Posted on 15 February 2011 by
admin
Aku lahir dari resah desah angin dan gelisah musim
Yang menahan debar yang kapan saja bisa runtuh
Entah angin musim seperti apa lagi
Yang akan mengurungku di setiap tikaman waktu
Pada esok
Entah musim seperti apa lagi
Yang akan memajang bukit pasir di gurun yang lain
Gurun yang belum jua ku beri nama
Sampai tiupan sangkakala musim tak kunjung lembab
Saat kemarau berkepanjagan
Berharap membasahi dahaga
Aku pergi dengan sejuta kata yang tercuap
Ketika gemuruh dada ini gundah merentak rentak
Meregang bingung karena rindu
Ku ingin berpetualang
Untuk menanam kembali mata air di gurun pasir yang dingin
sending by: aprinol zikri
Incoming search terms:
- faktor membuka tutupnya stomata tumbuhan cam
- biar kusimpan kerinduan ini sampai saatnya tiba
- puisi resah gelisah
- puisi kata desah
- puisi judul berpetualang
- puisi beserta parafrasenya
- ph rawa asam setelah kemarau
- Desah sajak
- desah musim
- contoh puisi musim
Categories: Alunan Puisi, Puisi Cinta, Puisi Doa, Puisi Harapan, Puisi Kenangan, Puisi Malam
Posted on 22 December 2008 by
admin
Dari langit setiap saat wahyu turun ke dalam kalbumu,
“Bagaikan sampah berapa lamakah usia hidupmu di atas bumi? Naiklah!”
Sesiapa yang beban jiwanya berat, pada akhirnya akan menjadi sampah.
Apabila sampah memenuhi tong, bersihkan!
Janganlah lumpur itu dibuat kewruh setiap kali,
Agar air kolammu jernih dan sampah mudah dibuang dan dukamu sembuh.
Demikian roh, bagaikan obor, asapnya lebih tebal dibanding cahayanya.
Apabila gumpalan asap lenyap, cahaya dalam rumah tak akan dipermainkan lagi.
Kau sentiasa bercermin ke dalam air keruh,
Kerana itu bukan bulan ataupun matahari kau lihat
Apabila kegelapan menutup langit, matahari dan bulan tak nampak.
Angin utara bertiup, udara segar.
Untuk membawa udara segar angin sepoi bertiup pada waktu subuh.
Angin roh bertiup membuat segar dada yang sesak disebabkan derita.
Nafas ringan terhela dan jiwa rasa hampa.
Di bumi roh ialah pengembara asing, negeri tanpa ruang itulah yang ia rindukan,
Mengapa nafsu amarah sentiasa gelisah?
Roh suci, berapa lamakah kau akan mengembara di bumi?
Kau elang raja, terbanglah kembali kepada siul Baginda!
Judul Ilustrasi by Fadlie
Puisi by Jalaluddin Rumi
Incoming search terms:
- puisi beban hidup
- artikel analisis reaksi bunga pagoda dicampur dengan larutan etanol
- mengapa pada siang hari langit tampak biru dan pada sore hari langit tampak kemerah-merahaan
- ptt bunga matahari( helianthus annuus)
Categories: Puisi Rumi
Posted on 18 December 2008 by
admin
Masih ingat lagi tak, denganku? namaku Banyu
Ada berapa dengan kabarmu
Kita pernah bertemu tatkala cuaca kadung gelisah
Menghitung peruntungan yang kau bawa, pelanpelan
Dan kau bubuhkan dalam tanda lingkaran di almanak perlawanan
Membawa nyala api sebuah huruf
- sulit kubaca, maaf
Aku jenuh, tulismu di kacamata minusku
Memaksa aku sadar bahwa aku perempuan
Dan kau bukan perempuan
Tak sekedar dari kerudung yang kukenakan
Sebuah puisi, maka bacalah!
