadi gak perlu kan aku mamerin( dari kata pamer) kemana dan dimana aku?!”
“Iya deh ngerti aja!” Ketus gadis itu. Sungguh, ia baru sadar bahwa perkataannya waktu itu telah menyakiti perasaan Alidya.

Ia bingung harus bagaimana. Karena terkadang ia tak mengerti sikap dan sifat Alidya yang manja dan cerewet. Ia hanya bahagia setelah gadis itu membalas cintanya, meski ia tak pernah menyatakannya. Ia dan Alidya sama tahu bahwa mereka sepakat untuk tidak pacaran- itu hasil kesimpulan diskusi mereka beberapa bulan lalu- dan ia tak pernah mengungkapkan secara langsung bagaimana perhatian dan care-nya dia pada gadis itu. Tapi mungkin gadis itu menyadari perhatiannya yang berlebihan menceramahinya ketika gadis itu sakit.
Haruskah aku ungkapkan perasaan ini?! Bukankah kami sepakat untuk tidak pacaran karena itu mendekati zina?! Arkh… Ia mengacak-acak rambutnya. Hatinya sangat galau.

***

Seperti biasa, mereka bertemu di kelas yang sama dan dosen yang sama. Namun tak ada sedetik pun kesempatan baginya untuk berkomunikasi dengan Alidya. Gadis itu selalu sibuk berbincang dengan teman-temannya. Ia jadi serba salah.

Alidya yang saat itu mengenakan kerudung merah, menoleh ke arah Randy. Hanya sekilas. Tapi membuktikan sikap gadis itu terhadapnya. Randy hanya mampu memandang gadis itu dari kejauhan, seperti awal mengenalnya dahulu.

“Al, ke kantin yuk!” Seperti biasa, gadis itu masih selalu berduaan dengan Nina, sahabat terdekatnya. Namun yang membuat hatinya galau ialah diantara mereka ada Sandy, sahabat gadis itu yang juga menyukai Alidya.
Randy hanya mampu diam tak bicara sepatah kata pun. Ia berpura sibuk menulis-nulis -entah apa yang ia tulis-. Beny, sahabat satu-satunya, iba melihatnya. Seolah tahu apa yang di rasakan sahabatnya.
“Dy, udahlah, ini resiko! Kamu sih gak jujur ke dia. Jadi wajarlah dia cuek sama kamu!” Randy menoleh mendengar celotehan sahabatnya.
“Bukan cuma itu Ben, ini lebih kompleks!” Randy menghela napas masygul.
“Lebih kompleks gimana?!”
“ Menurut kamu, sifat Alidya gimana?!”
“Ceria, cerewet, lucu, supel dan lumayan serem kalo lagi marah. Memangnya kenapa?”
“ Ya, karena sifatnya kontras banget sama aku, jadinya aku gak ngertiin dia! Aku udah nyakitin dia Ben!” Beny mengerutkan keningnya. Tak mengerti.
“Nyakitin dia gimana maksudnya?”
“Arkh… Pokoknya gitu deh!” Beny mengerti, sahabatnya dalam kegalauan.
“Makanya, kasih kepastian dong hubungan kalian! Jadian gak, temenan lebih. Pasti dia bingung, shob!” Randy terdiam.
Alidya bertiga dengan Nina dan Sandy asyik bercanda dan makan di kantin. Seolah ia melupakan Randy.
“Al, gimana nih sama Randy? Kok kelihatannya cuek bebek aja?!” Alidya diam mendengar pertanyaan iseng Sandy.
“Udahlah San, jangan di tanya-in masalah Randy!” Nina angkat bicara, melihat keterdiaman sahabatnya.
“Memangnya lagi berantem ya?” Nina mendengus mendengar pertanyaan itu lagi.
“Berantem? Emangnya Tom and Jery yang suka berantem?! Lagian aku sama dia biasa-biasa aja! Nothing special between me and him!” Sandy mengerti, sahabatnya tercinta ini sedang dalam masalah dengan pangeran pujaannya.
“Berarti ada kesempatan dong!” candanya.
“Iya, kesempatan buat jadi tukang ojek!” Ketus Alidya. Sungguh lost contact dengan Randy membuatnya kelimpungan.

