Posted on 22 December 2010 by
admin
Judul: Ibu
Oleh: Ahmad Sholihin
Ibu…..
ketika ku mengingatmu
ku terasa sepi
karna jauh dari tempat tinggalmu
jauhmu tak bisa menghapus atas jasamu
yang sungguh mulia
ku menerawang melalui sinar mentari
yang menerobos celah bilik yang sempit
anginpun menghantarkan rinduku pada ibu
rindu yang berisikan doa dan asa
Ibu….
maafkanlah
ku tak bisa bertemu
agar kau sehat selalu
asamu tak munkin terhutung
dau-daun dan lautanpun tak cukup dijadikan bahan baku tuk dijadikan bahan baku mencatat jasa-jasamu
aku selalu ingat dan merasakan
belaianmu yang masih hangat
Ibu…
ketika ku mengingatmu
ku terasa sepi
karna jauh dari tempat tinggalmu
jauhmu tak bisa menghapus atas jasamu
yang sungguh mulia
ku menerawang melalui sinar mentari
yang menerobos celah bilik yang sempit
anginpun menghantarkan rinduku pada ibu
rindu yang berisikan doa dan asa
Ibu….
maafkanlah
ku tak bisa bertemu
agar kau sehat selalu
asamu tak munkin terhutung
dau-daun dan lautanpun tak cukup dijadikan bahan baku tuk dijadikan bahan baku mencatat jasa-jasamu
aku selalu ingat dan merasakan
belaianmu yang masih hangat
Incoming search terms:
- puisi pendek untuk ibu
- puisi singkat tentang ibu
- puisi pendek tentang ibu
- puisi pendek ibu
- puisi bersajak laut
- puisi laut
- puisi pendek
- puisi sederhana untuk ibu
- puisi singkat ibu
- puisi pendek tentang laut
Categories: Puisi Cinta, Puisi Doa, Puisi Harapan, Puisi Pahlawan, Puisi Penantian, Puisi Sahabat, Puisi Semangat
Posted on 30 April 2009 by
admin
hujan…..
sampaikan pada rintikmu
kemuara rindu
yang selama ini terpendam
luapan rasa terdalam
pada dia yang tak pernah tau
rintihan tangis kalbu
angin……..
bisikan ditelinganya
cinta ini semakin mengelora
rindu ini semakin menghimpit jiwa
mentari……….
ku yakin engaku begitu agung
selalu bagikan hangatmu
pada jiwa yang mengigil
akan kasih dan sayang
kau begitu perkasa
terpakan sinarmu
pada lidah kelu
tuk urai kata aku cinta padamu
From: “TRI ULAN TAIPEI CITY”
Categories: Puisi Cinta, Puisi Harapan, Puisi Malam, Puisi Sahabat, Puisi Umum
Posted on 6 February 2009 by
admin
ketika lelah kaki berpijak, ketika hati tak mampu menahan segala kesedihan, ku rebahkan tubuhku dalam alunan cinta nya yang begitu hangat mendekap. lama menanti mata ini terlelap, ku pandang biru nya langit bertabur bintang dan berhias langit, ku tatap wajahnya yang terukir dalam hatiku, yang tanpa terasa membawa ku kedalam sebuah impian dan angan-angan.
kulihat sekeliling ku yang kini kian gelap nan sepi, ku rasakan aroma yang tak pernah ku rasakan slama ini, ku pandang cahaya yang tak pernah redup dalam hatiku, aku bermimpi. ketika kain tebal yang membalut sekujur tubuhku tak mampu lagi menahan dinginnya malam ini, ku hanya mampu bersenandung tuk mengingat nya, serasa ia hadir tuk menemani ku malam ini. tanpa kusadari ia tlah membawa ku ke sebuah singgasana yang nan jauh di sana.
sambutan yang begitu hangat dari para bidadari dan malaikat, yang seakan memberi jalan bagi ku dan nya. belum lama aku merasakan indahnya sebuah kebahagiaan bersamanya, kini ia menghilang dan pergi entah kemana dan bersama siapa. lelehku kian menderu dan tak dapat terbelenggu, hatiku terbakar padam cemburu, fikiranku melayang bersama hilangnya angan dan harapan. aku tenggelam dalam celaan dan tertawaan sang bintang, jeritan hewan malam memekakan gendang telingaku. yang hingga akhirya mentari menyambutku dengan cemooh, celaan, serta hinaan yang membuatku termenung dan terus bertanya
“pantaskah aku bersanding bersamanya?”
“haruskah dia pergi meninggalkanku?”
“mampukah hati ini untuk terus menantinya?”.
lamunan ku mulai terganggu dengan ocehan parkit yang sedang bertengger di sebuah ranting “dasar pria bodoh, malang, dirimu bukan ikan yang haus akan kebahagiaan, dirimu juga bukan burung yang mampu terbang mengejar impian”.
kicauan yang terus terulang hingga datang sebuah keyakinan dari bisikan hembus angin bahwa aku bukan untuk dirinya, aku bukan air yang mampu menghilangkan dahaganya dengan cinta, aku bukan sesuap nasi yang mampu mengenyangkannya dengan kerinduan, dan aku bukan sebuah pakaian yang mampu bersamanya dalam kesetiaan.
Sending by Noor M.A
Thursday, February 5, 2009 1:31 PM
Incoming search terms:
- mimpi arti puisi
- puisi malam buat PdKt
Categories: Cerita Cinta, Cerita Pendek
Posted on 26 December 2008 by
admin
sungguh terlalu sulit tuk nggak menikmati hangatnya mentari…….,
bgitu sejuk menghangatkan jiwa yang kelam……,
ditemani sang bidadari nan elok cantiknya, membuat hangat seluruh raga……,
tak lagi ada mala untuk meninggalkan ranjang mungil,,,,,,,,
begituuuuuuu sejuk.,
tapi itu dulu…….,
sekarang……………,
mentari pun tak lagi mau
menghangatkan raga ini
tak lagi mampu mengembalikan jiwaku
yang lama menjadi kelam
reruntuhan daun yang kering
kadang ranting mengikuti…….,
aku yang mulai terdampar
kini mencoba memulai
merayap untuk menggapai
dan menanti kembali
hangatnya mentari
yang bisa bangunkan kelam jiwa ini
meski tidak sehangat saat sang bidadari elok menemani dulu
Incoming search terms:
- puisi bersajak tentang matahari
Categories: Puisi Cinta