Posted on 29 December 2009 by
admin
Setelah Sembilan tahun Muhammad diangkat sebagai Rasulullah, beliau masih menjalankan dakwah di kalangan kaumnya sendiri disekitar kota Makkah untuk memperbaiki pola hidup mereka. Tetapi hanya sebagian kecil saja orang yang bersedia memeluk agama Islam atau bersimpati kepadanya, selebihnya selalu berusaha dengan segala daya upaya untuk mengganggu dan menghalangi beliau dan pengikut-pengikutnya. Di antara mereka yang bersimpati dengan perjuangan Nabi adalah Abu Thalib, paman beliau sendiri, namun sayangnya ia tidak pernah memeluk agama Islam sampai akhir hayatnya.
Pada tahun kesepuluh setelah kenabian Abu Thalib wafat. Dengan wafatnya Abu Thalib ini, pihak kafir Quraisy merasa semakin leluasa mengganggu dan menentang Nabi saw.
Tha’if merupakan kota terbesar kedua dikawasan Hijaz. Di sana terdapat Bani Tsaqif, suatu kabilah yang cukup kuat dan besar jumlah penduduknya. Rasulullah saw pun berangkat ke Tha’if dengan harapan dapat membujuk Bani Tsaqif untuk menerima Islam, dengan demikian beliau akan mendapatkan tempat berlindung bagi pemeluk-pemeluk Islam dari gangguan kafir Quraisy. Beliau pun berharap dapat menjadikan Tha’if sebagai pusat kegiatan dakwah. Setibanya disana, Rasulullah saw mengunjungi tiga tokoh Bani Tsaqif secara terpisah untuk menyampaikan risalah Islam. Namun yang terjadi, mereka bukan saja menolak ajaran Islam, bahkan mendengar pembicaraan Nabi saw pun mereka tidak mau. Rasulullah saw diperlakukan secara kasar dan biadab. Sikap kasar mereka itu sungguh bertentangan dengan kebiasaan bangsa Arab yang selalu menghormati tamunya. Dengan terus terang mereka mengatakan bahwa mereka tidak senang Rasulullah saw dan pengikutnya tinggal di kota mereka. Semula Rasulullah membayangkan akan mendapat perlakuan yang sopan diiringi tutur kata yang lemah lembut, tetapi ternyata beliau diejek dengan kata-kata kasar.
Salah seorang diantara mereka berkata sambil mengejek, “Benarkah Allah telah mengangkatmu menjadi pesuruh-Nya?”. Yang lain berkata sambil tertawa, “Tidak dapatkah Allah memilih manusia selain kamu untuk menjadi pesuruh-Nya?”.
Incoming search terms:
- puisi orang ketiga
- dakwah di thaif
- konversi pupuk bokashi 3 ton
- puisi perjalanan nabi muhammad
- puisi tentang orang ketiga
- puisi untuk orang ketiga
- sejarah nabi muhammad Hijrah ke thaif dan habasyah
- tips memperbesar botol minyak 35liter menjadi 50 liter
- mengapa kadar air berat basah dikurang berat kering dan dibagi kembali dengan berat keringpada tanah
- paman nabi yang kapir mendukung perjuangan
Categories: Cerita Sahabat
Posted on 24 December 2009 by
admin
HIJRAHNYA KAUM MUSLIMIN KE HABASYAH
Permusuhan dengan kaum kafir menyebabkan penderitaan dan kesu-sahan kaum Muslimin semakin bertambah. Akhirnya Rasulullah saw. meng-izinkan mereka meninggalkan Makkah. Banyak para sahabat yang hijrah ke negeri Habasyah, walaupun pada saat itu Habasyah dipimpin oleh seorang raja Nasrani pada waktu itu dia belum memeluk Islam yang terkenal karena kasih sayang dan keadilannya.
Pada bulan Rajab tahun ke-5 sejak Rasulullah saw. menjalankan dakwah, rombongan pertama telah diberangkatkan ke Habasyah. Rombongan itu berjumlah kurang lebih 12 orang lelaki dan 5 orang wanita. Orang-orang kafir Quraisy pun segera mengejar untuk menghalangi kaum muslimin, namun mereka tiba di pelabuhan setelah kapal kaum muslimin bertolak.
Setibanya di Habasyah, rombongan kaum muslimin mendengar kabar burung bahwa seluruh orang Quraisy telah memeluk Islam dan Islam telah mendapat kemenangan. Mendengar berita itu, mereka sangat gembira. Mereka pun memutus-kan untuk kembali ke tanah air mereka. Tetapi ketika hampir tiba di Makkah mereka mendapati bahwa berita itu hanya tipuan belaka. Karena ternyata gangguan dan permusuhan terhadap orang-orang Islam tidak berkurang sedikit pun. Dengan terpaksa mereka segera berlayar kembali ke Habasyah, sedangkan sebagian dari mereka terus memasuki kota Makkah dengan perlindungan orang yang berpengaruh. Peristiwa ini dikenal dengan nama hijrah ke Habasyah yang pertama.
Incoming search terms:
- hijrah ke habasyah
- hijrah ke habsyah
- hijrah nabi muhammad ke habasyah
- cerita novel kalau tak untung
- kisah hijrah nabi muhammad ke habasyah yang ke dua
- kalau tak untung
- puisi bulan rajab
- puisi darah pelajar
- perjalanan nabi ke habasyah
- orang yang ikut hijrah pertama ke habsyah
Categories: Cerita Islami, Cerita Sahabat
Posted on 27 May 2009 by
admin
Judul: Dustakah Jika Aku Berpaling
Oleh: Noor M.A
Dustakah aku..
Ketika wajah ini ku palingkan..
Diam..
Kutengadahkan hasta ini..
Masih mengharap cintamu..
Yang tak pernah terhapuskan..
Incoming search terms:
Categories: Puisi Cinta, Puisi Harapan, Puisi Kenangan, Puisi Semangat, Puisi Umum, Sajak Melayu, Sajak Syair
Posted on 3 May 2009 by
admin
dibangku waktu
aku menuggu
sebuah kepastian janji semu
hari….bulan…tahun berlalu
janji lidah tak bertulang
sekejap jua hilang
tak pernah terpatri
dalam hati hutang janji
wahai….durjana
jangan terlontar kata
bila hanya sebuah dusta
jangan ucap janji manis
bila hanya berbau amis
lelah jiwa ini
letih raga ini
menunggu dan selalu menunggu
kepastian janji semu
Incoming search terms:
Categories: Puisi Cinta, Puisi Harapan, Puisi Penantian, Puisi Sahabat, Puisi Umum
Posted on 24 February 2009 by
admin
Telah ku katakan padamu..
Semua isi hatiku..
Telah ku akui..
Hanya drimu yang ku cintai..
Tak dusta aku padamu..
Terkadang hatiku cemburu..
Kini ku percaya..
Diriku dan dirimu semata..
Yang sedia berbagi duka..
Maupun cinta tuk slamanya..
Meski badai kan menerpa..
Ku cuba tuk lalui bersama..
Ku kan menyinari hatimu..
Meski kobaran api melukaiku..
From: “Noor M.A”
Tuesday, February 24, 2009 4:24 PM
Categories: Puisi Cinta