Memang beginilah adanya, kepastian dalam ke-tidak pasti-an hubungan mereka. Keduanya menjadi serba salah, satu sisi mereka yakin akan perasaaan satu dengan yang lain, di lain sisi, tak yakin dengan satu dan lainnya.

***

Randy termenung di kamarnya. Mengevaluasi dirinya dari segala khilaf.

Alidya, sang bidadari kecil yang ceria dan lumayan galak. Sosok childish memang sesuai dengannya.Dia yang supel dan cerewet membuat aku menyukainya. Dia yang manja dan tulus ingin menjadi lebih baik, Seorang anak yang ingin ber-evolusi menjadi dewasa, yang berangan ingin menjadi bidadari sungguhan. Sosok manja yang seperti anak-anak. Hatinya polos seputih kapas, impiannya indah, seindah mimpi anak-anak. Tulus hatinya setulus kasih murni anak-anak. Bidadari kecil-ku.

Alidya, mungkin kamu tak bisa menerima sifatku yang berlawanan dengan sifatmu. Kamu yang ceria memang tak seharusnya bertemu aku yang pendiam. Kamu yang banyak teman, tak seharusnya bertemu dengan aku yang selektif berteman.Kamu yang selalu penasaran dan ingin tahu…Ia berpikir sejenak.Mungkinkah seharusnya bertemu aku yang lebih banyak tahu darimu?!

Randy masih tak mengerti akan dirinya. Perbedaan usia yang orang bilang ideal membuatnya tak mengerti pada dirinya sendiri. Sungguh tak pernah ia temui masalah serumit ini.

***

Di waktu yang sama, tempat berbeda. Alidya pun memikirkan hal yang sama dengan Randy. Ia tak mengerti dengan segala kerumitan ini.

Randy, sang pangeran hati yang bijaksana dan dewasa. Kamu yang bisa mengimbangi sifatku yang manja. Kamu yang selalu sabar mendengar celotehan-celotehanku, menjawab pertanyaan-pertanyaanku, sabar berdiskusi dengan aku yang keras kepala. Kamu yang selalu mencoba mneyesuaikan diri dengan diriku.Seolah kamu adalah aku. Tapi hal itu begitu mengusikku. Memang, temanku temanmu juga, sahabatku pun juga sahabatmu. Sungguh aku jenuh dengan semua ini! Dengan semua ke-tidak pasti-an ini. Alidya diam. Ia menemukan jawaban hatinya akan kerumitan ini. Hanya satu, kepastian dalam ke-tidak pasti-an.

***

Alidya duduk di teras gedung kampus sendirian. Nina sahabatnya sedang sibuk dengan urusannya di kantor administrasi. Sandy datang menghampirinya.