Agar urung kau gunting harapan yang tengah mekar
Agar jenuhmu berpendar
Dan aku kian sadar
Ternyata aku bukan siapasiapa
Danau UI Depok, November 2006
Incoming search terms:
- syair jenuh
- syair kejenuhan
- puisi kejenuhan sebuah harapan
- sair jenuh
Categories: Alunan Sajak, Sajak Syair
Posted on 2 December 2008 by
admin
Aku akan pulang membawa kegelisahan
dalam rindu yang mencemaskan, adakah
kau simpan luka lama dengan merampungkan
kenangan kelam, dari masa telah terlewati
pada perantauan asing di segenap hati
Rumah telah tertutup pada mimpi buruk
rontoklah hari demi hari dari dongeng ngeri
cerita tentang kemurungan negeri terbaca
selalu meramu mitos-mitos pemikiran semu
mengurung niat yang terlintas hanya kejemuan
Aku akan tetap pulang, segera menghabiskan
semua huruf dalam kamus kehidupanmu, hingga
bakal mengerti, bahwa ternyata selama ini
aku tak jauh dari bacaanmu, pada setiap ucapmu
selalu mengandung kerinduan untuk kepulanganku
Puisi-Puisi Akhmad Sekhu
untuk Abdul Aziz, kakakku
Incoming search terms:
- nematoda bintil akal dan gejala serangan
Categories: Alunan Puisi
Posted on 2 December 2008 by
admin
Apakah kita sampai dalam dasar kolam, gelisah
berkaca permukaan tak karuan, letih menyelami
tanpa harapan hingga makin buyarkan pandang
didepak sinar terjerembab kegelapan mendasar
Terhadap riak-riak gelombang, kita mengalir
menepi sampai ke tepi dari keramaian dunia air
ternyata banyak pilihan yang membingungkan
tak sempat untuk dapat menata diri kembali
betapa kita butuh bernafas lebih bebas lagi
Berkaca lebih bersih di atas permukaan kolam
pasrah karunia atau bencana yang akan tumpah
kita tetap menajamkan pandangan kehidupan
Puisi-Puisi Akhmad Sekhu
Incoming search terms:
- puisi bencana alam
- puisi peristiwa alam
- puisi tentang peristiwa alam
- kumpulan puisi bencana alam
- contoh puisi tentang bencana alam
- puisi tentang pertanian
- kumpulan puisi tentang bencana alam
- contoh puisi bencana alam
- Contoh puisi bencana
- contoh puisi kerusakan alam
Categories: Alunan Puisi, Alunan Sajak
Posted on 2 December 2008 by
admin
Bersamamu menyusuri sebuah kota
Tua, betapa kita merasa semakin tua saja
Sepanjang jalan adalah usia yang berlepasan
Dari detik demi detik mengalir tiada henti
Satu demi satu mengelupas seperti rasa cemas
Menguakkan kesadaran yang telah lama karam
Ada yang terasa hilang saat kita tergelak
Tawa, kebahagiaan yang sulit diterjemahkan
Menjelajah malam penuh gemerlapan, tapi miris hati
Tercabik lirikan genit perempuan malam pinggir jalan
Senyumnya kaku betapa hampa membekukan suasana
Tak ada percakapan tentang baik-buruk, cantik-jelek,
Atau alim-pelacur, tapi ia akan tetap berhak menyandang
Sebutan ibu, keagungan sebuah martabat paling hakekat
Meski telah menelantarkan kesemua anak-anaknya
Terlunta-lunta di kolong kota tanpa ayah dan kasih sayang
Roda kehidupan yang semakin bergulir menuju jaman akhir
Dan kita pasrah, tak bisa menolak ataupun mungkir
Kota, apakah masih mampu menanggung beban zaman
Tak bisa mengulang kembali menjadi lautan api
Sekarang sudah terlalu uzur untuk kembali bertempur
Gedung-gedung telah menutup pintu-jendela
Juga orang-orang telah lelap dalam mimpi gemerlapnya
Tapi kita masih setia menjaga tanya
Hanya kata-kata yang bisa dijadikan teman
Lihatlah, ada bocah selalu gelisah tak mampu merubah
Nasibnya yang telah terjepit di antara kenyataan pahit
Tapi semangatnya tetap berapi-api menuangkan energi kreatif
Rangkaian kata-kata yang ditulisnya dijadikan senjata
Puisi-Puisi Akhmad Sekhu
Catatan bersama Nur Ikhsan Suryakusumah
Bandung, 24 Maret 2008
Incoming search terms:
- penamaan dari struktur golongan flavonoid
Categories: Alunan Puisi