“Mana Nina? Tumben gak berduaan!”
“Nina lagi ke bagian administrasi! Memangnya gak boleh ya aku sendirian?!”
“Weleh mbak, jangan ketus gitu dong! Tau deh yang lagi berantem sama ayangnya…”
“Ayang kepalamu peyang?!” Potongnya.
“Iya deh maaf. Tapi aku serius nih Al, kamu masih sayang gak sih sama Randy?!” Alidya menghela napas masygul.
“Masih.”
“Terus kenapa kalian diam-diaman cuek kayak orang gak kenal?”
“Aku cuma mau menenangkan diri dulu San! Aku mau ngoreksi diri aku. Aku jenuh sama ke-tidak pasti-an ini! Kami hanya berteman biasa, tapi hati aku ke dia gak biasa!”
“Aku ngerti kok Al. Kamu cuma butuh tenangin diri kamu biar jernih lagi. Memang susah sih, kalian sama-sama sayang tapi gak mau pacaran.”
“Apa iya dia juga sayang aku?! Akhir-akhir ini dia suka ketus dan jutek sama aku!” Sandy tersenyum. Akhirnya ia tahu pangkal masalahnya.
“ Mungkin dia lagi suntuk kali Al! makanya dia gak sengaja ketus sama kamu. Wajarin aja orang khilaf!”
“Tapi San, waktu itu dia nunjukin ke aku kalo dia gak suka banget dengan sifat-sifat aku!”
“Mungkin dia cuma lagi ngetes kamu, kalo dia ketus ke kamu, kamu bakal gimana?! Biasalah pra-komitmen memang banyak isengnya, maksud aku, suka ngerjain pasangannya!” Alidya terkesima mendengar jawaban sahabatnya. Ia sadar betapa beruntungnya gadis yang di cintai Sandy.
“Kamu ada sayang sama seseorang?” Sandy terkesiap.
“Maksud kamu?”
“Kamu punya gak orang yang kamu sayang?” Sandy terdiam, ada tatapan sendu di mata elangnya.
“Ada. Tapi gak seberuntung kamu! Dia udah punya orang yang dia sayang!”
“Oya?!” Sandy mengangguk mengiyakan.
“Dia udah bahagia sayang sama orang menyayangi dia.” Alidya terus menunggu lanjutan curhat sahabatnya. Mata Sandy berkaca-kaca.
“Sebenarnya banyak orang tahu siapa dia. Kamu juga tahu! Tapi mungkin pura-pura gak tahu.” Ia menghela napas.
“Aku mau denger dari kamu langsung. Siapa dia?” Sandy berusaha kembali ceria.
“Ngaca aja! Kamu pasti ngeliat dia!” Sandy tertawa sumbang. Alidya mengerutkan dahi.
“Jadi, yang aku dengar dari orang-orang itu benar?!” Sandy mnegangguk mantap.
“Maafin…”
“Iya aku ngerti kok! Randy is better than me, he’s the rigth one for u! Kalian pantas bersama.” Sandy tersenyum menatap Alidya. ada ketulusan tersirat di matanya.
“Makasih ya, atas semua pengertiannya. Kamu layak dapat yang lebih dari aku!”
“ Udah tahu kok!” Candanya.

Tanpa mereka sadari ada sepasang mata mengamati keduanya. Sepasang mata itu terluka. Ia menyimpulkan apa yang sebenarnya tak seperti dugaannya.

Jadi karena dia…

Begitulah cinta yang tak pasti. Tiga hari cukup menumbuhkan ragu berjuta prasangka pada kekasih tercinta. Dalam ke-tidak pasti-an hubungan Alidya dan Randy, tersirat satu kepastian tak terkata, yaitu cinta.

18 December’09

Incoming search terms:

  • pengaruh perrtumbuhan primer terhadap pertumbuhan sekunder
  • bagaimana hubungan antara kapasitas tukar kation dengan jumlah yang akan kita berikan
  • sel daun japan gladiol & keterangan nya
  • puisi untuk hubungan yang rumit
  • persen zat organik lumpur tinja
  • peristiwa hijrah nabi muhammad ke thaif ke habasyah
  • perbedaan daun tercemar dan tidak tercemar pada plastisitas
  • pemucatan urat daun pada jagung
  • klasifikasi bakteri phytomonas cattleyae
  • kisah cinta dewasa

Categories: Cerita Bersambung, Cerita Dewasa, Cerita Pendek, Cerita Remaja, Cerita Sahabat


 

If You Like This Post, Share it With Your Friends & Peers

Digg
stumbleupon
Delicious
facebook
twitter
reddit
rss feed bookmar
   

One Comment to “Three Days (versi cerpen)”

  1. CheNk RahMan says:

    Keren sob…
    Salam kenal, From: Chenk Rahman

Leave your comment here: